Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Spirit Nasionalisme, Kiai Chalwani Kisahkan Sisi Lain Pangeran Diponegoro

Spirit Nasionalisme, Kiai Chalwani Kisahkan Sisi Lain Pangeran Diponegoro
Wakil Rais PWNU Jateng, KH Chalwani Nawawi (Foto: NU Onlie Jateng/Syarif Hidayat)
Wakil Rais PWNU Jateng, KH Chalwani Nawawi (Foto: NU Onlie Jateng/Syarif Hidayat)

Kebumen, NU Online Jateng
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi menggelorakan spirit nasionalisme melalui kisah tokoh para pejuang dan pahlawan nasional, di antaranya kisah perjuangan Pangeran Diponegoro. 

 

"Diponegoro itu nama lengkapnya Kiai Haji Kanjeng Bendoro Raden Mas Ontowiryo Abdul Hamid Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mukminin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong," ungkap Kiai Chalwani sembari menerangkan asal usul Diponegoro. 

 

Hal itu disampaikannya saat memberikan taushiyah dalam acara Malam Tirakatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-76, Peringatan Tahun Baru Hijriyah dan Santunan Anak Yatim di Desa Tambakprogaten, Kecamatan Klirong, Kabupaten  Kebumen, Sabtu (14/08) malam.

 

Kiai yang juga Pengasuh Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo itu mengisahkan, akibat Perang Diponegoro yang berkecamuk selama kurang lebih 5 tahun lamanya, yakni pada tahun 1825-1830, pemerintah Hindia Belanda saat itu mengalami kerugian yang luar biasa. Uang kas Hindia Belanda habis dan hutang luar negerinya terus membekak. 

 

Selain menderita kerugian materiil akibat perang yang juga disebut Perang Jawa dengan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh sentralnya kata Kiai Chalwani, Pemerintah Hindia Belanda juga kehilangan lebih dari 14.000 tentara yang menjadi korban selama perang Diponegoro berkobar.

 

Lebih lanjut, kiai yang juga dikenal cukup intens menggeluti dunia sejarah itu memaparkan spirit perjuangan Diponegoro. Ia menegaskan bahwa Pangeran Diponegoro merupakan santri dan penganut tarekat. Pangeran Diponegoro muda mondok atau ngaji kepada KH Hasan Besari, Tegalsari, Jetis, Ponorogo.

 

"Selain mondok atau ngaji di Bumi Reog, pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi nama Kodam IV Jawa Tengah tersebut juga ngaji kitab kuning kepada Kiai Taftazani, Kertosuro ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi, Bagelen Purworejo dan ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad, Ngadiwongso, Salaman, Magelang," terangnya.

 

Kia Calwani menguatkan pendapat bahwa Pangeran Diponegoro adalah penganut tarekat dengan mengutip pendapat lain yakni pendapat dari Guru Besar Ilmu Pertahanan di Jakarta, Prof Salim Said yang juga mengatakan bahwa Diponegoro merupakan tokoh tarekat. 

 

Tak hanya itu, Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) kata Kiai Chalwani, juga mengatakan hal serupa, bahwa Pangeran Diponegoro merupakan guru tarekat Qadiriyah. Dalam literatur yang lain, Diponegoro juga mengamalkan tarekat Syathariyyah.

 

"Tapi sayang bahwa Pangeran Diponegoro merupakan santri dan penganut tarekat tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Ini sejarah. Santri dan tarekat punya andil besar digaris paling depan mengantarkan kemerdekaan Indonesia," tegasnya.

 

Angka HUT RI Rukun Islam

 

Dirinya menggarisbawahi, oleh karena mayoritas pejuang kemerdekaan digarda terdepan adalah santri dan tarekat, maka akhirnya angka pada tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan Indonesia pun menggambarkan rukun Islam, yakni angka 17, 8, 45. Proklamasi kemerdekaan RI sendiri digelar pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. 

 

Angka 17, lanjutnya, mencerminkan jumlah rakaat shalat dalam waktu satu hari satu malam. Angka delapan merupakan lambang doa di dalam shalat saat duduk diantara dua sujud. Selanjutnya angka 4 mencerminkan 4 madzhab yang masyhur, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Sementara angka 5 sendiri mencerminkan 5 pemimpin besar umat Islam, yakni Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali.

 

"Di saentero dunia, tidak ada bangsa atau negara yang tanggal, bulan, tahun, bahkan hari kemerdekaannya mencerminkan rukun Islam. Di dunia hanya ada satu, Indonesia. Bukan saja secara kebetulan, dibetulkan oleh Allah SWT," tegasnya. 

 

Selain Pangeran Diponegoro, pada kesempatan tersebut, Kiai Chalwani juga mengisahkan sejumlah tokoh pejuang dan pahlawan nasional lainnnya yang akrab dengan dunia pesantren dan tarekat seperti Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Douwes Dekker atau Multatuli, Wahab Hasbullah, dan sejumlah tokoh lainnya.

 

Kiai yang juga Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah itu juga mengajak tamu yang hadir untuk serentak menyanyikan lagu kebangsaan Tanah Air Beta karya Ismail Marzuki serta memaparkan sejumlah keutamaan berikut 12 amaliyah di bulan Muharram. 

 

Kontributor: Syarif Hidayat
Editor: M Ngisom Al-Barony