• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Nasional

NU Jateng: Ikuti Ajaran Rasulullah Harus Total

NU Jateng: Ikuti Ajaran Rasulullah Harus Total
Ketua PWNU jawa tengah KHM Muzamil di acara Muslimat NU di Semarang (Foto: NU Online Jateng/Insan Al-Huda)
Ketua PWNU jawa tengah KHM Muzamil di acara Muslimat NU di Semarang (Foto: NU Online Jateng/Insan Al-Huda)

Semarang, NU Online Jateng
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Muhammad Muzamil mengatakan, pada dasarnya beragama Islam adalah mengikuti atau itba' kepada Rasulullah Saw dan para sahabatnya secara menyeluruh, yang meliputi perkataan, tindakan, dan persetujuan-persetujuannya, atau yang disebut dengan sunnah-sunnahnya.


"Itba' ini kalau kita mengetahui dalil-dalilnya, kalau belum mengetahui dalil-dalilnya disebut dengan taklid," ujarnya dalam acara Bimbingan Teknis (Bintek) Majelis Ta'lim Hidmat Muslimat NU Jateng di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Banyumanik, Kota Semarang, Sabtu (24/9/2022) malam.


Menurutnya, apa-apa yang datang dari Rasulullah Saw merupakan Wahyu dari Allah Taala yang wajib diyakini, difahami dan diamalkan.

 
"Tentu saja para sahabat Nabi Saw yang dapat memahami apa-apa yang datang dari Rasulullah Saw tersebut. Karena itu selain kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan hadits, juga berpegang teguh pada ijma para sahabat Nabi Saw, serta qiyas," ucapnya.


Dikatakan, Ahlussunnah wal jamaah atau aswaja memiliki ruang lingkup yang luas, meliputi akidah, syari'ah dan akhlak. "Semua itu dipelajari dan dilakukan dengan cara bermazhab kepada para imam madzhab yang mu'tabar dan indah yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki sanad yang kuat dan bersambung hingga Rasulullah Saw," terangnya.


Karena itu lanjutnya, aswaja bukan semata tentang amaliyah seperti tawasul, ziarah kubur, membaca manaqib dan seterusnya. "Semua itu penting untuk dilakukan, namun ada hal lain yang sama pentingnya, yakni tentang fikrah dan harakah," tegasnya.


Menurutnya fikrah ulama aswaja perlu juga dipelajari mulai dari pemikiran ulama generasi sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta ulama khalaf. Begitu juga dengan gerakan yang dilakukan ulama terdahulu khususnya dalam mewujudkan kemaslahatan dan menghindari madlarat bagi umat pada eranya. 


"Semua ini merupakan khasanah keilmuan dan gerakan yang tak akan pernah selesai untuk dipelajari dan dikaji pengembangannya," ungkapnya.


Menurutnya, pemikiran yang dihasilkan dan gerakan yang dilakukan ulama terdahulu, tidak muncul ke permukaan di ruang yang kosong, melainkan terdapat latar belakang sosial, ekonomi, politik dan budaya yang melingkupinya. 


"Hal seperti inilah juga perlu dikaji sehingga umat dapat mengetahui tidak saja dalil naqli, melainkan juga mengetahui dalil aqlinya," sarannya.


Disampikan, dalil naqli dan aqli sama pentingnya, dan tidak bisa dikesampingkan salah satunya. "Karena naqli dan aqli sama-sama karunia Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, meski kita harus mendahulukan dalil naqli terlebih dahulu, kemudian baru menggunakan dalil aqli," pungkasnya. 


Acara Bintek yang berlangsung dua hari tersebut, selain mengundang narasumber dari PWNU, juga dari PW Muslimat NU Jateng, Hidmat Muslimat NU, Kanwil Kemenag Jateng, dan Balai Diklat Keagamaan Semarang dengan peserta utusan dari Pimpinan Cabang Mulimat NU se-Jateng.


Pengirim: Insan Al-Huda


Nasional Terbaru