• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Sabtu, 24 Februari 2024

Keislaman

Daftar 10 Hewan yang Dijanjikan Masuk Surga

Daftar 10 Hewan yang Dijanjikan Masuk Surga
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Dalam Hasyiyah Qishah al-Mi’raj, Syekh Ahmad ad-Dardiri menyebutkan bahwa ada 10 hewan yang kelak akan masuk surga. Meski dalam kitab itu tidak disebutkan satu per satu secara lengkap, tetapi berikut ini disampaikan ulasan-ulasan singkatnya sesuai dengan yang dijelaskan kitab-kitab sirah dan tarikh. (Lihat: Hasyiyah Qishah al-Mi’raj, [Semarang: Thaha Putra], halaman 6). 


    
1. Buraq Tunggangan Nabi saw.

Buraq merupakan hewan surga yang dipilih malaikat Jibril untuk menjadi tunggangan Nabi saw menempuh perjalanan isra’-mi’raj. Buraq itu terpilih karena kerinduannya berjumpa dengan Sang Nabi saw. 

 

Nama Buraq sendiri berasal dari kata barqu yang berarti ‘kilat.’ Pasalnya, ia melaju dengan sangat cepat secepat kilat, sehingga mempersingkat waktu tempuh Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga ke Sidratul Muntaha dengan hanya waktu satu malam.            

 

Menurut sejumlah riwayat, Buraq merupakan hewan seperti kuda, berbulu putih, memiliki sayap di kedua pahanya, ukuran tubuhnya lebih besar dari keledai, namun lebih kecil dari kuda. Kelebihannya, selain berjalan cepat, kaki depannya bisa terangkat saat jalan menurun dan kaki belakang terangkat saat jalan menanjak. Kelak hewan ini akan kembali masuk surga. Demikian seperti hadis riwayat Abu Ya’la dari Ibnu Mas’ud. (Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, juz IV, 272).  


 
2. Unta Nabi Shaleh 

Allah memberi mukjizat kepada Nabi Shaleh berupa unta hamil yang keluar dari batu. Unta itu menghasilkan susu segar yang dapat dinikmati orang-orang sekampungnya. Namun di antara penduduk Tsamud ada yang jahat dan sampai tega membunuh unta tersebut. Akibat perbuatan kaum Tsamud itu, Allah menurunkan Azab hujan batu kepada mereka. Nabi Shaleh dan orang-orang beriman selamat, sementara mereka binasa. Dikabarkan, unta ini diperkenkan Allah untuk masuk surga.     

 

Mujizat dan kerasulan Nabi Saleh pun diabadikan Al-Quran, “Dan [Kami telah mengutus] kepada kaum Tsamud saudara mereka Saleh. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, [yang karenanya] kamu akan ditimpa siksaan yang pedih,’” (QS. Al-A'raf [7]: 73).  

 

3. Anak Sapi Nabi Ibrahim 

Nabi Ibrahim as adalah seorang yang sulit mendapatkan keturunan. Berbagai usaha sempat ditempuhnya bersama istrinya Sarah. Tetapi, Allah SWT belum juga mengabulkannya. 

 

Pada suatu hari, datanglah tiga tamu yang tak dikenal ke rumahnya. Sebagai orang yang gemar memuliakan tamu, Nabi Ibrahim as tetap memuliakan mereka dengan hidangan. Hidangan itu berupa daging anak sapi panggang.

 

Sayangnya, ketiga tamunya tidak mau menyentuh hidangannya sedikit pun. Rupanya, ketiga tamu itu jelmaan malaikat yang diutus Allah.  Mereka datang membawa kabar bahwa Nabi Ibrahim dan istrinya akan segera mendapatkan anak. Anak itu tak lain adalah Ishaq. Sebagai ganjarannya, anak sapi yang disembelih itu diberi balasan masuk surga. Lebih lengkapnya, kisah ini tercantum dalam surat adz-Dzariyat ayat 24-30.  

 

4. Kambing Gunung Nabi Ismail as 

Nabi Ibrahim as pernah diuji Allah untuk menyembelih anaknya Ismail as. Ujian itu sungguh berat mengingat menunggu kehadiran Ismail bukanlah waktu yang singkat. Namun, berkat keikhlasan dan kepatuhannya kepada Allah, Ibrahim berkenan menuruti perintah-Nya. Pun demikian putranya Ismail.  

