• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Regional

NU Jateng: Menulis Salah Satu Cara Sampaikan Gagasan dan Opini

NU Jateng: Menulis Salah Satu Cara Sampaikan Gagasan dan Opini
Kgiatan temu penulis dan seminar literasi PW LP Ma'arif NU Jateng di Semarang (Foto: NU Online Jateng/Atsnal)
Kgiatan temu penulis dan seminar literasi PW LP Ma'arif NU Jateng di Semarang (Foto: NU Online Jateng/Atsnal)

Semarang, NU Online Jateng

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah HM Muzamil menyampaikan, menulis adalah salah satu cara menuangkan gagasan, mendiskripsikan keadaan, membentuk opini atau pendapat umum, dan merekomendasikan berbagai alternatif solusi atas masalah yang ada. 


"Menulis adalah nasrul ilmi, menyebarluaskan ilmu kepada publik," ujarnya.


Hal itu disampaikan Muzamil pada 'Temu Penulis dan Seminar literasi' yang  diselenggarakan  LP Ma'arif NU Jateng di Kantor Jl dr Cipto 180 Semarang, Sabtu (29/5) malam.


Menurutnya, bentuk tulisan juga beraneka ragam mulai dari puisi, prosa, cerita pendek sampai pada karya ilmiah. "Jadi singkat kata, ada yang berbentuk fiksi, dan berupa fakta," terangnya.


Dijelaskan, menulis artikel tentu juga sesuai dengan disiplin ilmunya.  Konstruksinya biasanya diawali dengan menuliskan fakta atau gejala yang muncul atau dibicarakan dalam masyarakat, atau hal-hal yang bersifat aktual. 


"Kemudian dicarikan landasan teori yang relevan, dianalisis secara singkat, dan kemudian dicari kesimpulannya, atau alternatif solusinya," paparnya.


Karena itu lanjutnya, menulis artikel adalah menerapkan cara berfikir ilmiah secara empirik, logis, sistematis, dan metodologis. Dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau belajar.


Ketua PW LP Maarif NU Jateng R Andi Irawan memaparkan tentang hadlarah, tsaqafah, dan turast. Bagaimana mampu memberikan kesadaran laku urip. Literasi harus diajarkan pada siswa ma'arif sehingga dapat akram dalam berhubungan dengan Allah Ta'ala, dan shalih atau memiliki kemampuan teknis dalam mengelola bumi.


"Kegiatan seminar literasi ini dimaksudkan agar ada masukan pemikiran, bagaimana menggerakkan literasi di madrasah," katanya.


Dia berharap, acara yang digelar secara offline dan online tersebut harus ada tindak lanjut untuk menggerakkan literasi. "Harus ada tindak lanjut dari acara malam ini," ungkapnya.


Penulis Senior Prasetyo Utomo menyebut, puncak kehidupan adalah relegiusitas. Karena filsafat dan ilmu modern tidak bisa memecahkan masalah seluruhnya. "Mau tidak mau penulis ya harus relegius, tidak kebarat-baratan," tegasnya. 


Menurutnya, Hidup mesti berubah dari kesengsaraan dihegemoni menuju jalan hidup yang lebih baik. "Hal ini misalnya bisa kita pahami tulisan' bercocok tanam di syurga' esai karya Gus Dur," ujarnya mencontohkan.


Lebih lanjut penulis 'cermin jiwa' ini menyampaikan, karya sastra relegiusitas dan spiritualitas, mengantarkan dirinya mendapatkan penghargaan dari Menteri Pariwisata di Prambanan. Ia juga menulis 'penyusup larut malam' sebuah lokalitas dan spiritual sesuatu yang biasa di Jawa telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. 


Menurutnya, ruang literasi bukan semata teks yang dicipta atau dibaca, namun dalam perkembangan sastra, juga spuritualitas dan relegiusitas.


Kontributor: Atsnal Lathif

Editor: M Ngisom Al-Barony


Regional Terbaru