• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 28 Februari 2024

Sosok

Habib Luthfi Mursyid Thariqah Mahir Mainkan Alat Musik

Habib Luthfi Mursyid Thariqah Mahir Mainkan Alat Musik
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di acara Pengajian Jumat Kliwon (Foto: Istimewa)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di acara Pengajian Jumat Kliwon (Foto: Istimewa)

Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau yang biasa dipanggil Habib Luthfi dilahirkan di Pekalongan tepatnya pada tanggal 10 November 1946 atau pada tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. 

 

Habib Luthfi ini dilahirkan dari seorang Syarifah yang bernama Sayidah Al-Karimah As-Syarifah Nur. Habib Luthfi bin Yahya ini selain sebagai seorang ulama, beliau juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu anggota Mustasyar PBNU dan mahir mainkan alat musik.

 

Saat ini Habib Luthfi menduduki jabatan Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) dan Ketua Forum Ulama Sufi Dunia. Selain itu, Habib Luthfi juga dipercaya Presiden H Joko Widodo salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

 

Riwayat pendidikan Habib Luthfi, terutama mengenai pendidikan agama, tentu saja beliau mendapatkan ilmu agama Islam dari ayahanda tercintanya yaitu Habib al Hafidz Ali al Ghalib. Setelah mendapatkan pelajaran agama dari Ayahanda, Habib Luthfi bin Yahya kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Salafiah selama tiga tahun.

 

Menempuh Pendidikan
Setelah memperoleh didikan langsung dari kedua orangtuanya, pada usia 12 tahun Luthfi kecil mulai mengembara mencari ilmu. Pada usia itu ia ikut pamannya (Pakde), Habib Muhammad di Indramayu Jabar. Sejak itu ia keluar masuk pesantren. Tak lama nyantri di Bondokerep Cirebon, Yik Luthfi mendapatkan beasiswa belajar ke Hadramaut. Tiga tahun di sana, ia kembali ke tanah air, nyantri lagi ke sejumlah pesantren, yaitu Ponpes Kliwet Indramayu, Tegal (Kiai Said), Purwokerto (Kiai Muhammad Abdul Malik Bin Muhammad Ilyas Bin Ali).

 

Beliau juga pernah berguru kepada seorang ulama besar asal Lasem Rembang, Mbah Ma’shum. Selanjutnya, pada usia remaja ia dinikahkan dengan seorang gadis yang masih tergolong kerabat (satu fam), yaitu Syarifah Salma binti Hasyim bin Yahya. Dari pernikahan itu lahir dua orang anak laki-laki dan tiga perempuan, yaitu Syarif Muhammad Bahauddin, Syarifah Zaenab, Syarifah Fathimah, Syarifah Ummi Hanik dan Syarif Husain.

 

Kegiatan Dan Aktivitas Habib Luthfi bin Yahya

  1. Pengajian Thariqah tiap Jumat Kliwon pagi (Jamiul Usul Thariq al-Aulia).
  2. Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.
  3. Pengajian Fath al-Qarib tiap Rabu pagi (khusus untuk ibu-ibu).
  4. Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah (khusus ibu-ibu).
  5. Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).
  6. Dakwah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.
  7. Rangakaian Maulid Kanzus (lebih dari 120 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. 
  8. Dan kegiatan lainnya.

 

 

Akrab dengan Semua Kalangan
Meski secara nasab beliau keturunan Nabi Muhammad, tak pernah sedikit pun ada rasa sombong, meremehkan orang lain, termasuk non Arab (ajam). Selain didikan keluarga, sejumlah kiai yang pernah menjadi gurunya turut andil besar dalam mencetak kepribadiannya.

 

“Abahnya, Habib Ali juga pernah nyantri pada Mbah Sholeh Darat (Semarang). Seperti difirmankan Allah, yang penting kadar ketaqwaannya. Hal ini pun ditanamkan Abah pada beberapa habaib yang lebih yunior,” kata Kiai Zakaria.

 

Dari sini tak mengherankan jika dalam kehidupan sehari-hari Abah selalu menggunakan bahasa Jawa, bukan Indonesia apalagi Arab. Baik kepada santri maupun tamu yang dikenalnya. “Abah itu sudah njawani (cenderung Jawa), bukan habib yang eksklusif. Semua orang dan kalangan merasa dekat dengan beliau, karena Abah tak suka penghormatan yang berlebihan. Berapa pun jumlah orang yang ingin bersalaman, dilayani. Beliau malah tidak suka pengawalan khusus. Beliau sangat egaliter, merakyat,” timpal salah seorang dekatnya.

