• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Nasional

Inayah Wahid: Tidak Ada Demokrasi Tanpa Inklusivitas

Inayah Wahid: Tidak Ada Demokrasi Tanpa Inklusivitas
Inayah Wahid di acara peresmian UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (Foto: NU Online Jateng/Khairul Anwar)
Inayah Wahid di acara peresmian UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (Foto: NU Online Jateng/Khairul Anwar)

Pekalongan, NU Online Jateng
Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan telah diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia H Yaqut Cholil Qoumas bertempat di Kampus 2 UIN Gus Dur Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan dihadiri putri bungsu Gus Dur Inayah Wahid pada Selasa (27/9/2022).


Mewakili keluarga KH Abdurrahman Wahid Ning Inayah sapaan akrabnya menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Gus Yaqut yang telah mengusulkan agar UIN Pekalongan memakai nama KH Abdurrahman Wahid. 


“Saya tentunya berterima kasih banyak kepada Gus Menteri atas usulannya kemudian agar UIN ini menggunakan nama KH Abdurrahman Wahid. Teman-teman dari UIN sini juga menyambut baik usulan tersebut,” ujarnya.


Disampaikan, yang lebih sulit dan yang lebih penting adalah menjadi penggerak dan itu yang digambarkan oleh Gus Dur yang selalu dimunculkan oleh Gus Dur dan bagaimana membawa perubahan yang baik, demokrasi adalah jawabannya.


“Demokrasi kita hari ini Indonesia tentu bukan yang paling hebat, bukan yang paling baik, dan bukan yang paling sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah, tapi ini yang kita miliki dan ini yang paling bisa mengadvokasi kita semua dan ini yang selalu digambarkan dan ditunjukkan oleh Gus Dur, demokrasi ini yang kita miliki,” paparnya.





Menurutnya, tidak ada demokrasi tanpa inklusivitas, itu sudah jelas. Jadi kalau demokrasi dan inklusivitas menjadi tekanan, menjadi fokus, seperti yang tadi sudah dikatakan Pak Rektor dan sudah jelas kita bapak-ibu sekalian menjadi baris terdepan dari tulang punggung demokrasi di Indonesia ini.


“Maka betapa pentingnya ada UIN KH Abdurrahman Wahid ini berdiri, karena di situlah nanti para punggawa-punggawa demokrasi akan muncul, akan dilahirkan. Bagaimana mereka belajar inklusivitas, bagaimana seperti yang sudah digambarkan oleh Gus Dur seperti yang sudah ditunjukkan oleh Gus Dur bahwa setiap identitas adalah penting.


"Apapun identitasnya, karena hanya dari identitas-identitas yang berbeda itulah kita bisa membangun kekuatan di Indonesia,” terangnya.


Rektor UIN Gus Dur Pekalongan Prof Zaenal Mustakim menjelaskan, penggunaan nama UIN KH Abdurrahman Wahid tentunya akan membawa konsekuensi dan harapan-harapan besar ke depannya. 


“Konsekuensi pertama adalah kita semua terutama keluarga besar civitas akademika UIN Gus Dur harus memantaskan diri menyandang nama besar ini. Pemantasan diri kita adalah dengan cara yang pertama harus belajar dan terus belajar, yang kedua ya bekerja dengan luar biasa sebagaimana kuatnya Gus Dur,” ucapnya.


Turut hadir pula pada acara tersebut Menag RI Gus Yaqut, anggota Komisi VIII DPR-RI Nurhuda, Dirjen Pendis Ali Ramdhani, serta Kepala Kanwil Jawa Tengan Mustain.


Kontributor: Khairul Anwar


Nasional Terbaru