Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Arti 'Semua' dalam Sabda Nabi (2-habis)

Arti 'Semua' dalam Sabda Nabi (2-habis)
Ilustrasi
Ilustrasi

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya di sini

 

Saya sedang tak tertarik menjelaskan berbagai hadits yang mengecualikan ‘Semua bid’ah adalah sesat’. Itu membosankan sekali sebab sudah jadi pengetahuan umum berabad-abad hingga datang suatu golongan yang dengan polos menafikan semua itu. Hanya satu contoh saja yang saya kira menarik untuk disampaikan di sini, yaitu:

 

Imam Ahmad bin Hanbal, Sang Mujtahid pakar hadits yang biasanya dianggap paling ketat dan paling konsisten berpedoman pada sunnah Nabi oleh sebagian orang, menjelaskan tata cara berdoa dalam shalat yang sama sekali tak pernah diajarkan Rasulullah. Dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hanbali diceritakan:

 

قال الفضل بن زياد: سألت أبا عبدالله فقلت: أختم القرآن؛ القرآن أجعله في الوتر أو في التراويح؟ قال: اجعله في التراويح حتى يكون لنا دعاء بين اثنين. قلت: كيف أصنع؟ قال: إذا فرغت من آخر القرآن فارفع يديك قبل أن تركع وادع بنا ونحن في الصلاة وأطل القيام. قلت: بم أدعو؟ قال: بما شئت. قال: ففعلت بما أمرني وهو خلفي يدعو قائماً ويرفع يديه. قال حنبل: سمعت أحمد يقول في ختم القرآن: إذا فرغت من قراءة: قل أعوذ برب الناس فارفع يديك في الدعاء قبل الركوع. قلت: إلى أي شيء تذهب في هذا؟ قال: رأيت أهل مكة يفعلونه، وكان سفيان بن عيينة يفعله معهم بمكة. انتهى.

 

Artinya: “Fadl Bin Ziyad berkata: ‘Saya bertanya kepada Imam Ahmad (Abu Abdillah) ‘Saya menghatamkan Al-Qur’an (dalam shalat), Apakah Al-Qur’an itu sebaiknya saya khatamkan di shalat witir atau di shalat tarawih?,’

Dia menjawab: ‘Jadikan khataman itu di shalat tarawih sehingga kita berdoa di antara dua shalat,’.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.

“Bila kamu sudah sampai di akhir Al-Qur’an, angkat tanganmu sebelum ruku’, doakan kami dalam shalat dan lamakan berdirinya,” jawab Imam Ahmad.

“Dengan apa aku berdoa?” tanyaku

“Terserah kamu,” jawabnya.

Lalu aku melakukan apa yang ia perintahkan sedangkan dia di belakangku berdoa dengan berdiri sambil mengangkat tangannya.

Hanbal juga bercerita: Aku mendengar Imam Ahmad berkata tentang khataman Al-Qur’an: “Kalau kamu sudah selesai membaca Al-Qur’an, maka bacalah ‘Qul a’udzu birabbinnas’ dan Angkat tanganmu sebelum ruku’!”

Aku bertanya kepadanya: “Anda bersandar pada apa dalam hal ini?

Iman Ahmad: “Aku melihat orang Makah melakukannya dan Sofyan Bin Uyainah juga melakukannya berserta mereka di Makah”. (Ibnu Qudamah: al-Mughni)

 

Pertanyaannya: Apakah Imam Ahmad berikut Ibnu Qudamah dan tokoh madzhab Hanbali lainnya adalah ahli bid’ah sebab mengajarkan kita membuat tata cara baru dalam ibadah yang tidak pernah dilakukan Rasul?

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur