Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Kiai Baidlowi Lasem Rembang, Ulama Ahli Tasawuf Terkenal di Haramain

Kiai Baidlowi Lasem Rembang, Ulama Ahli Tasawuf Terkenal di Haramain
Almaghfurlah KH Baidlowi Tsani bin Abdul Aziz (foto: Istimewa)
Almaghfurlah KH Baidlowi Tsani bin Abdul Aziz (foto: Istimewa)

Pengantar

Kamis (27/5) di Pesantren Wahdatut Tullab 'Al-Wahdah', Sumbergirang, Lasem, Rembang sedang berlangsung peringatan Haul ke-51 KH Baidlowi Tsani bin Abdul Aziz. Siapakah beliau? Berikut kami turunkan tulisan tentang KH Baidlowi Tsani yang dikutip dari berbagai sumber.



KH Baidlowi Lasem adalah salah satu sosok kiai yang sangat alim dan dalam sekali penguasaan keilmuannya. Banyak sekali disiplin keilmuan agama maupun umum yang beliau kuasai. Tidak hanya alim, akan tetapi beliau juga arif dan bijak dalam memberikan solusi.


Salah satu buktinya adalah fatwa–fatwa beliau yang sampai sekarang kita bisa rasakan. Yakni pendapat beliau diperbolehkannya membayar zakat fitrah dengan makanan pokok sesuai dengan makanan pokok yang dikonsumsi di daerah tersebut sebagaimana yang telah termaktub dalam beberapa kitab fiqih. Oleh karena itu beliau menfatwakan diperbolehkannya zakat fitrah berupa Jagung. 


Dari segi ilmu ketasawufan beliau juga terkenal sebagai Mursyid Sattariyah dan beliau pula ketua pertama saat berdirinya Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) dengan gelar Rais Akbar. Seperti halnya KH Hasyim Asy’ari menjabat Rais Akbar Nahdlatul Ulama (organisasi induk dari Jatman).


Selain aktif di organisasi NU dan juga berdakwah keluar. Hebatnya, beliau  tidak pernah melupakan tugas utama yaitu mendidik para santri di Pesantren Al-Wahdah Sumbergirang, Lasem, Rembang.


Kiai Baidlowi lahir di Lasem, Rembang Jawa Tengah pada 12 Syawal 1297 H atau 17 September 1880. Darah genetiknya masih bersambung dengan Sayyid Abdurrahman atau dikenal Mbah Syambu Lasem. Nasab beliau yakni Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Aziz bin Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Syambu) bin Sultan Benowo bin Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Dari nasab ini berarti Kiai Baidlowi masih mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah SAW. Sebab, Mbah Syambu adalah seorang Sayyid (keturunan Rasulullah) yang bermarga Syaiban.


Daerah Lasem, tempat kelahiran Kiai Baidowi sejak dulu dikenal sebagai tempat penyebaran agama Islam. Karena itu Lasem sampai saat ini dianggap sebagai salah satu kota santri. Konon, kiai-kiai besar di Tanah Jawa adalah keturunan dari kiai asal Lasem. Mereka tersebar ke berbagai daerah seperti Jombang, Pati, Langitan, Semarang, Jember, dan lain-lain. Sang ayah, Kiai Abdul Aziz adalah tokoh terkemuka di daerah Lasem, kepadanya lah Kiai Badilowi belajar dasar-dasar ilmu keIslaman.


Semenjak sang ayah meninggal dunia ketika usia Kiai Baidlowi masih tergolong remaja, ia memutuskan melakukan pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Nusantara. Setelah belajar ke banyak pesantren, Kiai Baidlowi melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Haramain. Di Makkah ia berguru kepada ulama-ulama besar Haramain. Selain itu beliau juga berguru kepada ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz al-Turmusi, Syekh Umar Syatha, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan lain-lain.


Sejak di Haramain, Kiai Baidlowi Sudah dikenal kealimannya. Karena itu, ia dengan cepat diangkat sebagai ulama yang berwenang untuk mengajar di Masjidil Haram. Salah satu santri didikannya adalah Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani. Bahkan karena kiprahnya yang menonjol di Tanah Haramain beliau masuk dalam kitab ‘Alamul al-Makkiyin karya Syaikh Abdallah Abdurrahman, sebuah kitab yang menghimpun ulama-ulama besar Makkah.


Tak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang kiprah ulama-ulama Nusantara di Makkah atau Haramain. Padahal begitu banyak ulama Nusantara yang mendunia karena keluasan ilmunya, bahkan menjadi guru utama di Masjidil Haram. Salah satu di antara ulama-ulama itu adalah Kiai Baidlowi Lasem. Beliau dijuluki Alamu al-Makkiyin, ulama besar Tanah Haramain.


