• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Selasa, 31 Januari 2023

Keislaman

Khutbah Jumat: Meningkatkan Kualitas Keimanan dengan Tafakkur

Khutbah Jumat:  Meningkatkan Kualitas Keimanan dengan Tafakkur
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Khutbah I  

 

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْاَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah 

Dalam Islam dikenal rukun iman yang ada enam, yaitu iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qada dan qadar. Pengertian iman sendiri adalah meyakini ajaran-ajaran Islam dengan hati dan mengamalkannya.  

 

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim, berangkat dari definisi ini, ulama ahsulusunnah menjelaskan bahwa keimanan seseorang bisa bertambah dan berkurang, dilihat dari intensitas kegiatan amal ibadahnya. Mengutip Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Baththal al-Maliki, Imam Nawawi mendasari potensi turun-naiknya iman dengan sejumlah ayat Al-Qur’an. Diantaranya adalah firman Allah swt berikut:

 

  هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ.  

 

Artinya, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Fath [48]: 4)  

 

Juga ayat berikut:

 

  لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا وَّلَا يَرْتَابَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُوْنَۙ.  

 

Artinya, “(Yang demikian itu) agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, orang yang beriman bertambah imannya, orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Fath [74]: 31)  

 

Kedua ayat ini menjadi dasar bahwa kualitas iman seorang muslim bisa bertambah dan berkurang. Cara mengindentifikasinya adalah dengan melihat intensitas ibadah yang dilakukannya. Jika ibadahnya rajin maka menujukkan kualitas imannya sedang bagus, sebaliknya jika intensitasnya rendah maka kualitasnya sedang turun. (Imam Nawawi, Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim, 1929:  juz I, hlm. 146)  

 

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan dan merawat kualitas iman adalah dengan tafakkur, yaitu melakukan perenungan mendalam terhadap kekuasaan Allah atau hal-hal bernilai ukhrawi seperti mengingat banyaknya dosa yang sudah kita perbuat, merenungi kematian dan hari pembalasan, dan sebagainya.  

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah 

Salah satu tujuan Allah menciptakan alam semesta ini adalah agar kita senantiasa merenungi tanda-tanda kekuasaan Sang Maha Pencipta. Gunung-gunung yang berdiri kokoh, laut dan samudera yang luas dengan segala pesonanya, bentangan langit yang menaungi, dan bumi tempat kita berpijak, semua ini diciptakan agar kita selalu mengingat betapa agung kekuasaan Allah.  

 

Dengan merenungi secara mendalam ciptaan-ciptaan-Nya, insya Allah kualitas iman dalam diri kita selalu bertambah. Dalam Al-Qur’an disebutkan

 

, الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  

 

Artinya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 191)  

 

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip sebuah kalam hikmah, “Orang yang melihat ciptaan Allah tapi tidak merenunginya untuk memperoleh pelajaran, maka apa yang dilihatnya hanya akan menggelapkan hati.” Bisyr bin Haris al-Hafi juga menyampaikan, “Jika seseorang merenungi keagungan Allah, maka ia tidak akan memiliki hasrat untuk bermaksiat.” Dua ungkapan ini menjadi bukti bahwa mentafakkuri keagungan Allah melalui ciptaan-Nya mampu meningkatkan kualitas iman. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim, 2018: juz II, hlm. 163)  

 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin menjelaskan terkait cara kerja tafakkur. Menurutnya, saat seorang muslim bertafakkur, maka akan menghasilkan pengetahuan dari objek yang ditafakkurinya. Merenungi kekuasaan Allah dengan melihat gunung-gunung yang menjulang, misalnya. Jika pengetahuan sudah diperoleh, maka akan menghasilkan sentuhan batin dalam hati yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan kepada Allah Sang Maha Pencipta. (Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, 2016: juz IV, hlm. 516)  

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah 

Selain melalui ciptaan Allah, objek tafakkur yang bisa kita gunakan adalah nilai-nilai ukhrawi seperti merenungi dosa-dosa yang sudah perbuat, mengingat kematian, hari pembalasan di akhirat kelak, dan sebagainya. Saat merenungi kematian, misalnya, kita akan berpikir bahwa setiap manusia memiliki ajal yang bisa datang kapan saja. Lalu kita merenung lebih jauh, jika ajal sudah pasti, amal ibadah apa saja yang sudah kita perbuat selama dunia untuk bekal di akhirat kelak. Allah swt berfirman: 

 

 قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ 

 

Artinya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)  


Ayat ini menegaskan bahwa kita semua tidak bisa lari dari jerat kematian. Meskipun kita bersembunyi di tempat yang sangat sunyi, tidak ada siapapun yang tahu, pasti kematian akan menghampiri kita. Kematian akan menjemput kita dimana pun kita berada.  

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah 

Tafakkur merupakan salah satu aktivitas yang bernilai ibadah. Dengan bertafkkur, berarti kita mensyukuri nikmat Allah berupa anugerah kedua mata dan akal dengan mennggunakannya untuk melihat kekuasaan Allah dan merenungi nilai-nilai luhur di baliknya. Rasulullah saw bersabda, 

 

 أَعْطُوْا أَعْيُنَكُمْ حَظَّهَا مِنَ الْعِبَادَةِ. قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَاحَظُّهَا مِنَ الْعِبَادَةِ؟ قَالَ النَّظْرُ فَي الْمُصْحَفِ وَالتَّفَكُّرُ فِيْهِ وَالْإِعْتِبَارُ عِنْدَ عَجَائِبِهِ 

 

Artinya, “Berikanlah hak mata untuk beribadah. Para sahabat lalu bertanya, ‘Apakah ibadah bagian mata itu?’ Nabi menjawab, ‘Melihat (membaca) al-Qur’an dan memikir isinya serta ambillah pelajaran dari keajaiban isi Al-Qur’an.’” (HR Zaid bin Aslam)  

 

Semoga kita semua bisa selalu menggunakan nikmat kedua mata dan akal untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan tafakkur, kita telah bersyukur kepada Allah karena memanfaatkan dua nikmat agung ini untuk meningkatkan dan menjaga kualitas iman. 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْن


Khutbah II

 

  اَلْحَمْدُ لِهِال الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللٰهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللٰهِ اِنَّ اللٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللٰهِ اَكْبَرُ


Ustadz Muhamad Abror, penulis keislaman NU Online, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma'had Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta.

 

Sumber: NU Online


Keislaman Terbaru