Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Rais Aam PBNU: Radikalisme Kiri dan Kanan Dua Paham Berbahaya

Rais Aam PBNU: Radikalisme Kiri dan Kanan Dua Paham Berbahaya
Mukernas MUI di Jakarta (Foto: Dok)
Mukernas MUI di Jakarta (Foto: Dok)

Jakarta, NU Online Jateng
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyatakan bahwa saat ini ada dua paham berbahaya yang menggempur Indonesia, yaitu radikalisme kiri dan radikalisme kanan.

 

"Radikalisme kiri bergerak ke arah pemikiran liberalisme, pluralisme, dan sekularisme yang disatukan dalam pemikiran agama. Sedangkan radikalisme kanan bergerak ke arah terorisme berkedok agama atau mengatasnamakan agama," terangnya.

 

Menurutnya, pergerakan dua kelompok ini merupakan gambaran pertarungan ideologi global yang menggempur Indonesia dan telah memporak-porandakan keislaman yang selama ini telah dibangun ulama.

 

"Radikalisme kiri  menyasar para akademisi di kampus-kampus, sementara radikalisme kanan masuk melalui paham keagamaan yang sempit. Yang menerjang orang awam yang baru belajar agama tanpa guru melalui Google," tegas Kiai Miftach yang juga ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat itu.

 

Karena itu lanjutnya, masyarakat Islam di Indonesia perlu memperkuat pemahaman Islam Wasathiyah atau moderat akan menjadi benteng kokoh dalam menghadapi ancaman radikalisme yang berpotensi menguat di Indonesia.

 

"Hal ini sangat penting seiring dengan adanya indikasi menguatnya radikalisme di masyarakat. Penguatan Islam Wasathiyah mesti menjadi agenda MUI di setiap tingkatan," katanya saat memberikan arahan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) MUI ke-1 tahun 2021 di Jakarta, Rabu (25/8). 

 

Mukernas MUI akan berlangsung secara daring dan luring pada 25-26 Agustus 2021 dengan mengusung tema 'Memperkuat Peran MUI, Meningkatkan Kerja Sama Ulama, Umara, dan Masyarakat dalam Menghadapi Covid-19 dan Dampaknya'.

 

"Semua pengurus MUI harus mendakwahkan Islam Wasathiyah kepada seluruh umat, sehingga pemahaman keislaman sebagaimana yang telah diletakkan para ulama terdahulu di Indonesia bisa hadir kembali menjadi jati diri kaum muslimin," katanya.

 

Sebelumnya, KH Miftachul Akhyar mengingatkan jajarannya di organisasi mesti menjadi teladan bagi umat serta dapat berkontribusi dalam meluruskan kembali arah perjalanan bangsa ke depan.

 

"Ada sejumlah peran dan fungsi ulama yang mesti dilakukan di tengah-tengah masyarakat yakni integritas, karya, dan kontribusi. Integritas yang dimaksud yakni ilmu kepemimpinan serta keberhasilan dalam bidang yang digeluti," ucapnya.

 

Kontributor: Imam Hamidi Antassalam
Editor: M Ngisom Al-Barony