Namun demikian, sejak konflik Turki-Arab terjadi berkepanjangan di Haramain, Kiai Baidlowi harus kembali ke Tanah Air. Kedatangannya disambut gembira oleh ulama dan masyarakat. Ia menjadi harapan perjuangan dakwah Islam, terutama melalui Pesantren al-Wahdah Lasem. Sejak kedatangannya, banyak santri berdatangan menimba ilmu di pesantren al-Wahdah. Sosoknya yang alim menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.


Di antara santri-santrinya yang menjadi ulama besar adalah Kiai Khudlori Tegalrejo Magelang, Kiai Maimoen Zubair Sarang, Kiai Asrori Magelang, Kiai Sahlan Temanggung, Kiai Dahlan, Kiai Hafidz Rembang, Kiai Hasyim Purworejo, Kiai Wahib Wahab Hasbullah Jombang, dan Kiai Dimyati Banten (Abuya Dimyathi).


Selain kiprahnya dalam dakwah Islam, Kiai Baidlowi juga berperan dalam kemelut kenegeraan dan kebangsaan. Bahkan beliau adalah sosok yang pertama kali melegitimasi kepemimpinan Bung Karno. Ketika Bung Karno ditetapkan sebagai presiden pertama Republik Indonesia, sebagian kelompok Islam tidak setuju. Tarik ulur silih berganti antarsesama ulama mengenai hujjah atas status Bung Karno.


Setelah perdebatan tak menemukan titik temu alias deadlock, Kiai Wahab Chasbullah meminta saran Kiai Baidlowi. Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, “Soekarno Huwal Waliyyul Amri Al-Dioruri Bisy Syaukah (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat). Dari legitimasi hukum yang keluar dari pernyataan Kiai Baidlowi, ulama-ulama besar seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisyri Syansuri dan sedereta kia-kiai NU akhirnya sepakat dengan pendapat Kiai Baidlowi.


Ada sebuah kisah tentang kedekatan dan kesederhanaan beliau dengan para santri dan pengajar di Pesantren al-Wahdah. Salah satu cerita yang menggambarkan kedekatan beliau dengan santri yaitu, suatu ketika pada malam hari seperti kebiasaan beliau setiap malam, setelah qiyamullail Kiai Baidlowi berjalan mengitari Pesantren dan melihat–lihat ihwal santri di malam hari yang kebanyakan sedang tertidur.


Tatkala beliau asyik mengitari Pesantren, tiba-tiba Kiai Baidlowi ingin 'buang Hajat', seketika itu juga beliau langsung menuju toilet yang diperuntukkan bagi santri.


Di tengah-tengah beliau 'buang hajat, tiba-tiba pintu toilet ada yang mengetuk “tok, tok,tok” dan terdengar pula suara deheman dari dalam toilet, seperti halnya santri pada umumnya biasa bercanda, santri yang mengetuk itu langsung nyeletuk berkata “Faham, faham seng faham Bidayah (faham, faham yang sudah faham Kitab Bidayah) ucap Santri merespons deheman 'orang' yang di dalam toilet.


Setelah KH Baidlowi selesai 'buang hajat' beliau membuka pintu toilet, alangkah kaget sang santri yang mengetuk dan berucap "Faham kitab Bidayah" tadi seraya tertunduk malu, lalu KH Baidlowi berkata seraya tersenyum “ojo’ o Bidayah, Ihya’ ae aku faham / jangankan kitab bidayah, kitab ikhya’ saja saya faham.


Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengajak umat Islam meneladani sepak terjang perjuangan KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem baik dalam pengembangan dakwah Islam, menyiapkan kader, maupun perjalanan sejarah kebangsaan.


"Mbah Kiai Baidlowi ulama yang sangat sederhana tetapi kealiman dan reputasinya mendunia," kata Gus Baha  dalam upacara Haul ke-51 KH Baidlowi Tsani bin Abdul Aziz dan KH Cholil bin Abdullah Umar di halaman Pesantren Wahdatut Tullab 'Al-Wahdah' Lasem, Kabupaten Rembang, Kamis (27/5).


Dikatakan, Mbah Dlowi, panggilan akrab KH Baidlowi salah satu kesuksesannya adalah santri-santri yang diasuhnya dikemudian hari menjadi tokoh, kiai, dan ulama hebat yang tersebar di berbagai penjuru di tanah air. 


"Sejumlah kiai besar yang pernah mengaji kepada beliau antara lain Kiai Khudlori Magelang, Kiai Maimoen Zubair Sarang, Kiai Asrori Magelang, Kiai Sahlan Temanggung, Kiai Dahlan, Kiai Hafidz Rembang, Kiai Hasyim Purworejo, Kiai Wahib Wahab Hasbullah Jombang, dan Kiai Dimyati Banten (Abuya Dimyathi)," terangnya.


Editor: M Ngisom Al-Barony


// centerMode:true,