 

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Namun begitu beliau tak pernah membeda-bedakan. Dengan tekun Habib mendengarkan satu persatu permasalahannya untuk kemudian memberikan solusinya, sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Habib Luthfi memang seorang yang dikenal ‘gampangan’, tidak suka ruwet, apalagi neko-neko. Rumahnya 24 jam siap menerima tamu, dari orang biasa sampai pejabat. “Lha, pernah Bapak Kapolwil bertamu ke sini, malah diajak ikut rapat panitia maulid di luar. Terang saja panitianya yang kalang kabut. Tapi justru di situ nampak tidak ada perbedaan,” sambung Kiai Zakaria.

 

Beliau pun tak segan-segan ikut mengatur hal-hal yang dinilainya belum beres, secara spontan. Misalnya mengatur barisan yang sulit diatur (untuk itu beliau rela turun dari panggung, meninggalkan para undangan dan tamu terhormat). Ketika seluruh warga Pekalongan disibukkan dengan digelarnya Pekan Batik Internasional, pada saat acara seremonial pembukaan, di mana Wakil Presiden hadir, justru Habib Luthfi memilih pergi ke Surabaya, menjadi penceramah pada peringatan haul Sunan Ampel. “Bukan apa-apa. Undangan dari panitia haul Ampel sudah lama, jauh hari sebelum undangan Pekan Batik datang,” ujar Kiai Zakaria.

 

Bahkan beberapa saat lalu, beliau rela harus bolak-balik Pekalongan-Semarang, demi menghadiri undangan santrinya yang kebetulan bekas napi, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Jadi Abah sangat menjaga. Terlebih yang mengundang adalah mantan pentolan bromocorah, yang kemudian insaf dan minta diaku santri oleh Abah. Makanya Abah begitu memperhatikan. Sampai-sampai begitu masuk Jawa Tengah, beliau dikawal dari Polwil. Selain dalam rangka menyenangkan orang (idkhalus surus), itu juga menjaga nama baik sang santri di depan masyarakat setempat,” jelasnya.

 

Untuk itu yang mengherankan sekaligus membanggakan adalah kondisi fisik Habib Luthfi yang selalu fit meski sebagian besar waktunya terpakai untuk pergi keluar kota, demi dakwah Islam, khususnya tarekat. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit meski aktivitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur,” komentar mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan H Abul Mafachir suatu ketika, sembari menjelaskan kekagumannya, “Habib itu betah duduk berjam-jam hanya untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya. Malah kadang, tamunya itu tidak beliau kenal,” tambahnya.

 

 

Selama 40 tahun menjadi santri Habib imbuhnya, hal yang patut ditiru adalah keikhlasannya. “Habib Luthfi tidak pernah membeda-bedakan asal muasal santri. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari-hari jika Habib sedang berada di luar kota,” ujarnya.

 

Hingga kini, tak sedikit jabatan dan kedudukan yang diembankan ke pundaknya. Tapi itu semua tak membuat Habib merasa capek, merasa berat apalagi merasa terbebani. Jabatan yang pernah dan sedang disandangnya adalah Ketua Umum MUI Kota Pekalongan, sekaligus Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Beliau juga dipercaya menjadi penasihat utama KBIH Assalamah Pekalongan. Di samping seorang mursyid tarekat Syadzaliyah, beliau juga didaulat menjadi Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah (Jatman) hingga saat ini.  

 

Selain itu, beliau membentuk Paguyuban antar Umat Beragama Pekalongan (Panutan) dan kemudian dipercaya menjadi ketuanya. Ini dilakukan melihat Pekalongan adalah satu daerah yang rawan konflik. Dikisahkan, saat terjadi aksi perusakan dan pembakaran rumah serta fasilitas lainnya miliki keturunan China di Pekalongan dua puluh tahun silam (tepatnya pada 20 Nopember 1995), semua kiai Pekalongan angkat tangan. Maklum saja, pemicunya adalah dirobek-robeknya Al-Qur’an oleh salah seorang keturunan China, yang kemudian diketahui bahwa orang itu mengalami gangguan jiwa.

 

Pada saat genting itulah, di saat semua tokoh kewalahan, bahkan tak mampu mengatasi keadaan, Habib Luthfi tampil dengan pernyataan singkatnya: “Saya tidak ridla kalau santri saya ikut-ikutan aksi perusakan itu," Pada saat itu banyak kiai tersentak.”Gimana tidak kaget? Habib Luthfi membuat langkah yang melawan arus,” komentar Kiai Zakaria sambil membuka buku hariannya yang mengisahkan kejadian itu. Tapi nampaknya ungkapan beliau yang singkat itu sangat mujarab. Sejak itu, berangsur-angsur kondisi keamanan Kota Pekalongan kembali membaik.

