• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Sabtu, 24 Februari 2024

Regional

Pemprov Jateng Dukung Densus 88 dan Eks Napiter Lakukan Deradikalisasi di Sekolah

Pemprov Jateng Dukung Densus 88 dan Eks Napiter Lakukan Deradikalisasi di Sekolah
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat nenerima tim Densus 88 Antiteror di kantornya. (dok)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat nenerima tim Densus 88 Antiteror di kantornya. (dok)

 Semarang, NU Online Jateng
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, program Densus 88 Antiteror untuk masuk ke sekolah-sekolah dengan melibatkan eks narapidana teroris (napiter) sangat tepat. 

Selain sebagai upaya deradikalisasi eks napiter, langkah itu menurutnya juga mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang bahaya radikalisme kepada anak-anak sekolah.


"Tentu saja kita musti mengajak banyak pihak untuk terlibat, umpama para aktor (eks napiter) itu kita ajak menjadi juru bicara kita untuk menjelaskan deradikalisasi itu musti dilakukan seperti apa, terorisme itu bahayanya seperti apa, dan masuk ke sekolah," kata Ganjar usai menerima tim dari Densus 88 Antiteror Polri di kantornya, Rabu (21/9).


Menurut Ganjar, Pemprov Jateng selama ini sudah mencoba menggandeng eks napiter untuk bercerita mengenai bahaya radikalisme dan terorisme melalui program Gubernur Mengajar. Ganjar selalu menyisipkan pendidikan karakter, bahaya narkoba, hingga pencegahan radikalisasi dalam setiap pertemuan dengan pelajar.


"Maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kesbangpol kita ajak agar semua masyarakat ikut terlibat, sehingga keperduliannya ada, awarenes-nya ada dan di antara warga yang lain tidak melakukan karena mendengar cerita mereka (eks napiter)," ungkapnya.


Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol Arif Makhfudiharto mengatakan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan jajarannya selama ini selalu mendukung pelaksanaan penanggulangan terorisme di Jawa Tengah. 


"Jawa Tengah ini menjadi episentrum dari radikalisme. Dukungan pemerintah provinsi menjadi sangat penting terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat," ucapnya.


Dijelaskan, berdasarkan data Densus 88 AT Polri, hingga awal September 2022, ada 212 narapidana terorisme yang ditahan di Jawa Tengah, terbagi 191 orang di dalam lapas di Nusakambangan, sementara di luar Nusakambangan ada 20 orang. 


"Untuk jumlah mantan napiter di Jawa Tengah ada 230 orang, di antara yang terbanyak adalah di Surakarta 47 orang, Sukoharjo 43 orang dan di Kota Semarang 20 orang," terangnya.


Arif pun menjelaskan, ketika seorang teroris ditangkap, maka ada keluarga, ada istri, dan anak yang ditinggalkan di rumah. Jika yang ditangkap kepala keluarga maka keluarga yang ditinggalkan butuh menopang kebutuhan. 


"Di sinilah peran pemerintah bisa lebih tepat dengan memberikan kepastian kebutuhan keluarga tercukupi. Sebab, momen ini juga digunakan oleh jaringan teroris untuk masuk dan mengambil keluarga yang ditinggalkan," ungkapnya.


Kerja sama dan kolaborasi antara Densus 88 dengan pemerintah daerah juga terkait pencegahan radikalisasi di kalangan pelajar. Menurut Arif, pola mengajak eks napiter untuk berbicara tentang bahaya radikalisme dan bagaimana proses masuknya merupakan cara efektif.


"Ini kami anggap lebih efektif karena anak-anak sangat rentan tetapi ketika diceramahi oleh penyintas menjadi lebih efektif untuk sebagai narasumber," pungkasnya.


Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat
 


Regional Terbaru