• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Keislaman

Khutbah Jumat: Ruangan-Ruangan Eksekutif dalam Surga

Khutbah Jumat: Ruangan-Ruangan Eksekutif dalam Surga
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

RUANGAN-RUANGAN EXECUTIVE DI DALAM SURGA


Khutbah I

   اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
 

Jamaah Jumat rahimakumullah,  
Sebuah rumah tentunya memiliki kamar yang dibuat untuk tempat istirahat yang nyaman dan enak, sekadar untuk menenangkan jiwa yang lelah akan urusan duniawi, begitulah Allah swt membuat ruangan-ruangan khusus di dalam surga untuk hamba-hambanya yang telah berjuang keras selama hidup di dunia demi meninggikan agama Islam dan membuat tuhan dan rasulnya ridha atasnya, maka disebutkan di dalam Al-Qur’an:

 
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ نِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۖ


Artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebajikan” (QS. Al-Ankabut: 58) 


Melihat dan memahami ayat tersebut maka satu hal yang kita ambil yaitu syarat pertama dan utama untuk mendapatkan ruangan khusus ini adalah beriman dan beramal shaleh, maka orang yang belum beriman atau sudah beriman tapi belum beramal shaleh merekapun tidak diberikan fasilitas istimewa ini. 


Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada kita bahwa ruangan tersebut terbuat dari permata yang indah yang mana dapat dilihat luarnya dari dalam, dan dalamnya dari luarnya, lalu sahabat Jabir bin Abdillah bertanya: untuk siapakah ruangan-ruangan tersebut ya Rasulullah? Maka Nabi menjawab: Ruangan-ruangan tersebut Allah sediakan bagi 4 golongan dari manusia yang beriman, yaitu: 


Golongan Pertama: Orang-orang yang menyampaikan salam. 

Ketika dua orang muslim bertemu satu sama lainnya, baik dia kenal ataupun tidak, bertemu di jalan atau di tempat makan, maka hendaknya sampaikanlah salam kepadanya, jika tidak begitu maka berilah senyuman di wajahmu kepadanya, yang menandakan apa yang kamu kerjakan adalah sebuah penghubung tali silaturahim dan mempererat tali persaudaraan, di samping yang lain, mengucapkan salam berarti dia sedang menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang angkun nan sombong yang tidak peduli kepada orang, itu adalah salah satu di antara ajaran islam kepada penganutnya agar dapat menebarkan kedamaian kepada setiap orang, bukan kepada orang yang beragama sama melainkan orang yang berlain keyakinan dengan kita. 


Golongan Kedua: Orang-orang yang peduli kepada sesama walau hanya dengan memberikan sesuap nasi untuk dimakan. 

Islam tidak melarang pemeluknya untuk memakan makanan yang mahal dan enak, silahkan makan makanan yang mahal, yang jarang ditemui, sesuka dan sepuas mungkin, tapi islam memberikan pengarahan agar tidak lupa kepada tetangga yang hidupnya masih penuh dengan kekurangan, mereka yang meminta-minta karena kebutuhan keluarga yang terpuruk, dan mereka yang terlanda dalam kondisi peperangan. Dikisahkan dalam satu hadits shahih: 


عن عائشةَ رضي اللَّهُ عنها قَالَتْ: جَاءَتني مِسْكِينَةٌ تَحْمِل ابْنَتَيْن لَهَا، فَأَطعمتُهَا ثَلاثَ تَمْرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلى فِيها تَمْرةً لتَأكُلهَا، فَاسْتَطعَمَتهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّت التَّمْرَةَ الَّتي كَانَتْ تُريدُ أَنْ تأْكُلهَا بيْنهُمَا، فأَعْجبني شَأْنها، فَذَكرْتُ الَّذي 
صنعَتْ لرسولِ اللَّه ﷺ فَقَالَ : ( إنَّ اللهَ قد أوجَب لها الجنَّةَ وأعتَقها بها مِن النَّارِ " (رواه مسلم: 2630)


Artinya: “Dari Aisyah r.a. berkata: telah datang kepadaku seorang wanita miskin yang membawa dua anak perempuan, lalu saya memberinya makan dengan tiga buah kurma, wanita tersebut memberikan kurmanya satu persatu kepada kedua anaknya, kemudian wanita tersebut mengangkat satu kurma ke mulutnya untuk dia makan, tapi kedua anaknya meminta kurma tersebut, akhirnya dia pun memberikan (kurma) yang ingin dia makan kepada anaknya dengan membelahnya menjadi dua. Saya sangat kagum dengan kepribadiannya. Lalu saya menceritakan apa yang diperbuat oleh Wanita tersebut kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda: sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya untuk masuk surga atau membebaskannnya dari neraka.” (HR. Muslim, no: 2630)


Demikianlah akhlak yang dicontohkan oleh istri Rasulullah saw yang mulia itu, bagaimana dia memberikan makanan kepada orang yang meminta walau sebesar buah kurma, boleh jadi perbuatan tersebutlah yang kelak menyelematkan diri dari siksa api neraka dan memasukkan diri ke dalam surga yang abadi. 


Golongan Ketiga: Melakukan puasa (sunah) dengan terus menerus. 

