Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Pentingnya Menapaki Sanad Santri

Pentingnya Menapaki Sanad Santri
Makam Sayyidah Khodijah istri Rasulullah salah satu makam yang diziari H Agus Maftuh (Foto: Dok)
Makam Sayyidah Khodijah istri Rasulullah salah satu makam yang diziari H Agus Maftuh (Foto: Dok)

“Maftuh, Yen awakmu nang Mekkah ojo lali ziarah Abah yo” (Maftuh, Kalau kamu ke Mekkah jangan lupa ziarah Makam Abah KH Muslih Abdurrahman Qasidil Haqq). Pesan Almaghfurlah KH Hanif Muslih tersebut selalu terngiang dan terpatri dalam Himem (high memory) otak saya. 

 

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan sowan Mursyid Akbar Kiai Muslih Abdurrahman Qosidil Haqq Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen. Pesantren yang mendidik dan membimbing saya berproses dari 'ketidak-tahuan' menuju ke 'sedikit-tahu'. Maka menjadi sangat penting untuk berziarah senyampang masih ada kesempatan.

 

Ketika nyantri di Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak khususnya, semua sanad ngaji saya selalu melewati Yai Muslih dan seterusnya via Al-Musnid Syekh Yasin al-Fadani al-Makki. Kiai Muslih wafat tahun 1981 di Makkah ketika menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di Ma’la, satu blok dengan makam Sayyidah Asma binti Abu Bakar As-Shiddiq. 

 

Tahun 1981, Duta Besar (Dubes) RI YM Hadi Tajeb. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)  waktu itu masih berkantor di Jeddah dan belum pindah ke Ibukota Saudi, Riyadh. Saya juga berkesempatan ziarah ke Sayyidah Khadijah, Istri Kanjeng Nabi Muhammad Sallallah alaih wasallam yang berdekatan dengan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani.

 

Ketika nyantri saya sering membaca karya-karya Sayyid Muhammad seperti Mafahim yajibu an tosohhaha, Al-Manhal al-Latif Fi Usul al-Hadits as-Syarif dan Syaraful Ummah al-Muhammadiyah. Tahun 1988, kitab yang terakhir ini pernah saya baca bersama jamaah Masjid IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tiap bakda maghrib.

 

Saya juga ziarah ke 'Sayyidu Ulama al-Hijaz', Syeikh Nawawi al-Bantani, Sang Maha Guru semua kiai di Indonesia. Beliau pernah menulis tafsir dua jilid besar, Marah Labid yang dikenal dengan nama Tafsir Munir, Nihayatu az-Zain ala Syarh Qurrat al-Ain serta puluhan karya yang menjadi bacaan wajib para santri.

 

Saya sowan juga Mbah Maemun Zubeir, yang setiap beliau rawuh ke Mekkah saya selalu sowan beliau yaitu pada musim haji tahun 2016, 2017 dan 2019. Ziarah di 'Jannatul Ma’la' Makkah ini adalah merupakan kebahagiaan yang luar biasa dalam menapaki sanad keilmuan santri.

 

Tahun ini, meski saya mendapatkan jatah kuota haji saya tidak ikut haji, alasannya 231 ribu calon jamaah haji Indonesia tertunda keberangkatannya, tak elok rasanya kalau saya haji tanpa mereka.

 


H Agus Maftuh Abegiebrirl, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi, alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Kabupaten Demak (ditulis ulang dari medsos Agus Maftuh)

// centerMode:true,