• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Keislaman

‘Ingat Sama Yang Di Atas!’, Menyebabkan Kekufuran?

‘Ingat Sama Yang Di Atas!’, Menyebabkan Kekufuran?
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Sudah tidak asing lagi di masyarakat ketika seseorang hendak menegur orang lain yang akan melakukan kemaksiatan, maka spontan ia berkata “Ingat Sama yang Di Atas!”. Perkataan tersebut merupakan bentuk teguran agar seseorang selalu ingat kepada Allah yang selalu mengetahui gerak-gerik hambaNya. Hanya persoalnnya, berbahayakah kalimat tersebut terhadap keimanan kita?  

 

Berikut jawabannya. Kata “Atas” dalam kalimat teguran di atas menunjukkan salah satu dari arah. Setidaknya terapat  6 kata yang menunjukkan arah, yakni: bawah, kanan, kiri, depan, belakang dan atas. Sedangkan kata “arah” itu sendiri  melekat pada makhluk. Dalam arti jika sebagian dari sifat Allah itu menyerupai makhluk, maka rancu  sebab Allah berfirman;

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

 

Artinya: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Allah itu Maha Mendengar dan Melihat. (Asy Syuura 42:11)

 

Allah juga berfirman demikian;


يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ

 

Artinya: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka.” (An Nahl 16:50)

 

Maka para ulama menta’wil makna ayat tersebut, bahwa yang dimaksud “Atas” adalah derajat tinggi nan agung bagi Allah Swt. (Tuhfatul Murid Syarah Jauharotut Tauhid : Hal. 119)

 

Imam Sanusi dalam Syarah Al Kubro mengutarakan bahwa sebuah arah itu terikat pada tempat, dan setiap yang bertempat merupakan jirm, sedangkan Allah bukan jirm. Dalam arti, jika seorang menyakini, sebagaimana golongan Karomiyyah dan Hasyawiyyah yang dengan jelas mengatakan, bahwa Allah itu diatas, dalam arti bertempat diatas, maka tidak dapat dibenarkan sebab hal tersebut sama saja menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Yang berarti jika Allah mempunyai satu sifat saja yang sama dengan makhluknya, maka Allah itu hadits, jika Allah itu hadits, maka butuh muhdist, begitu seterusnya hingga terjadi daur dan tasalsul.

 

Konsekuensi menyerupakan Allah terhadap makhluk dengan penyerupaan yang tidak blak-blakan, memang bukan termasuk perkara yang menyebabkan kufur. (Hasiyyatar-Ramli ala AsnalMathalib:I/220) Namun, perbuatan tersebut sudah menjerumuskan pelakunya ke dalam bid’ah. (Fatawiar-Ramli: IV/20)

 

Menanggapi kalimat “Ingat sama yang diatas”, Imam Bajuri mengutarakan demikian:

 

اعلم : أن معتقد الجهة لا يكفر كما قاله العز بن عبد السلام، وقيده النووي بكونه من العامة، وابن ابي جمرة بعسر فهم نفيها. وفصل بعضهم فقال : إن اعتقد جهة العلو لم يكفر؛ لأن جهة العلو فيها شرف و رفعة في الجملة، وإن اعتقد جهة السفل كفر؛ لأن جهة السفل خسة ودناءة. (حاشية الباجوري على الجوهرة <ص 
١٦٥>)

 

Artinya: “Ketahuilah seorang yang menyakinijihhah (arah) itu tidak dapat dikatakan kafir, sebagimana yang dikemukakan oleh Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam. Lalu diqoyyidi oleh Imam Nawawi sebab adanya perkataan tersebut dari orang awam. Dan juga oleh Imam Ibnu Abi Jamroh sebab sulitnya untuk memahami dari menafikan jihhah. Kemudian sebagian Ulama memerinci; ketika seorang mengatakan jihhah atas, maka tidak dapat dihukumi kafir, sebab secara global jihhah atas adalah kemulian dan derajat tinggi. Sedangkan ketika meyakini jihhah bawah, maka dapat dikatakan kafir, sebab jihhah bawah adalah kerendahan dan kehinaan.” (Hasyiah al-Bajuri ‘alal Jauharah, hal. 165).

 

Kesimpulannya, orang yang mengatakan “Ingat sama yang di atas”  selama tidak meyakini Allah bertempat di atas, maka tidak perlu dipermasalahkan ataupun dihukumi kafir selama secara komprehensif yang dimaksud “Atas” adalah suatu kemulian dan derajat yang tinggi. 

 

M. Altriono, mahasantri Ma'had Aly Faidhu Dzil Jalal Ngangkruk Grobogan


Keislaman Terbaru