 

Hingga pada suatu ketika hendak disembelih, Nabi Ismail a.s. diganti dengan seekor kambing yang gemuk nan sehat. Rupanya, begitu cepat malaikat mengganti dan menyelamatkannya dari penyembelihan sang ayah. Cerita dramatis ini pun dimuat dalam Al-Quran, tepatnya dalam surah Ash-Shaffat ayat 102-107. Dan berawal dari kisah ini, kita disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha. 

 

5. Hudhud Ratu Bilqis

Burung Hudhud termasuk jenis burung pelatuk yang disebut Allah dalam Al-Quran Surat an-Naml ayat 20-40. Burung ini ditugasi Nabi Sulaiman mencari kabar ke daerah lawan. Salah satunya kabar dari negeri Saba’. 


  
Sepulang dari satu perjalanan, burung hudhud melaporkan kepada Nabi Sulaiman bahwa dirinya menjumpai perempuan dengan segala kekayaan, namun masih menyembah matahari. 

 

Rupanya Allah memberikan keistimewaan pada burung itu berupa kemampuan fisik dan juga daya jelajah yang hebat sehingga dapat terbang jauh dan tidak pernah tersesat. 

 

Awalnya, Nabi Sulaiman tidak percaya dengan apa yang disampaikan sang burung, hingga ia pun kembali mengutusnya membawa seruan dakwah kepada Ratu Bilqis di negeri Saba’. Setelah mengantarkannya, Hudhud diperintah untuk mengamati tanggapan Ratu Saba'. 

 

Mendapat surat kiriman, Ratu Bilqis segera mengumpulkan para pembesar kerajaan. Mereka kemudian berunding apa yang harus dilakukan untuk merespons surat Sulaiman. 

 

Hasilnya adalah mengirim utusan untuk mengantarkan hadiah kepada Raja Sulaiman di Yerusalem. Burung Hudhud terbukti benar telah menunjukkan tentang Kerajaan Saba' yang tidak diketahui oleh Sulaiman as. Berkat jasanya, burung Hudhud pun dijamin Allah masuk surga. 

 

6. Semut Nabi Sulaiman  

Hewan berikutnya yang dijamin akan masuk surga ialah semut-semut yang berbincang dengan Nabi Sulaiman as.  

 

Kisahnya berawal dari perjalanan Nabi Sulaiman dengan pasukannya ke sebuah daerah. Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah lembah yang disarangi semut. 

 

Melihat kedatangan Nabi Sulaiman as, raja semut langsung memerintahkan rakyatnya untuk masuk ke dalam sarang. Alasannya agar mereka tidak terinjak-injak oleh pasukan Nabi Sulaiman as. 

 

Mendengar instruksi raja semut kepada rakyatnya, Nabi Sulaiman as meminta pasukannya berhenti seraya memberi kesempatan kepada kawanan semut memasuki sarang. 

 

Setelah kawanan semut masuk sarang, Nabi Sulaiman berbincang dengan raja semut. Dari pembicaraannya, terungkaplah tujuan raja semut yang sesungguhnya. 

 

Ternyata ia memerintah kawanannya masuk sarang bukan khawatir terinjak pasukan Nabi Sulaiman, melainkan semut-semut takut merasa takjub melihat kemegahan pasukan Nabi Sulaiman as sehingga melupakan kekuasaan Allah. 

 

7. Anjing Ashabul Kahfi  

Kisah anjing Ashabul Kahfi ini bersamaan dengan kisah sekelompok pemuda yang tertidur di dalam gua dan terbangun setelah tiga abad kemudian. Bayangkan saja mereka tertidur di dalamnya selama 309 tahun. 

 

Tujuan awal mereka masuk ke dalam gua adalah melarikan diri dari kekejaman Raja Decyanus yang dikenal pemimpin yang ingkar. Setelah masuk gua, pemuda Ashabul Kahfi yang terdiri dari tujuh orang dan ditemani seekor anjing itu dibuat tertidur oleh Allah selama ratusan tahun. 

