• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Regional

RMINU Jateng: Pengajaran Aswaja Perlu Disampaikan dengan Menarik

RMINU Jateng: Pengajaran Aswaja Perlu Disampaikan dengan Menarik
Ketua PWNU dan RMINU Jateng ikut hadir pada acara ToT Guru Madin (Dok. Oman)
Ketua PWNU dan RMINU Jateng ikut hadir pada acara ToT Guru Madin (Dok. Oman)

Magelang, NU Online Jateng
Materi Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah menjadi salah satu hal penting yang perlu diajarkan kepada para santri yang tengah belajar di pesantren dan madrasah diniyah (madin). Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Nur Machin Chudlori, Selasa (7/6).

"Meski begitu penting, dalam pengajaran Aswaja ini tidak bisa ditampilkan dalam wujud biasa-biasa saja, apalagi ala kadarnya. Pengajaran soal ini haruslah ditampilkan dalam bentuk yang menarik dan relevan," kata dia.

Hal tiu disampaikan pada saat menyambut para peserta Training of Trainer (ToT) di kompleks Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang. Menurutnya, atas dasar kebutuhan yang senada, kegiatan ToT ini penting untuk menanggulangi persoalan pengajaran aswaja di madrasah-madrasah diniyah yang dirasa kurang menarik belakangan ini.

“Mengusahakan integrasi madin dan pesantren, baik dari kurikulum, nilai, dan tradisi. Pada tahap awal integrasi diarahkan pada RMI agar madin bisa menjadi pintu masuk calon santri ke pesantren. Sehingga madin menjadi ladang perjuangan khidmah alumni pesantren," ujarnya.

Pada tahap jangka panjang, lanjutnya, diharapkan para santri madin bisa terintegrasi secara kemampuan dasar dengan pesantren, sehingga tidak sampai lulusan madin harus mengulang kelas di pondok pesantren.

Dalam pelatihan ini, RMI Jawa Tengah berharap guru madin bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Sehingga madrasah diniyah tidak terkesan kuno dan ketinggalan zaman, serta bisa bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan keislaman lainnya yang mulai menjamur di Indonesia.

"Upaya ini cukup penting karena tanpa kemampuan memanfaatkan perkembangan terkini, madrasah diniyah dinilai akan sangat ketinggalan. Dan ketika itu sudah terjadi, maka sudah jadi keniscayaan kalau banyak orang yang kini mulai meninggalkan konsep pembelajaran diniyah," kata Kiai Nur Machin.

Pelatihan intensif yang diselenggarakan selama empat hari, diikuti oleh 80 guru madin se-Jawa Tengah ini, sedianya merupakan upaya peningkatan kemampuan guru madin dalam memaksimalkan media ajar.

Terdapat 27 cabang mengirimkan delegasinya, yaitu dari Kota Semarang, Kab. Semarang, Demak, Kendal, Kota Salatiga, Jepara, Rembang, Grobogan, Kota Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, Kab. Pekalongan, Batang, Pemalang, Kota Magelang, Kebumen, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Mohamad Muzamil​​ berharap, para peserta ToT selalu bisa mengkontekstualisasikan masalah dengan ilmu-ilmu yang sudah didapat selama belajar di pesantren.

“Bagaimana cara mengatasi masalah dengan ilmu yang sudah didapat dari para kiai,” pesan Kiai Muzamil dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Kiai Muzamil juga menegaskan kepada para guru madin se-Jawa Tengah yang hadir ini agar selalu bisa menyelesaikan masalah dengan ilmu.

Dikatakan, kebaikan yang kita lakukan sekarang ini tak hanya kita yang menikmati, tidak hanya diri kita sendiri, "Semoga anak cucu kita di kemudian hari. Keadaan sekarang ini tentu tidak lepas dari riyadhah dari orang tua dan guru-guru kita. Kita bisa nikmati sekarang ini," ujarnya.

Usai pembukaan yang diadakan di Pondok API, Tegalrejo, para peserta lalu dipindah ke Pesantren Enterpreneur Partner di Sidoagung, Tempuran, Magelang, untuk melanjutkan acara pelatihan ToT sampai empat hari ke depan (7-10 Juni).

Kegiatan ini dinarasumberi oleh KH Dian Nafi’ (Ketua PP RMI NU), Imam Mahalli (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), H. Shodiq (UIN Walisongo Semarang), Ali Formen, Ph. D (UNNES Semarang) dan M Rikza Chamami (UIN Walisongo Semarang).

Pengirim: Nur Rohman


Regional Terbaru