• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Regional

Kirab Tumpeng Sewu Meriahkan Malam Selikur Ramadhan di Solo

Kirab Tumpeng Sewu Meriahkan Malam Selikur Ramadhan di Solo
Kegiatan kirab tumpeng malam selikur ramadhan di Kota Solo (Foto: NU Online Jateng/Taufiq Efendi)
Kegiatan kirab tumpeng malam selikur ramadhan di Kota Solo (Foto: NU Online Jateng/Taufiq Efendi)

Surakarta, NU Online Jateng
Malam 21 Ramadhan 1445 Hijriah yang jatuh pada Ahad (31/3/2024) disambut dengan iringan 'Kirab Tumpeng' dan abdi dalem Kraton Kasunan Surakarta membelah jalan Slamet Riyadi Solo pada petang hari 31 Maret 2024.


Tradisi yang menandai masuknya umat muslim pada malam selikur atau 21 Ramadhan diisi dengan kirab diikuti oleh Abdi Dalem Kraton Kasunanan Surakarta membawa tumpeng, bendera serta lampion. Dibelakangnya, para pendekar Pagar Nusa turut hadir dalam barisan. Mereka berjalan beriringan dari Kraton/Masjid Agung menuju Taman Sriwedari. 


Acara dengan tema 'Pengajian Akbar Malam Selikuran' bisa dilaksanakan berkat sinergi antara Pemkot Solo, Kraton Kasunanan, PCNU Solo, serta MSM Solo. Hal ini tentu saja menyita perhatian warga Solo dan para pengguna jalan.


Kanjeng Raden Aryo (KRA) Kurdiyanto Nagoro dari Kraton Kasunanan menceritakan sejarah malam selikuran yang sudah ada sejak masa Paku Buwono IX. "Dahulu, kirab abdi dalem dan iringan tumpeng, dibawa dari Keraton sampai Bon Rojo. Kirab menggunakan lampu ting sebagai penerang. Sedangkan tumpeng sewu sebagai perlambang malam seribu bulan (lailatul qadar)," ujarnya.


Momen menarik, terjadi ketika di tengah acara, abdi dalem membawa jodang berisikan nasi tumpeng/berkat ke tengah kerumunan warga serta jamaah yang hadir. Suasana semakin riuh dan penuh kemeriahan. Terlihat dari antusiasme masyarakat yang saling berebut sajian Tumpeng Sewu.
 


Fitri, perempaun asal kampung Tipes Solo mengaku senang mengikuti acara tersebut. "Senang sekali tadi berebut kita semua dapat. Nguri nguri budaya sekaligus mengharapkan keberkahan dari malam lailatul Qadar," jelas wanita yang hadir bersama keluarganya kepada NU Online Jateng.


Hal senada juga diungkapkan, Rizky yang sudah sejak beberapa hari mengetahui acara tersebut dari baliho. "Sengaja datang pengen merasakan malam selikuran di Sriwedari. Menyenangkan. Pas berebut tadi juga dapat 1 bungkus" ungkap pemuda asal Tawangsari Sukoharjo.


Pada penutup acara, Penghulu Tafsir Anom Kraton Surakarta KRT KH Moh. Muhtarom lewat tausiyahnya mengharap semangat dan keberkahan dari malam lailatul qadar mampu memberi pemahaman kepada seluruh jemaah bahwa sinergi antara ulama dan umaro senantiasa diperlukan. 


Pengirim: Taufiq Efendi


Regional Terbaru