 

Begitu terbangun dari tidur, mereka berhasil lolos dari kejaran Raja Decyanus dan hidup di zaman yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Kisah ini pun diabadikan Al-Quran dalam surat Al-Kahfi ayat 9-22. 


    
8. Ikan yang Menelan Nabi Yunus 

Dikisahkan, perjalanan dakwah Nabi Yunus as. mendapat penolakan keras dari kaum Ninawa. Alasan penolakan mereka adalah karena Nabi Yunus seorang pendatang. Hingga akhirnya, Nabi Yunus as. merasa putus asa dan pergi menaiki kapal yang penuh dengan muatan. 

 

Di tengah perjalanan, badai besar menghadang kapal yang ditumpanginya. Akibatnya, satu per satu muatan dibuang ke laut, termasuk muatan orang. Saat diundi, keluar nama Yunus dan mengharuskan dirinya melompat ke laut. 

 

Sesaat melompat ke laut, Nabi Yunus langsung ditelan ikan besar. Akibatnya, Sang Nabi bertahan selama 40 hari di dalam perut ikan. Selama itu, ia senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah. Ia merasa bersalah karena meninggalkan kaumnya begitu saja. 

 

Setelah dirinya berhasil keluar dari perut ikan, Nabi Yunus kembali menemui kaumnya dan mendakwahi mereka. Sejumpanya dengan mereka, Nabi Yunus pun terkejut karena melihat orang-orang Ninawa telah beriman kepada Allah.  

 

Rupanya, sejak Nabi Yunus pergi dan badai besar menimpa kaum Ninawa, mereka baru sadar bahwa apa yang dikatakan Nabi Yunus adalah benar. Di saat yang sama, Allah pun menyelamatkan Nabi Yunus dari badai besar dan memerintah ikan menelan serta mengeluarkannya dengan selamat. 

 

9. Sapi Betina Bani Israil 

Pada zaman Bani Israil, hidup seorang laki-laki kaya raya yang dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Masyarakat pun terkejut dan ingin mengetahui pembunuhnya. 

 

Mereka lalu menemui Nabi Musa untuk meminta nasihat. Lantas, Nabi Musa memohon pertolongan kepada Allah dan mendapatkan perintah untuk menyembelih sapi betina dengan ciri-ciri tertentu. Beberapa cirinya, seperti tidak boleh terlalu tua dan muda, memiliki kulit yang bersih, dan tidak pernah membajak sawah.

 

Sampai pada akhirnya, sapi dengan karakteristik tersebut ditemukan. Setelah sapi disembelih, Nabi Musa memukulkan dagingnya kepada jasad laki-laki yang dibunuh tadi. 

 

Di luar dugaan, jenazah itu benar-benar bangkit dari kematiannya. Nabi Musa pun bertanya, “Siapa yang membunuhmu?” Jenazah itu menjawab bahwa orang yang membunuhnya adalah kerabatnya sendiri. Sebagai balasannya, sapi itu pun kelak akan masuk surga.  

 

10. Keledai Nabi Uzair 

Dalam suatu perjalanan menunggang keledai, Nabi Uzair a.s. berhenti di sebuah desa yang hancur akibat peperangan. Tulang-tulang manusia berserakan di mana-mana. 

 

Dalam hati, Nabi Uzair sempat bertanya-tanya, “Bagaimana Allah menghidupkan tubuh-tubuh hancur ini seperti ini?” Allah menjawab pertanyaannya. Ia ditidurkan di bawah pohon desa selama 100 tahun. Tubuhnya sampai hancur dengan tanah. Begitu pun keledainya. 

 

Ketika Nabi Uzair terbangun, tubuhnya kembali utuh. Saat itu pula dirinya menyaksikan kekuasaan Allah membangkitkan keledainya yang sudah hancur jadi tulang, bahkan yang sudah menjadi tanah. Berkat jasanya menjadi bukti kekuasaan Allah, keledai itu pun dijamin masuk surga. (Lihat: Tarikh ath-Thabari, [Beirut: Darut Turats], 1387 H, juz I, halaman 490; lihat pula: al-Muntazhim fi Tarikh al-Muluk, juz I, halaman 396).

 

Ustadz M. Tatam Wijaya, Penyuluh dan Petugas KUA Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.

Sumber : NU Online


Keislaman Terbaru