• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Regional

Wagub Taj Yasin: Pertanian Salah Satu Kekuatan Negara

Wagub Taj Yasin: Pertanian Salah Satu Kekuatan Negara
Wagub Jateng KH Taj Yasin Mimoen (Foto: Dok)
Wagub Jateng KH Taj Yasin Mimoen (Foto: Dok)

Semarang, NU Online Jateng
Pertanian merupakan sektor strategis, kestabilan harga maupun ketersediaan komoditas pertanian dipengaruhi banyak faktor, baik internal maupun eksternal. 


Wakil Gubernur Jawa Tengah KH Taj Yasin Maimoen memberikan contoh salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi adalah kondisi perang di suatu negara, seperti yang saat ini terjadi antara Rusia dan Ukraina.


"Salah satu ketahanan kita adalah ya pertanian dan itu menjadi pondasi bagaimana kekuatan negara itu diuji," tutur Gus Yasin, sapaan akrab KH Taj Yasin Maimoen dalam Seminar Nasional Advokasi dan Jurnalistik bertema 'Mewujudkan Pola Pikir Kritis Guna Membuat Perubahan yang Sistematis' yang diselenggarakan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) di Balaikota Semarang, Selasa (4/10/2022).
 

Perang Rusia - Ukraina, menurut Gus Yasin menimbulkan krisis pangan di negara-negara yang biasa mendapatkan pasokan komoditas pertanian, dari kedua negara yang berperang.


Gus Yasin menceritakan pengalamannya saat lawatan ke Jerman belum lama ini. Dia mendapati masyarakat Jerman yang kesulitan mendapatkan bahan pangan, lantaran mereka tidak memberikan perhatian pada soal tanaman pertanian, mereka berfokus pada peternakan. 


"Setelah itu saya mengunjungi di beberapa negara Eropa. Ternyata dampaknya juga luar biasa. Selain harga minyak naik, bahan baku pokok makanan juga mereka berkurang. Utamanya ada di negara Jerman yang notabenenya negara Jerman ini masyarakatnya untuk pertanian ndak dipikirkan," ungkapnya.  


Gus Yasin mengajak para mahasiswa pertanian untuk terus membangun sektor pertanian di negeri sendiri. Pertanian tidak selalu identik dengan kebutuhan lahan yang luas, lanjutnya. Di pekarangan pun, bisa menjadi tempat bertani.  


"Banyak lho saat ini yang berbisnis memulai pertanian-pertanian di lahan-lahan pekarangan. Dindingnya dibikin sap-sap an. Ada kubis, macam-macam. Itu juga bisa buat cadangan makanan untuk keluarga. Bahkan bukan hanya untuk cadangan makanan keluarga, tapi bisa juga menjadi income keluarga dan harganya ini lebih mahal (karena organik)," jelasnya.  


Gus Yasin meminta mahasiswa untuk berpikir kritis memecahkan berbagai persoalan pertanian. Misalnya, cara mensiasati agar tidak terjadi anjloknya harga pertanian saat panen raya dan membangun jejaring dengan stakeholder bidang pertanian.


Ketua BEM Faperta Unwahas Al-Mahdi menjelaskan, potensi pertanian di Indonesia perlu mendapatkan perlindungan, utamanya dari pemerintah selaku pemangku kebijakan di suatu daerah atau negara.


"Potensi industri modern akan berjalan baik di Indonesia apabila pemerintah ikut andil dalam memberikan fasilitas pertanian modern. Karena kekurangan dukungan dari pemerintah di sektor pertanian yang menjadikan warga atau petani malas mengolah lahannya dan lebih memilih bekerja yang instan," ujarnya.


Untuk itu lanjut dia, pihaknya telah berusaha melakukan advokasi terhadap kasus struktural maupun individual dalam bidang pertanian. "Kita sering melakukan aksi pengawalan gugatan kasus bersama mahasiswa dari universitas se-Kota Semarang," pungkasnya.


Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat


Regional Terbaru