• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Keislaman

Tiga Bid'ah Sahabat Nabi yang Disetujui Rasulullah  

Tiga Bid'ah Sahabat Nabi yang Disetujui Rasulullah  
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

Ketika i'tidal pada suatu shalat berjamaah terdengar satu bacaan yang berbeda, bukan sebagaimana lazimnya yang diajarkan Rasulullah: "Rabbana lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi." 


Usai shalat, Rasulullah langsung mengajukan pertanyaan mengenai siapa yang membaca lafal berbeda saat i'tidal. Namun, semua sahabat terdiam, khawatir ditegur atas perbedaan itu. 


"Saya melihat 12 malaikat dan berebut ingin mencatat (kebaikan tersebut)," kata Rasulullah. 


Setelah itu, seseorang mengaku bahwa dialah yang mengucapkan kalimat yang demikian berbeda itu. Begitulah cerita yang dikisahkan KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Menurutnya, menjadi penanda penting bahwa tidak semua yang tidak diajarkan Rasulullah saw itu buruk. Hal tersebut menjadi bukti, bahkan disetujui oleh Rasulullah. 


Kisah dari sahabat lain di sebuah pelosok perkampungan yang setiap mengimami shalat selalu membaca surat Al-Ikhlas. Para makmumnya pun mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. 


Sebagai seorang bijak, Rasulullah bertanya kepada imam tersebut, mengkonfirmasi perihal pengaduan masyarakat itu. Sang imam membenarkan. Rasulullah bertanya kembali mengenai alasannya. 


"Ayat-ayat dalam Surat Al-Ikhlas itu berisi sifat-sifat Allah. Maka saya suka," begitu terang Gus Baha menceritakan jawaban Sang Imam. Saat itu, malaikat Jibril datang dan menyampaikan kepada Rasulullah, bahwa Allah swt suka pada orang tersebut karena kesukaannya pada surat Al-Ikhlas. 


"Ini tidak ada sabqut ta'lim (pengajaran sebelumnya oleh Nabi)," kata Pengasuh Pesantren Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (LP3IA) Narukan, Rembang itu. 


Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Nabi menyetujui tindakan yang dilakukan sahabatnya itu walaupun beliau tidak mengajarkan sebelumnya. Beda dengan keduanya, Nabi Muhammad saw ketika di surga telah mendengar suara derap sandal. 


Nabi bertanya mengenai pemilik sandal itu. Dijawab, Bilal. Suatu ketika, Nabi Muhammad saw bertemu Bilal. Ia langsung bertanya kepada Bilal mengenai amal apa yang dilakukannya. "Saya tidak pernah berwudhu kecuali setelahnya shalat dua rakaat," kata Bilal sebagaimana diceritakan Gus Baha. 


Akhirnya, dua rakaat wudhu menjadi satu syariat yang disunnahkan. Padahal, sebelumnya, Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkannya.  


Sumber: NU Online
 


Keislaman Terbaru