Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Idealisme Hadratus Syech KHM Hasyim Asy'ari

Idealisme Hadratus Syech KHM Hasyim Asy'ari
Hadratus Syech KHM Hasyim Asy'ari (Foto: NU Online)
Hadratus Syech KHM Hasyim Asy'ari (Foto: NU Online)

Hadratus Syech Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari, Ulama besar lahir di Jombang, Jawa Timur pendiri Nahdlatul Ulama merupakan tokoh ulama Indonesia yang pernah ikut serta dalam memperjuangkan Indonesia melawan penjajahan. Hal itu menunjukkan bahwa Kiai Hasyim memiliki sifat ketegasan dan pemberani dalam pemikiran politik. Penjajah berusaha keras menipu Kiai Hasyim dengan permainan politik kotor, tapi selalu gagal. Karena Kiai Hasyim mempunyai patokan sendiri dalam berkehidupan, urusan duniawi tidak akan tergoda.


Seorang penjajah hanya mempunyai pikiran, bahwa apa yang ada di dunia itu bisa ditukar dengan uang. Tapi hal itu tidak berlaku untuk mereka yang memiliki keyakinan. Karena yang namanya keyakinan itu tidak bisa dibeli dengan uang atau ditukar dengan harta duniawi. Apalagi penjajah ingin menipu Kiai Hasyim dengan politik, hal itu akan sia-sia saja. Kiai Hasyim selalu berpegang teguh dengan ajaran yang dianutnya. Jadi, untuk menghadapi soal politik itu hal yang mudah bagi Kiai Hasyim, asalkan harus mempunyai keyakinan dan pondasi pola pikir kuat.


Sikap pahlawan yang dimiliki Kiai Hasyim inilah mampu mengobarkan semangat untuk melakukan Resolusi Jihad NU pada tanggal 22 Oktober 1945. Lalu, hal itulah yang melegitimasi suatu perlawanan di Surabaya bertepatan pada tanggal 10 November.


Adapun isi dari Resolusi Jihad tersebut yaitu Pertama, wajib hukumnya membela negara demi melawan sebuah penjajahan, hal itu berlaku bagi umat Islam baik laki-laki maupun perempuan yang berada di radius 90 km. Kedua, Jihad dalam melakukan perlawanan dengan penjajahan, merupakan jihad fi Sabilillah, barang siapa yang mati di medan pertempuran maka orang tersebut akan dinyatakan mati syahid. Ketiga, Jika ada warga negara yang berkhianat terhadap bangsanya sendiri, lalu mau menjadi kaki tangan sebuah penjajahan, orang tersebut wajib hukumnya untuk dibunuh.


Setelah itu bertepatan dengan Muktamar ke-16 NU pada tahun 1946 yang diadakan di Purwokerto, Kiai Hasyim mengatakan, “Bahwa hukum Islam tidak akan berjalan dengan baik ketika negara dalam masa penjajahan”. Cobalah pahami secara betul dan seksama yang terkandung pada Resolusi Jihad tersebut. Isinya bersifat sangat tegas, tuntas, dan siap mengambil risiko. Hal itulah yang mengobarkan semangat perjuangan Bung Tomo untuk melakukan perlawanan 10 November 1945, yang sekarang ini sudah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional.

 

Keikutsertaan Kiai Hasyim dalam bidang spiritual sangat besar untuk menggerakkan rakyat melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Padahal penjajahan kala itu, merupakan gabungan dari Belanda dan Inggris. Tapi hal itu tidak menurunkan api perjuangan rakyat untuk mempertahankan negaranya sendiri. Kemudian Kiai Hasyim membentuk suatu ideologi bangsa. Berdasarkan pengalaman yang pahit pada masa penjajahan paling dzalim dan ingin segera mempercepat melepaskan tali laso penjajahan dari para leher rakyat yang ingin memajukan bangsa dengan sistem kolonial yang tidak layak pakai.


Kiai Hasyim juga menegaskan bahwa ideologi negera dan bangsa tidak bisa dipisahkan dengan buah hasil renungannya yang sangat bagus tentang prinsip persatuan umat yang bertujuan untuk mempersatukan bangsa. Selain itu, Kiai Hasyim juga telah memikirkan dampak perpecahan umat menjadi kehancuran suatu negara. 


Hal itu juga telah dijelaskan pada Mukkadimah al-Qanunal-Asasi AD/ART Nahdlatul Ulama, kutipan tersebut berisikan Kiai Hasyim berusaha untuk menyadarkan kita tentang pentingnya persatuan dan dampak bahaya suatu perpecahan umat. Maksud dari kata 'perpecahan' yaitu penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan, ujung kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. 


(Bisa dilihat pada : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Ulama Kembali ke Khittah, 1926 Jakarta : Risalah Bandung 1985, halaman 142. Al-Qanun al-Asasi yang diterjemahkan oleh KH Mustofa Bisri).


Menurut pendapat saya, perkataan Kiai Hasyim memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga mampu menggerakkan hati seseorang. Namun kondisi tersebut, justru sangat kontra untuk saat ini yang aman masih banyak orang menutup mata dan tidak sadar akan perkataan Kiai Hasyim memiliki makna sangat luar biasa. Seharusnya hal itu mampu menyadarkan banyak orang untuk berbenah diri.


Singkat saja, barang siapa yang mengganggap sejarah itu sebagai cermin, maka perlu membuka lembaran demi lembaran untuk mengetahui sejarah kala itu, dengan demikian kita tahu apa saja yang diperjuangkan, dan hasil dari perjuangan itu sendiri. Dalam hal ini ada yang lebih spesial dari sebuah harta hasil peperangan, yaitu mereka memiliki rasa persatuan yang kuat dengan satu cita, tujuan, seiasekata, bahkan pola pikir mereka pun saling beriringan satu sama lain. 


Oleh karena itu, perjuangan yang pernah dilakukan untuk memperoleh kejayaan, tidak bisa jauh dari faktor rasa semangat mereka dalam hal menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Maka tidak heran jika perjuangan kala itu membuahkan hasil yang memuaskan.


Rahmat Ade Putra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Wlisongo Semarang, tinggal di Semarang

// centerMode:true,