• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Nasional

PWNU Jateng: Rayakan Tahun Baru Hijriah untuk Luruskan Perselingkuhan Budaya

PWNU Jateng: Rayakan Tahun Baru Hijriah untuk Luruskan Perselingkuhan Budaya
Peringatan Tahun Baru Islam di Mapolres Jepara (Foto: NU Online Jateng/Samsul Huda)
Peringatan Tahun Baru Islam di Mapolres Jepara (Foto: NU Online Jateng/Samsul Huda)

Jepara, NU Online Jateng
Tradisi merayakan peringatan tahun baru hijriah harus dapat menumbuhkan semangat umat Islam untuk berjihad meluruskan perselingkuhan budaya bangsa yang terjadi di bumi Indonesia.


Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Nasrullah Affandi mengatakan, kegiatan perayaan tahun baru hijriah setiap tanggal 1 Muharram adalah jihad budaya yaitu meluruskan perselingkuhan budaya bangsa kita.


“Kita tahu, setiap perayaan 1 Januari atau tahun baru masehi bangsa kita digerus budayanya, entah siapa yang dulu mengawali dengan beragam hura-hura, tiup terompet, pergaulan bebas, dan minum minuman keras, hingga seks bebas,” kata Gus Nasrul.


Gus Nasrul  mengatakan hal itu saat  menyampaikan taushiyah dalam peringatan tahun baru Islam 1444 H di Masjid Polres Jepara, Jumat (29/7). Hadir dalam acara itu pimpinan Polres Jepara dan para kapolsek dan anggota Polres Jepara.
 

Disampaikan, umat Islam sebagai warga negara mayoritas di negara Indonesia kini saatnya mengobarkan semangat jihad budaya dengan mempromosikan arti pentingnya tahun Hijriah kepada para generasi muda.


"Bisa  diawali dengan menyadarkan kepada anak-anak kita dan orang-orang dekat sekitar kita bahwa inilah tradisi yang harus dibanggakan, yaitu merayakan malam 1 Muharram atau tahun baru Islam dengan melakukan hal-hal positif, berdoa, berdzikir, dan bershalawat," terangnya kepada NU Online Jateng, Senin (1/8/2022).


Dengan demikian lanjutnya, pada kurun waktu beberapa tahun ke depan diharapkan semarak memperingati tahun baru Islam menjadi semakin besar dan mentradisi di ruang publik  dengan aktivitas doa bersama dan pengajian akbar, seperti peringatan maulid Nabi, atau peringatan Isra Mi’raj.


"Langkah ini sebagai upaya menghentikan perselingkuhan budaya generasi muda kita yang dengan gegap gempita penuh dengan hura-hura dan foya-foya setiap datangnya tahun baru masehi atau setiap 1 Januari," ucapnya.


"Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, di Indoinesia sangat berlebihan, hura-hura dan foya-foyanya hingga kemaksiatannya saat merayakan datangnya tahun baru masehi," pungkasnya.


Penulis: Samsul Huda


Nasional Terbaru