• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Tokoh

Mengenal Penulis Kitab Maulid Simthudduror Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi

Mengenal Penulis Kitab Maulid Simthudduror Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi
Kitab maulid Simthudduror karya Habib Ali bin Muhmaad Al-Habsyi (Foto: Istimewa)
Kitab maulid Simthudduror karya Habib Ali bin Muhmaad Al-Habsyi (Foto: Istimewa)

Setiap bulan maulid atau minimal sekali dalam sepekan, lantunan syair yang termaktub dalam Kitab Maulid Simthudduror selalu bergema di sudut-sudut masjid maupun mushala di wilayah Pekalongan dan sekitarnya. Selain kitab Al-Barzanji atau Dhiba, kitab Maulid Simthudduror menjadi bacaan pilihan sebagian besar kaum nahdliyin baik dalam aktivitas rutin mingguan maupun pada even-even peringatan maulidurrasul.


Maulid simthudduror ini juga biasa disebut masyarakat dengan sebutan maulid al-habsyi yang merujuk pada nama pengarangnya. maulid ini memiliki judul asli 'Simtudduror fi akhbar Maulid Khairil Basyar min akhlaqi wa aushaafi wa siyar' dan disingkat dengan nama simthudduror. 


Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi yang merupakan penyusun maulid ini adalah seorang ulama besar dan waliyullah asal Hadramaut, Tarim, Yaman. Habib Ali lahir pada tahun 1259 H / 1839 M dan wafat pada tahun 1333 H / 1913 M. Silsilah nasab dan garis keturunannya bersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Habib Ali mengarang maulid ini pada usianya yang ke 68 tahun. berkat karyanya ini Habib Ali Habsyi dijuluki sahibul maulid Simthudduror. Kitab maulid simthudduror ini berisi syair syair tentang kisah perjalanan hidup dan pujian kepada Baginda Rasulullah SAW dengan bahasa yang indah dan penuh makna.


Pada tanggal 14-16 November 2022 Kawasan Masjid Ar-Riyad Pasar Kliwon Solo selalu menjadi pusat kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan sekaligus Haul Solo. Di belakang Masjid A-Riyad bersemayam 3 makam ulama yakni yakni makam Habib Alwi bin Ali, Habib Ahmad bin Alwi, dan Habib Anis bin Alwi. Mereka adalah keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.


Kawasan yang terletak di Jalan kapten Mulyadi selalu penuh sesak dengan ribuan umat muslim dari berbagai daerah. Tak hanya berasal dari Indonesia, para jemaah muslim juga berasal dari Singapura, Yaman, hingga Afrika. Mereka rela berdesak-desakan untuk mengikuti acara Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.


Lantas siapa sebenarnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang mampu mendatangkan ribuan umat dari berbagai daerah tersebut? 


Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi adalah seorang keturunan Nabi Muhammad saw yang lahir pada tanggal 24 Syawal 1259 Hijriah atau pada tahun 1839 Masehi di Desa Qosam, Hadhramaut, Yaman. Habib Ali terlahir dari pasangan Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi dan Habibah Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri.


Nasab mulia Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tidak perlu diragukan lagi. Sebab, dalam Manaqib Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, nasabnya tersambung melalui jalur nasabnya Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah az-Zahra binti Muhammad bin Abdillah.


Dalam manaqib tersebut diceritakan bahwa ketika Habib Ali berusia tujuh tahun, ayahnya pindah ke Kota Makkah bersama ketiga anaknya yang sudah dewasa yakni Abdullah, Ahmad, dan Husein. Ketika Habib Ali berumur 11 tahun, bersama sang ibu hijrah ke Seiwun untuk memperdalam ilmu Fiqih dan ilmu-ilmu lainnya. Kepindahan tersebut sesuai apa yang diperintahkan Habib Umar bi Hasan bin Abdullah Al-Haddad.


Habib Ali dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang salihah yang amat bijaksana.


Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur'an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu dzahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu dirinya diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.


Habib Ali melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan, dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.


Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid 'Riyadh' di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.


Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan saja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.


Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majelis-majelis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.


habib Ali meninggal dunia di Kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabiul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.


Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid 'Riyadh' di Kota Solo. Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapapun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Habib Alwi meninggal dunia di Kota Palembang pada tanggal 20 Rabiul Awal 1373 H dan dimakamkan di Kota Solo.


Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.


Dan di antara karangan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil yang berisi kisah maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul 'Simthudduror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya). Habib Ali mengarang kitab tersebut pada Kamis 26 Safar 1327 H dan disempurnakan pada 10 Rabiul Awal 1327 H. (*)


Dipetik dari Untaian Mutiara – Terjemahan Simthudduror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi
 


Tokoh Terbaru