
Ketua PP KPNU KH Joko Parwoto saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Rakernas KPNU, Jumat (5/3) (Foto: istimewa)
Temanggung, NU Online Jateng
Pengurus Pusat Kader Properti Nusantara Utama (KPNU) menggelar Rapat Kerja Nasional, yang diselenggarakan selama tiga hari, Jumat-Ahad (5-7/3) di Balai Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Pertanian Perkebunan (BPSDM TANBUN) Jawa Tengah, Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diikuti perwakilan cabang dari berbagai daerah.
Ketua Pengurus Pusat KPNU KH Joko Parwoto menjelaskan lahirnya KPNU ini berawal dari keprihatinan yang terjadi, yakni ketertinggalan nahdliyin dalam pengembangan properti. “ini misi kita. Edukasi terkait pembelian dan pemanfaatan lahan, yang nantinya dapat dijadikan lahan pemukiman, peternakan, pertanian, dan lain-lain sesuai kebutuhan,” terang Kiai Joko, di sela acara Rakernas KPNU, Sabtu (6/3).
Kiai Joko yang juga Katib PCNU Kab. Boyolali memberikan gambaran, saat ini di dunia properti, hampir dikuasai oleh kelompok konvensional dan juga pengembang yang pada akhirnya digunakan untuk pengembangan ideologi tertentu.
“Oleh karena itu, untuk mengimbanginya, nantinya bisa kita lakukan dengan aksi membeli lahan secara berjamaah, kemudian kita manfaatkan sesuai kultur warga NU,” terang Kiai Joko.
Ditambahkan Kiai Joko, KPNU sendiri merupakan sebuah gerakan untuk mendidik masyarakat, terutama warga NU, akan pentingnya ilmu properti. Programnya, membimbing menjadi developer berakhlak islami dan mengajak nahdliyin akan pentingnya tanah air Indonesia.
“Hubbul wathan minal iman, harus betul-betul diaplikasikan. Tidak hanya sekarang, tapi seratus tahun lagi. Kita harus mensyukuri karunia dari Allah SWT berupa tanah dan air Indonesia. Jangan sampai kita seperti Palestina, yang penduduknya sekarang justru kehilangan tanah air,” tegas Pengasuh Pesantren I’jazul Qur’an Sawit Boyolali itu.
para peserta Rakernas KPNU di Temanggung, Jateng
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, yang hadir dalam acara pembukaan juga menegaskan pentingnya bagi NU untuk memiliki lahan sendiri.
“Secara kolektif, jamiyyah NU harus punya pengelolaan atas kepemilikan NU. Supaya kita punya hak untuk mengelola lahan tersebut, yang itu dikelola oleh kita sendiri. Mau tawasulan bebas, wiridan bebas, tarawih 20 rakaat bebas, wong tanah-tanahe dewe,” tukas Kiai Marzuki.
Kiai Marzuki membayangkan seandainya NU membuat perumahan, kemudian di situ ada masjid atau mushola, maka dapat dimanfaatkan untuk membantu guru madrasah, marbot, pengurus, dan warga NU yang masih belum memiliki rumah. “Adanya KPNU bisa diharapkan menolong mereka,” tuturnya.
Penulis: Ajie Najmuddin
Editor: M. Ngisom Al-Barony