Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Kader Ansor PAC Klirong Kebumen Ini Tekuni Ternak Kelinci untuk Ekspor Daging

Kader Ansor PAC Klirong Kebumen Ini Tekuni Ternak Kelinci untuk Ekspor Daging
Ahmad Habib Musyafa dan peternakan kelinci yang digelutinya (Foto: NU Online Jateng/Syarif Hidayat)
Ahmad Habib Musyafa dan peternakan kelinci yang digelutinya (Foto: NU Online Jateng/Syarif Hidayat)

Kebumen, NU Online Jateng
Gerakan memperkuat ekonomi kerakyatan sebagai prinsip ekonomi warga Nahdliyin di mata salah satu kader Ansor Klirong, Kabupaten Kebumen Ahmad Habib Musyafa (28) nampaknya tak hanya jargon semata. 

 

Gerakan tersebut digalakkannya melalui penguatan basis ekonomi di sektor peternakan, yakni dengan menggencarkan ternak kelinci pedaging. Tak tanggung-tanggung, dirinya kini bahkan tengah mendalami sekaligus memproyeksikan pasar ekspor.

 

"Untuk ekspor sendiri sedang saya pelajari dan dalam waktu dekat Insyaallah akan segera masuk," ujar pria yang tinggal di Desa Bendogarap, Kecamatan Klirong tersebut.

 

Menurut Habib yang kini juga menjabat sebagai salah satu pengurus PAC Ansor Kecamatan Klirong, potensi bisnis di sektor peternakan memang selalu menarik dan menantang untuk digeluti. Selain pangsa pasarnya yang masih terbuka lebar, ternak kelinci pedaging juga tergolong relatif mudah dan ramah modal, terlebih di kawasan pedesaan yang tidak lain merupakan basis warga NU.

 

Lebih lanjut disampaikan, binatang berkuping panjang yang tak hanya lucu dan imut, namun juga menggemaskan itu kini juga mulai banyak diternakkan oleh kader Ansor, terutama di wilayah Kecamatan Klirong dan warga NU Kebumen umumnya, baik sebagai usaha sampingan yang cukup menjanjikan maupun penghasilan pokok yang lumayan menggiurkan.

 

"Di Kabupaten Kebumen sendiri ternak kelinci pedaging memang belum begitu familiar di tengah masyarakat. Kendati demikian, permintaan daging kelinci di pasaran belakangan ini terus mengalami peningkatan. Permintaan daging yang tinggi belum diimbangi dengan produksi yang mumpuni. Nah di sinilah letak peluangnya yang harus kita garap," ucapnya kepada NU Online Jateng sembari memberikan pakan puluhan kelinci di kandang ternak miliknya.

 

 

Habib mengaku, sementara ini ternak kelinci baginya baru sekadar usaha sampingan saja. Namun hasilnya bila diakumulasi cukup lumayan. Untuk 25 sampai 30 indukan kelinci bisa menghasilkan Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per bulan. Kelinci yang diternaknya itu yakni kelinci pedaging jenis New Zealand (NZ). 

 

Selain memiliki kualitas daging yang bagus, keunggulan lain dari kelinci jenis NZ, yakni mempunyai bobot di atas rata-rata kelinci pada umumnya. Sehingga kelinci jenis NZ sangat baik untuk diternak sebagai kelinci pedaging.

 

"Untuk jenis NZ ini produktivitasnya juga bagus. Dalam satu tahun bisa beranak 5-6 kali. Sekali beranak biasanya rata-rata 4-10 ekor. Bahkan saya pernah satu indukan sekali beranak sebanyak 11 ekor. Usia kehamilannya pun cukup singkat, kurang lebih 30-35 hari. Sementara usia sapih sendiri biasanya antara 35-45 hari. Terkait kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan semua bergantung pada kualitas indukan dan intensitas perawatannya," papar bapak dari satu anak itu.

 

Selain menjual dengan harga daging kata Habib, ia sendiri juga menjual hasil ternaknya dalam bentuk bibit siapan atau calon indukan. Untuk harga daging karkas atau daging beserta tulang dan kepalanya dijual dengan harga Rp60 ribu per kilogram. Sementara untuk daging fillet atau daging murni tanpa tulang dan kepala dibanderol dengan harga sebesar Rp90 ribu per kilogram.

 

Untuk kelinci siapan atau calon induk, rata-rata Habib mematok harga berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per ekor. Lain halnya dengan kelinci siapan atau calon induk, untuk kelinci produkan atau indukan, ia memajang harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp450 ribu per ekor. Harga per ekor baik calon induk maupun indukan sangat bergantung pada kualitas bibitnya. 

 

"Selain dijual secara mandiri, untuk penampungan daging karkas maupun fillet kita difasilitasi wadah bersama, yakni Asosiasi Peternak Kelinci Kebumen (APKK). Permintaan daging melalui APKK ini sudah cukup tinggi. Tapi ya itu, produksi daging dari para peternak hingga kini masih belum maksimal. Apalagi pasar ekspor untuk daging kelinci sekarang sedang terbuka lebar. Namun untuk mencukupi permintaan dari dalam negeri saja kita para peternak di Kebumen masih kuwalahan" terang pria yang juga guru SD tersebut.

 

Pria berperawakan gempal itu juga menuturkan, selain daging, limbah atau kotoran kelinci yang memiliki kadar N, P, dan K paling tinggi bila dibandingkan dengan kotoran ternak lainnya juga dapat dijadikan pupuk organik berkualitas. Otomatis ini juga berpotensi masuk pasar khusus, yakni di sektor pertanian. Ia menyayangkan potensi tersebut belum digarap maksimalkan oleh para peternak kelinci di Kebumen. 

 

"Urin kelinci menjadi andalan para petani sayuran dan buah-buahan sebagai Pupuk Organik Cair (POC) yang tak diragukan lagi kualitas dan manfaatnya. Biasanya para petani langsung datang kemari membawa jerigen sendiri," katanya.

 

Habib menambahkan, selama ia mempelajari dan beternak kelinci, tidak ada kesulitan yang berarti. Terkait pakan, terutama untuk penggemukan, dirinya memanfaatkan berbagaimacam limbah pertanian dan home industri. Di antaranya yaitu batang berikut daun kacang tanah, daun-daunan di sekitar rumah, bekatul atau dedak, ampas tahu, bungkil kelapa, dan lain sebagainya.

 

"Sekarang juga sudah banyak pakan pabrikan berupa pelet atu pur yang dijual di kios pakan ternak. Melalui APKK, kita tengah memproyeksikan pakan pelet mandiri untuk meringankan beban pakan para peternak. Semoga saja segera terealisasi. Tak lupa kita juga terus berupaya untuk membangun jejaring ekonomi dengan sebanyak-banyaknya kader Ansor dan warga NU umumnya," pungkasnya.

 

Kontributor: Syarif Hidayat
Editor: M Ngisom Al-Barony