• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 28 Februari 2024

Fragmen

NU Blora Cabang Pertama

NU Blora Cabang Pertama
Kantor PCNU Blora di komplek alun-alun Kota Blora (Foto: Istimewa)
Kantor PCNU Blora di komplek alun-alun Kota Blora (Foto: Istimewa)

Siapa sangka bahwa NU Blora menjadi cabang pertama di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, NU cabang Blora berdiri tahun 1927 M. Ini berarti cabang di sana berdiri setelah setahuan NU dilahirkan, yakni 31 Januari 1926 M, di Surabaya.   


NU Cabang Blora dipusatkan di Desa Kidangan, Kecamatan Jepon. Namun, demi untuk kemajuan organisasi, akhirnya mulai tahun 1930 NU Cabang Blora dipindahkan dari yang semula berkedudukan di Kidangan ke Kota Blora. Demikian catatat yang dikemukakan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jepon-Blora Imam Syaerozi. 


”Berdasarkan catatan berita dari majalah Lailatul Idjtima Nahdlotoel Oelama (LINO) yang dikeluarkan pada awal Mei 1971 disebutkan bahwa NU Cabang Blora berdiri pada tahun 1927 dan pusatnya di Kidangan,” ungkap Syaerozi.   


Menurutnya, karena merupakan cabang pertama, peresmian NU Cabang Blora tersebut sempat mendapat perhatian luas dari kalangan umat Islam. Ribuan masyarakat hadir pada acara itu. Bahkan, pada acara peresmian NU Cabang Blora tahun 1927 langsung dihadiri KH Wahab Hasbullah, KH Asjhary dan KH Abdullah Ubaid.   


Saat itu, yang menjadi pengurus cabang pertama tersebut adalah ketua Kiai Makshum, Sekretaris Sudjak (seorang pensiunan komandan polisi), bendahara Tjipto, Pembantu Chasan Hardjo. Untuk syuriyah dipercayakan kepada Kiai Muntaha, Kiai Muzayyin, H Zaenuri dan Kiai Tamzis.   


Saat NU didirikan di Blora, Belanda masih bercokol. Sehingga usaha-usaha yang dilaksanakan NU Cabang Blora sering mendapat hambatan dan rintangan dari Belanda. Bahkan, Kiai Ma’shum selaku pendiri NU Cabang Blora pernah ditahan oleh Belanda.   


Adapun usaha-usaha yang dilaksanakan pengurus pada waktu itu antara lain mendirikan jamaah di desa-desa yang belum ada masjidnya. Kemudian pengurus juga mendirikan masjid dan madrasah di sejumlah desa. Seperti Masjid Brumbung, Masjid Kidangan, Masjid Puledagel dan Masjid Tempel. Peninggalan yang berupa madrasah, antara lain Madrasah Ibtidaiyah Kidangan dan Madrasah Ibtidaiyah Jetis.   


Masih menurut informasi dari LINO lanjut Syaerozi, mulai tahun 1930 NU Cabang Blora yang berkedudukan di Kidangan dipindahkan ke Kota Blora. Selain itu juga dilakukan penyempurnaan kepengurusan. Seperti Ketua Umum Kiai Ma’shum, Wakil Ketua Umum H Asjhary. Karena minimnya informasi, untuk sekretaris tidak diketaui, dan Bendahara H Busyro dan H Suyuti.   


”Generasi penerus NU di Jepon, khususnya Kidangan memiliki beban berat untuk mengembalikan kejayaan NU seperti era tahun 1927 an ,” tambahnya. 


Walaupun demikian, kita masih menunggu versi sejarah lain yang mungkin belum ditemukan. Kita tahu, Singosari-Malang, Madura, Jakarta, Lasem-Rembang, atau Jombang dan Surabaya sendiri adalah kota-kota di mana memiliki basis utama NU di masa-masa awal berdiri. 


Pengirim: Sholihin Hasan


Fragmen Terbaru