Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Beri Semangat Santri-santrinya, Mbah Muntaha Wonosobo Lakukan Hal Ini

Beri Semangat Santri-santrinya, Mbah Muntaha Wonosobo Lakukan Hal Ini
Napak tilas KH Muntaha Al-Hafidz (tiga dari kanan) bersama para santrinya (Foto: Dok)
Napak tilas KH Muntaha Al-Hafidz (tiga dari kanan) bersama para santrinya (Foto: Dok)

Wonosobo, NU Online Jateng
Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Asy'ariyah Kalibeber, Mojotengah almaghfurlah Simbah Kiai Muntaha Al-Hafidz merasa prihatin dengan kondisi santri-santrinya. Beliau mendapati para santrinya agak kurang bersemangat dalam belajar Al-Qur'an. 

 

KH Nidhomudin Al-Hafidz, cucu Kiai Usman Kaliwungu mengutip dawuh Kiai Muntaha Al-Hafidz menceritakan, Mbah Muntaha pernah menyampaikan, santri jaman sekarang itu tinggal enaknya. Mau ngaji tinggal ngaji, tidak perlu perjuangan berat dalam mencari ilmu. 

 

"Udah gitu kok males-malesan," tuturnya. 

 

Disampaikan, untuk memberi semangat santri-santrinya dalam belajar di pesantren, Mbah Mun punya cara yang unik yakni mengajak santri-santrinya napak tilas rute. Waqila ini adalah perjalanan napak tilas terakhir yang diikuti langsung oleh Mbah Mun. 

 

"Rute yang dijalani adalah Kalibeber menuju Kaliwungu. Usia Mbah Mun waktu itu sekitar 70 tahun. Bahkan sempat di beberapa titik perjalanan Mbah Mun harus ditandu karena kecapaian," jelas KH Nidhomudin 

 

Dikisahkan, sepanjang perjalanan ketika menjumpai masjid atau mushala, Mbah Mun mengajak istirahat santri-santrinya dan membaca (nderes) Al-Qur'an di tempat itu. 

 

"Beliau pernah bercerita bahwa dahulu ketika berangkat mondok ke Kaliwungu, ke tempat Kiai Usman (pondok Kiai Usman berada di sebelah utara persis Masjid Agung Kaliwungu) Mbah Mun diantar oleh Mbah Asy'ari, bapak Beliau," ceritanya. 

 

Ditambahkan, Mbah Mun kecil (usia 14th) digendong bapaknya. Seiring Mbah Asy'ari kepingin punya anak yang 'alim Al-Qur'an, Kiai Asy'ari antar sendiri putranya ke Kaliwungu. Beliau naikkan putranya ke kuda, sedangkan Mbah Asy'ari sendiri berjalan kaki dan membawa bekal mondok putranya. 

 

"Mbah Asy'ari memanjakan putranya ketika berangkat mondok," ungkapnya. 

 

Menurut Kiai Nidzom, apa yang telah dilakukan Mbah Mun untuk menunjukkan betapa penuh perjuangan untuk menggapai ilmu yang dicita-citakan. Dirinya berpesan untuk para orang tua yang mempunyai anak dan ingin anaknya menjadi ahli ilmu, mulyakanlah segala hal yang berhubungan dengan ilmu. Terutama para ahli ilmu.

 

"Penting untuk kita tunjukkan secara langsung, perjalanan kehidupan kita kepada anak-anak kita, murid-murid kita sebagai pelajaran yang harus bisa diambil hikmahnya," ujarnya.

 

Kalau orang tua dan guru kita bertirakat untuk kita lanjutnya, kita juga harus bertirakat untuk anak-anak kita. Wallahu a'lam 

 

Ila ruhi Simbah Kiai Muntaha Al Hafidz, wa wasyayikhhi wa ushulihi wafuru'ihi, lahumul Fatihah.

 

Kontributor: Achmad Rohadi
Editor: M Ngisom Al-Barony