Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Mendahulukan Pasien Covid dan Mengakhirkan Debat

Mendahulukan Pasien Covid dan Mengakhirkan Debat
Foto: Ilustrasi (detik.com)
Foto: Ilustrasi (detik.com)

Pandemi covid sudah memakan korban banyak, maka sikap dan tindakan yang  terpenting untuk dilakukan adalah menangani korban atau pasien terlebih  dahulu. Adu argumen teori, teori konspirasi, teori mistik, pesekongkolan global, konspirasi politik, perdebatan ras, etnis, agama, suku, dan tetek mbengek topik lainnya sebaiknya dikesampingkan dulu dan lebih mementingkan untuk memberikan pertolongan terhadap korban atau pasiennya.

 

Nilai-nilai filosofi emergency kecelakaan mesti diingat bahwa dalam kejadian kecelakaan dan banyak korban di dalamnya, maka prioritas utama yang mesti dilakukan adalah menolong si korban terlebih dahulu bahkan boleh mengesampingkan informed consent yang dalam keadaan normal sangat hal itu wajib dilakukan. Karena itulah jangan sampai terjadi, jika ada kecelakaan, ada korbannya  yang sedang berjuang agar bisa bernafas dalam kondisi kejang-kejang dibiarkan, sementara debat mencari siapa yg nabrak malah lebih dinomersatukan.

 

Bahkan perdebatannya diperseru dengan melebarkan area topik tentang teori berlalu lintas, lebih tertarik menyalahkan orang lain yang ada di sekitar TKP dan hal-hal lain yang seringkali kontra produktif. Sementara dalam waktu bersamaan korbannya yang sedang berjuang menahan rasa sakit malah dibiarkan begitu saja mendekati maut, sangat memprihatinkan!? Seharusnya, memberikan pertolongan kepada korban atau pasien harus diprioritaskan melalui berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan kita dan pastikan setiap kita, setiap orang punya kemampuan akan hal itu sesuai kapasitas kita masing-masing.

 

Baru setelah itu dibangun narasi tentang investigasi, siapa yang menabrak, teori kecelakaan lalu lintas dan seterusnya dan seterusnya. Barangkali masih ada seseorang atau sedang lupa berfikiran yang tidak sistematis sehingga terjebak pada situasi berfikir tidak logis (ghoiru ma'qul) maka perlu adanya pencerahan-pencerahan.

 

Baca juga:

 

 

Logika Kalimat Pasif

Menarik bagi kita yang pernah ngaji shorof jika dikaitkan dengan kontek ini saat kita berkenalan dengan kalimat aktif dan pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang mempunyai kata kerja aktif, fi’il ma’lum (فِعْل مَعْلُوْم). Kalimat pasif adalah kalimat yang mempunyai kata kerja pasif, fiil Mahjul (فِعْل مَجْهُوْل). Kita bisa melihat kalimat aktif: ضَرَبَ زَيْدٌ بَكْرًا (Zaid telah memukul Bakr ). kalimat Pasif: ضُرِبَ بَكْرٌ (Bakr telah dipukul).

 

Kalimat aktif: Fi’il ضَرَبَ (memukul) adalah fi’il madhi ma’lum yang muta'adi (kata kerja aktif yang membutuhkan obyek). Fa’il atau pelakunya adalah Zaidun, marfu', dhommah, bersifat aktif (melakukan pekerjaan yakni memukul) dan Bakran adalah maf'ul bih (Obyek/korban), mansub (fathah tanwin) dan dikasih tanda alif yang kita sebut sebagai alif tanwin nasob, بَكْرًا.

 

Kalimat Pasif: fiil ضُرِبَ adalah fi’il madhi majhul perubahan dari fiil madhi ma'lum yg muta'adi (kata kerja pasif). Bakrun adalah Naib al-Fa’il ( نَائِبُ الْفَاعِل ) atau pengganti fail , marfu', dibaca dhommah. Bakr dalam kalimat aktif adalah maf'ul bih, mansub, fathah, بَكْرًا atau korban, ketika kalimatnya menjadi pasif maka nama Zaidun sebagai pelaku sama sekali tidak muncul karena tidak boleh dimunculkan dalam kaidah bahasa arab yang dimunculkan adalah KORBANNYA yaitu Bakr yang berubah posisi i'robnya dari maf'ul bih بَكْرًا, mansub (fathah) dalam kalimat aktif kemudian berubah dalam kalimat pasif menjadi Na'ibul fail, marfu', dhommah, ٌبَكْر . 

 

Contoh yang lebih detail sebagai  ilustrasinya bisa kita tampilkan; Kalimat aktif اَصَابَ الْكَوْفِيْدُ بَكْرًا Virus covid menginfeksi (menyakiti) bakr (bakron). Kalimat pasif اُصِيْبَ بَكْرٌ Bakr (bakrun) terinfeksi (tersakiti). Fi’il Majhul dibentuk dari Fi’il Ma’lum yang muta'adi dengan perubahan sebagai berikut: (a) Huruf pertamanya menjadi berbaris dhammah. (b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris kasrah untuk Fi’il Madhy dan menjadi berbaris Fathah untuk Fi’il Mudhari’.

 

Dalam kalimat pasif, fiil majhul dari fiil ma'lum yang muta'adi tersebut. Pelakunya tidak diketahui, disimpan, atau memang sengaja tidak dimunculkan. Jadi bagian penting yang dimunculkan adalah naibul failnya, pengganti pelaku yaitu korbannya. Filosofinya adalah ngurusi korbannya dulu dengan tidak memunculkan siapa pelaku aktifnya. Ini semua makna filosofisnya adalah lebih penting membahas, melayani, menangani, dan merawat korbannya dulu, bukan sibuk mencari siapa pelakunya.

 

So ayo dalam pandemi Covid ini dahulukan korbannya (pasiennya) dulu, bantulah korbannya dulu sebisa mungkin dan sampingkan pembahasan siapa yg tanggung jawab, siapa pelakunya, bagaimana terjadinya dan segala macam teori (teori global, teori konspirasi, dan sebagainya) atau perdebatan-perdebatan lainnya yang seringkali hal itu malah menjadi kontra produktif.

 

Karena itulah, mari barisan dirapatkan untuk membantu korban terlebih dulu dengan dilandasi niat yang ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya. Setelah menangani, merawat dan menyelamatkan korban dengan sebaik mungkin baru kita membahas topik-topik lainnya mulai dari hulu sampai hilir, termasuk membahas tim satgas, karekterestik virus corona, vaksin, prokes, regulasi PSSB, PPKM, Lockdown, karantina, jogo tonggo, ketersediaan oksigen, dan instrumen-instrumen lainnya. Kemudian baru bahas teori-teori konspirasi global, politik, dagang, klenik, dan sebagainya juga bisa diperbincangkan. Bersatu lawan covid bisa. Salam sehat selalu.

 


dr H Abdul Aziz, Direktur Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSINU) dan Ketua Pengurus Cabang (PC) lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU) Kabupaten Demak 

// centerMode:true,