• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Nasional

Memaknai Kalimat Takbir dan Tasbih Ala Kiai Syarofuddin Rembang

Memaknai Kalimat Takbir dan Tasbih Ala Kiai Syarofuddin Rembang
KH Syarofuddin Ismail Qoimas (Foto: NU Online Jateng/Aldi)
KH Syarofuddin Ismail Qoimas (Foto: NU Online Jateng/Aldi)

Grobogan, NU Online Jateng
Kalimat takbir dan tasbih adalah kalimat yang pasti dibaca oleh umat Islam setiap hari. Kalimat takbir merupakan kalimat pembuka dalam memulai ibadah shalat. Takbir memulai shalat dan menjadi bagian rukun dari salat tersebut dinamakan takbiratul ihram. 


Bunyi lafadznya adalah Allahu Akbar, sedangkan kalimat tasbih berbunyi Subhanallah, kalimat ini sering dibaca dalam wirid ketika shalat jamaah maupun shalat sendiri selesai.


Menurut Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Leteh Rembang KH Syarofuddin Ismail Qoimas, dua kalimat ini sesungguhnya memiliki makna yang mendalam. Banyak orang menggunakan kalimat takbir dan tasbih sebagai dzikir harian. 


"Pelafalan takbir dan tasbih sering juga digunakan oleh orang-orang untuk merespons suatu kejadian atau peristiwa yang ditemuinya. Namun sayangnya, kondisi ketika pelafalan dua kalimat tersebut terkadang tidak sesuai dengan makna yang terkandung di dalamnya," ujarnya. 


Dikatakan, takbir itu bermakna Allah Maha Besar. Maksudnya apa? Jika sulit dimengerti, arti sederhana yang perlu kita tanamkan di dalam hati adalah kita ini sangat kecil, karena Allah yang Maha Besar.


Penjelasan itu disampaikan dalam kesempatan Haflah Khatmil Qur'an ke-34 dan Haul ke-35 Kiai Syamsuri Dahlan di Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Selasa (20/9/2022).


Kiai Syarafuddin menyayangkan ketika takbir digunakan dalam kondisi untuk tujuan duniawi yang keliru. Karena menurutnya, makna dalam kalimat takbir adalah pengingat bahwa manusia serta bumi dan isinya adalah hal yang kecil di mata Allah. Sehingga tidak ada ruang untuk menimbulkan sifat sombong atau melebihkan diri di dunia yang fana ciptaan Allah.


“Takbir kok dibuat demo politik, dibuat kampanye politik. Itu bagaimana?,” ujarnya.


Selain itu Kiai Syarofuddin juga menjelaskan pemaknaan kalimat tasbih. Pada intinya kalimat tasbih digunakan sebagai kalimat untuk menunjukkan kesucian Allah, bukan kesucian makhluk.


“Memaknai subhanallah itu gampangnya 'aku ini kotor', begitu,” jelasnya.


Dijelaskan, kalimat tasbih yang sering dilafalkan seharusnya menjadi pengingat bagi diri kita masing-masing. Bahwa kepada siapapun kita tidak boleh merasa paling suci, apalagi memandang sebelah mata kondisi orang lain. Siapapun sejatinya adalah sama, sebagai hamba Allah. Bagaimanapun kondisi seseorang, hanya Allahlah yang mengetahui derajat seseorang di hadapan-Nya.


“Kalau kita memahami makna subhanallah kita harusnya mengerti bahwa kita masih jauh dari suci. Tidak ada sedikitpun keberanian menghina orang lain. Siapapun orang yang kita lihat dan temui adalah sama, tidak ada perbedaan dengan kita, sebagai hamba Allah,” terangnya.


Pengurus Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo Ustadz Ahmad Mundzir kepada NU Online Jateng, Kamis (21/9/2022) menjelaskan, acara Haflah Khatmil Qur'an ke-34 dan Haul ke-35 Kiai Syamsuri Dahlan tergolong istimewa. Pasalnya, setelah pandemi Covid-19 melandai, dirinya bisa menghadirkan ribuan tamu undangan.


"Alhamdulillah, acara berlansung lancar. Selain dihadiri Kiai Syarofuddin kami juga menghadirkan KH Ulil Albab Arwani Kudus untuk menyampaikan taushiyah," pungkasnya.


Pengirim: Aldi Rizki Khoiruddin


Nasional Terbaru