 

Kalau kemudian Habib Luthfi dipercaya memegang banyak jabatan, itu karena dalam dirinya tertanam kepribadian sebagai muslim ideal. Selain memiliki jiwa kepimimpinan, beliau dikenal memiliki kapasitas keilmuan tinggi, termasuk ilmu pengetahuan umum. Dikisahkan, suatu ketika beliau diminta memberi ceramah agama dalam acara berkaitan dengan dunia pertanian. Ternyata yang disampaikan bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pertanian.  

 

“Sampai orang dinas pertanian terkagum-kagum, bahkan lalu bertanya bagaimana caranya menyuburkan kembali tanah yang terlanjur kering,” kisah Zakaria. Maka, Habib pun menjelaskan solusinya, lengkap dengan referensi ilmiah dalam ilmu pertanian. Begitu juga bidang-bidang lainnya, seperti perikanan.

 

Dalam satu kesempatan beliau menandaskan, baginya jabatan merupakan amanah dan tidak bisa diminta-minta. Kalau dipercaya menduduki jabatan, di mana pun tempatnya, dirinya menyatakan siap. Tidak harus jadi ketua, sehingga kalau tidak jadi orang nomor satu, emoh menjabat. Artinya, pengabdian dan perjuangan dapat dilakukan seseorang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

 


Habib Luthfi, Musik, dan NKRI 
Kecintaan Habib Luthfi bin Yahya kepada musik religi dan kebangsaan dapat dilihat dari lagu-lagu karyanya selama ini. Beliau tidak sekadar dapat memainkan alat musik, tetapi juga menciptakan lagu-lagu yang tidak asing khususnya bagi muridin yang tersebar seantero Nusantara bahkan dunia. 

 

"Lagu Cinta Tanah Air dan Padang Bulan adalah bukti bahwa Abah (panggilan akrab Habib Luthfi) memang piawai dalam bermain musik," ujar Wakil Wali Kota Pekalongan 2005-2010 H Abu Al-Mafachir. Dikatakan, dalam suatu kesempatan di acara Taushiyah Kebangsaan di Semarang Habib Luthfi bin Yahya dengan keyboardnya berkolaborasi dengan Romo Aloys Budi Purnomo yang piawai bersaxophone. 

 

"Persahabatan antara Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung dengan Mustasyar PBNU ini tidak hanya didasari oleh visi yang sama terhadap Kebhinekaan dan Keindonesiaan, tetapi juga oleh hobi yang sama," ujarnya. Kedua pemimpin agama yang berbeda ini sama-sama hobi bermusik. Habib Luthfi piawai memainkan keyboard, menciptakan lagu, dan menyanyi. Banyak lagu ciptaan Habib Luthfi mudah didengar di kalangan Nahdliyin. Sementara Romo Budi, dalam setiap kesempatan tak pernah lepas dari saxophone-nya. 

 

"Ini sahabat lama saya, sama-sama senang musiknya sama, dan saxofonnya itu yang selalu mengalun luar biasa improvisasinya yang top luar biasa," kata Habib Luthfi sebagaimana ditirukan Abu Al-Mafachir. Abu Al-Mafachir menceritakan, dirinya pernah mengantar seniman asal Jepara Jawa Tengah yakni Jamal Mirdad untuk menemui Habib Luthfi. Oleh Habib, kemudian ia diantar ke salah satu sudut ruangan yang berisi seperangkat alat musik dan hasil rekaman suaranya. Tampak sekali kekaguman Jamal atas suara dan kreasi musik yang dihasilkan. 

 

"Untuk mencapai tingkat kualitas hingga bisa masuk dapur rekaman diperlukan berbagai persiapan secara khusus, ternyata Habib Luthfi tidak memerlukan waktu yang cukup lama," ujarnya. Musik oleh Habib Luthfi menjadi hiburan sehari-hari. Tidak saja sebagai penikmat musik. Ia juga ahli memainkan alat-alat musik dan mengarang lagu, terutama alat musik piano. Melalui musik dan lagu, Habib Luthfi menanamkan 'Hubbul Wathan Minal Iman' dengan slogannya 'NKRI Harga Mati'. Kadar bobot keimanan seseorang tergantung pada kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kadar bobot kecintaan pada bangsa, tergantung kecintaannya pada Tanah Air.  

 

"Bila telah melekat cinta pada bangsa, tidak akan mudah di telinga kita dikorok dan dibenturkan oleh sesama kita. Karena itu kepada segenap umat beragama khususnya umat Muslim untuk merapatkan barisan, jangan berikan celah sedikit pun kepada siapa saja yang ingin memecah-belah bangsa ini," pesan Habib Luthfi. 

 

Penulis: M Ngisom Al-Barony
Editor: Samsul Huda


Sosok Terbaru