• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Nasional

Ketua Umum PBNU Tegaskan NU Sangat Berharga

Ketua Umum PBNU Tegaskan NU Sangat Berharga
Ketua UMUM PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: Dok NU Online Jateng/M Ngisom Al-Barony)
Ketua UMUM PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: Dok NU Online Jateng/M Ngisom Al-Barony)

Jakarta, NU Online Jateng
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, harga Nahdlatul Ulama (NU) tidak mudah diukur. Oleh karena itu, terlalu riskan jika berpikir bahwa NU dijadikan sebagai sebuah aset. Jangan sampai NU dijadikan aset tapi dihargai jauh dari yang seharusnya. 


“Jangan sampai kita berdagang, namun rugi. NU menjadi besar dibeli dengan sangat mahal, karena apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita tidak dapat diukur dengan nilai duniawi,” kata Gus Yahya pada Haul ke-41 KH Abdul Hamid Pasuruan, Rabu (5/10/2022). 


Disampaikan, sampai hari ini misalnya, tidak ada laporan berapa nyawa yang sudah terbuang di dalam perang revolusi 10 November 1945. Menurutnya, hasil survei tahun 2018 menyebutkan bahwa orang yang mengaku sebagai jamaah NU secara terang-terangan mencapai 50,5% dari jumlah penduduk Islam di Indonesia. Sementara hasil survei 2022 menyatakan, orang yang mengaku NU di seluruh Indonesia mencapai 59,2% dari sekitar 250 juta penduduk Muslim.


“Sejak dahulu kebesaran NU sudah disadari karena begitu besarnya maka menjual NU itu sebenarnya mudah sekali pasti lakunya, yang penting mengaku orang NU. Kalau kita berpikir bahwa warga NU yang besar ini sebagai aset maka menjadi luar biasa berharga,” tegasnya.


Dilansir dari nu.or.id, Gus Yahya menjelaskan, betapa besar pengorbanan para pendahulu sehingga tidak tepat jika dilihat kebesaran NU hanya sebagai aset. Oleh karena itu, saat ini penting untuk melihat NU sebagai tanggung jawab, khususnya bagi para pengampu NU yang seharusnya mampu bersungguh-sungguh dalam berkhidmah dan melayani hajat para jamaah. 


“Tanggung jawab melayani harus dilakukan, jika mempunyai maka harus memberi. Kalau tidak mempunyai maka dapat mencari. Ini sama dengan yang dilakukan para kiai kita terdahulu yang tidak hanya sekadar khidmah kepada ilmu, tapi juga melakukan ri’ayah kepada umat apa pun kebutuhannya termasuk memberikan," terangnya.


Dikatakan, pada tahun 70 dan 80-an merupakan masa yang berat bagi warga NU. Pada waktu itu, orang-orang takut mengaku NU berbanding terbalik dengan saat ini. Meskipun dalam tekanan, mereka tetap memiliki semangat terhadap NU.


“Salah satunya karena adanya wali masyhur yang dapat dijadikan pagarnya, seperti keberadaan Mbah Hamid Pasuruan sangat penting karena berperan memberikan ketenangan dalam keadaan apapun,” pungkasnya. (*)
 


Nasional Terbaru