Imam al-Khatib al-Syarbini  dalam kitabnya Al-Kawakib Al-Sairah Bi’ayan Al-Mi’ah Al-Asyirah, mengatakan puasa haruslah menjaga diri dari perkara yang membatalkan dengan cara khusus, disamping itu pula puasa menjadi salah satu ritual peribadatan dalam islam bagi para pemeluknya dan di antara puasa tersebut ada yang bersifat memaksa dan ada yang bersifat anjuran. 


Puasa yang bersifat menahan diri agar tidak mengkonsumsi banyak makanan dilakukan oleh banyak orang baik dari pemeluk islam atau bukan, tujuan mereka bervariatif, ada yang sedang dalam program diet menurunkan berat badan, menjalankan saran dari dokter dalam proses penyembuhan dan pemulihan, tidak makan karena sakit atau tidak berselera dan atau sedang menjalankan ibadah puasa semata-mata melaksanakan perintah agama.  


Zaman dahulu ketika perintah puasa diturunkan tidak banyak orang mengetahui manfaat dari pada puasa dan apa tujuannya, namun seiring dengan perkembangan teknolongi di setiap perjalanan waktu, diketahui bahwa puasa memiliki manfaat yang cukup banyak bagi tubuh manusia. Dilansir di laman Kementrian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dengan judul “apa saja manfaat berpuasa” yang ditulis oleh Tim Promkes RSST-RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, disebutkan di dalamnya ada 7 manfaat puasa pada tubuh manusia, yaitu:
1.    Mengontrol gula darah
2.    Mengurangi peradangan 
3.    Meningkatkan kesehatan jantung 
4.    Meningkatkan fungsi otak 
5.    Membantu menurunkan berat badan 
6.    Meningkatkan hormon pertumbuhan 
7.    Mencegah kanker 


Itulah manfaat puasa pada kesehatan fisik, dan tidak cukup sampai di situ, masih ada manfaat puasa lagi ditinjau dari sisi psikologis bahwa puasa dapat memberikan efek positif bagi orang-orang yang menjalankannya, yaitu puasa dapat mengubah pikiran menjadi tenang, damai, bahagia, mengurangi rasa takut dan agresif, kecemasan dan depresi, menumbuhkan rasa empati dan simpati, mematangkan kecerdasan emosional dan memberikan mood positif.


Berbagai macam manfaat yang telah disebutkan baik dari kesehatan fisik maupun kesehatan psikologi secara umum telah disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam sabdanya: 


صُوْمُوْا تَصِحُّوْا 


Artinya: “Berpuasalah maka kalian akan sehat”. (HR. Thabrani)


Dijelaskan dalam riwayat lainnya bahwa tempat paling buruk yang dimiliki seseorang adalah perutnya maka seharusnya dia dapat mengatur bagaimana semestinya perut itu digunakan sesuai dengan keperluannya sehingga aktifitas seseorang tidak terganggu oleh keadaan perut yang penuh dengan makanan. Rasulullah saw bersabda: 


«‌مَا ‌مَلَأَ ‌آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ، لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتِ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ»  رواه ابن ماجه 


Artinya: “tidaklah anak cucu adam memenuhi suatu tempat yang lebih buruk dari pada perutnya, cukuplah baginya beberapa suap yang bisa menegakkan tulang belakangnya, jikalau memang harus berbuat, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ibnu Majah).


Golongan Keempat: melaksanakan shalat malam. 

Seorang muslim selain diwajibkan atasnya shalat 5 waktu, dia juga dianjurkan untuk melakukan shalat-shalat sunah, di antaranya adalah shalat malam, yakni shalat yang dilakukan setelah shalat isya sampai dengan sebelum shalat subuh. Allah swt berfirman di dalam kitab sucinya: 


وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا (سورة الإسراء: 79) 


Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” QS. Al-Isra: 79 


Dan diterangkan lagi dalam tempat yang lain: 


يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ (سورة المزمل: 1-3)


Artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!, Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu” (QS. Al-Muzzammil: 1-3) 
Anjuran melaksanakan shalat malam bertujuan untuk mengangkat derajat seorang hamba di mata sang Penciptanya baik di dunia maupun akhirat sebagaimana diterangkan di akhir ayat 79 dari surat al-Isra yang tersebut di atas, 


عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ "‌إِنَّ ‌فِي ‌اللَّيْلِ ‌لَسَاعَةً، لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ ليلة"  رواه مسلم 


Artinya: “Dari Jabir r.a. berkata: saya mendengar nabi saw bersabda: sesungguhnya di sebagian malam terdapat waktu (mustajab) dimana tidaklah seorang muslim yang tengah memohon kebaikan dari urusan dunia dan akhirat kecuali Allah memberikan (kebaikan)nya kepada dirinya, dan waktu itu pada setiap malam” (HR. Muslim). 


Maka dari itu, berupayalah dengan sungguh-sungguh dan istiqamah untuk meraih derajat yang tinggi di surga sebagaimana kita bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kemegahan di dunia. Dalam meraih kebaikan, tak perlu memadamkan cahaya orang lain agar dirimu lebih bercahaya dan tak perlu memburukkan orang lain agar dirimu terlihat baik namun bersinarlah dengan cahayamu, teruslah berbuat baik, karena pribadi yang baik akan terus bercahaya dimanapun dia berada. 


Khutbah II 


 
   اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر 
 


Penulis: Ahmad Arif Hidayat, Lc
 


Keislaman Terbaru