• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Tokoh

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Penulis Kitab Maulid Simthudduror yang Dicintai Rasulullah

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Penulis Kitab Maulid Simthudduror yang Dicintai Rasulullah
Foto: Ilustrasi (istimewa)
Foto: Ilustrasi (istimewa)

Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al-Habsyi pada tausiahnya di acara 'Haul Solo' ke-111 tahun 2022 menyampaikan ketokohan pengarang Maulid Simthudduror Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Menurutnya, Habib Ali adalah seorang yang shalih, hidupnya hanya untuk berdakwah, memberikan kemaslahatan untuk umat baginda Nabi Muhammad Saw.


“Habib Ali bin Muhammad merupakan teladan bagi kita, hidupnya dihabiskan untuk berdakwah, mengamalkan ajaran Rasulullah sehingga pada usia 22 tahun Habib Ali sudah berziarah ke makam Nabi Muhammad Saw dan bertemu dengan Shahibul Makam penutup kenabian Saw," ujarnya. 


Habib Ali lanjutnya, seorang yang dicintai dan diridhai oleh Rasulullah Saw. Sehingga ada seorang ulama dari Maroko bermimpi hingga 3 kali dan bertanya dengan pertanyaan yang sama siapa yang engkau cintai wahai Rasulullah di zaman ini, tiada lain adalah Habib Ali bin Muhammad (Shahibul Simthudduror) pada masa hidupnya yang mendirikan Ribath pertama di Sewun, Yaman. Hingga kini manfaatnya kita dapat rasakan bersama,” Ungkap Cucu Habib Anis di hadapan ribuan pecinta Shahibul Haul Solo.


Habib Ali bin Muhammad mengekspresikan kecintaaanya kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan karya Maulid Simthudduror yang sangat luar biasa hingga saat ini terus digemakan karyanya oleh muhibbin maulid di Indonesia.


“Habib Ali mendapatkan ikrar cintanya dari Rasulullah Saw. Pada usia 68 tahun Habib Ali bin Muhammad menuliskan ekspresi cintanya kepada Rasulullah Saw. Murid Habib Ali dan membacakan di Makam Rasulullah Saw. Hingga Bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad, dibaca oleh Rasulullah dari awal hingga akhir. Tentunya bagi mereka yang membacanya akan mendapatkan berkahnya Rasulullah,” terang Habib pengampu Channel Habib Muhammad Al-Habsyi.


Habib Ali bin Muhammad sebagai penyambung sanad keilmuan Ulama Nusantara hingga kini, pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asyari berguru dengan sanad yang terjaga.


“Ulama Nusantara, sanad keilmuan mereka sampai kepada habib Ali bin Muhammad. Kiai Hasyim Asyari, Tasniful Asma dikatakan berguru kepada habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, mencari keturunan gurunya mendatangi habib Alwi Solo. Dari Jombang ke tempat saat ini kita Haul. Mengatakan kepada Habib Alwi bahwa aku murid dari paman engkau ya habib Alwi,” ucapnya.


Disampaikan bahwa Sahabat habib Ali bin Muhammad yang bernama Habib Abdul Qodir bin Qidban bermimpi bertemu Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, sampaikan salamku kepada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Simthudduror). Sehingga dengan kecintaan kepadanya maka dibacakan manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani di Majelis Ilmu wal Muzakarah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.


Diketahui, meskipun tidak terlalu luas Masjid Riyadh yang terletak di Jalan kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, Solo memiliki nilai yang agung bagi para peserta haul. Terdapat tiga makam di Masjid Riyadh, yakni makam Habib Alwi bin Ali, Habib Ahmad bin Alwi, dan Habib Anis bin Alwi. Mereka adalah keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Ayah Habib Ali merupakan mufti di Kota Makkah, Arab Saudi. 


Nama Habib Ali dikenal tak hanya di Indonesia, namun sampai di berbagai negara. Haulnya setiap tahun diadakan di Ribath Ilmi Kota Seiwun, Yaman yang saat ini dipegang oleh Munsib Habib Ali bin Abdul Qodir bin Muhammad bin Ali (Shahib Simthudduror) bin Muhammad (Mufti Makkah) Al-Habsyi dan diikuti oleh jamaah dari berbagai belahan penjuru dunia hingga kini.


Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat pada tanggal 5 Mei 1928. Ayahnya, Habib Alwi merupakan putera dari Habib Ali Al-Habsyi (Muallif Simthuddurar) yang hijrah dari Hadramaut Yaman ke Indonesia untuk berdakwah. Sedangkan ibunya bernama Khadijah. Ketika Habib Anis berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo, sampai akhirnya menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.


Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah yang juga berada di samping sekolahannya. Habib Anis tumbuh menjadi seorang pemuda nan alim dan berakhlak luhur. Habib Ali Al-Habsyi, adik beliau menyebut kakaknya seperti 'anak muda yang berpakaian tua'.


Habib Anis juga dikenal sebagai pribadi yang istiqamah dalam segala hal, tentang keistiqamahan ini juga diakui oleh salah satu muridnya KH Ahmad Baidlowi yang pernah menjadi Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, dan KH Abdul Aziz (Wonogiri).


Peringatan Haul Solo ke-111 dihadiri sejumlah habaib luar dan dalam Negeri, ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat, di antaranya Habib Umar bin Hamid bin Abdul Hadi Al-Jailani Yaman, Habib Syech, Habib Taufiq Bin Abdul Qadir Assegaf (Ketua Umum Rabithah Alawiyah), Salim Segaf Al-Jufri, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, serta para Jamaah Nahdliyin dari berbagai daerah di tanah air. (*)


Tokoh Terbaru