Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Lesbumi NU Tegal Apresiasi Terbitnya Buku Potret Moderasi Pesantren

Lesbumi NU Tegal Apresiasi Terbitnya Buku Potret Moderasi Pesantren
Lesbumi NU Kota Tegal gelar bedah buku karya M Badruz Zaman (Foto: Dok)
Lesbumi NU Kota Tegal gelar bedah buku karya M Badruz Zaman (Foto: Dok)

Tegal, NU Online Jateng
Pegiat Sastra dan Budaya Tegal yang tergabung dalam Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) dalam agenda rutinnya yang mengusung Gelaran Parowulan menggelar bedah buku berjudul Potret Moderasi Pesantren karya M Badruz Zaman mahasantri Pesantren Darul Falah Besongo Semarang. 

 

Acara yang berlangsung malam hari dihadiri oleh para sastrawan dan budayawan Tegal. Turut hadir dari Lembaga Seni dan Budaya Muslimin (Lesbumi) NU Kota Tegal, Atmo Tan Sidik dan Lesbumi NU Kabupaten Tegal Mi'raj Andhika (Gus Mik).

 

Buku yang baru rilis akhir Agustus kemarin dipandu dari Pengurus Komunitas Warga Tegal (KWT) Retno Kusrini. Pada awal pemaparannya penulis buku menjelaskan proses dari menemukan ide hingga penerbitan kemudian mengulas beberapa bagian.

 

"Khususnya yang bersinggungan dengan lokalitas Tegal seperti istilah Laka-laka, ader, loken, dan wasgitel akronim wangi, sepet, legi, kenthel, dalam tradisi minum teh poci yang menjadi tawaran untuk pesantren menghadapi era disrupsi," terang Retno dalam pengantarnya.

 

Ketua PC Lesbumi Kota Tegal Atmo Tan Sidik menyatakan apresiasi dan tanggapan positif atas terbitnya buku dari M Badruz Zaman. Menurutnya, buku yang ditulis oleh santri sudah selayaknya disebarluaskan gagasannya. Apalagi penulis tetap perhatian dengan kearifan lokal yang melingkupinya.

 

"Tanpa bermaksud berlebihan, saya turut mengapresiasi atas terbitnya buku 'Potret Moderasi Pesantren' buku perdana dari Badruz Zaman. Buku ini mengulas banyak hal tentang beragama yang berkarakter khas pesantren dan ini layak untuk dipublikasi lebih luas," ujarnya. 

 

Disampaikan, Badruz Zaman tetap menjaga lokalitas Tegal, dengan memasukkan beberapa gagasan sekaligus tawaran yang berasal dari konstruk budaya Tegal

 

 

Atmo Tan Sidik melanjutkan, dakwah yang baik memang harus menyesuaikan dengan orang yang menjadi sasaran dakwah. Hal ini telah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan  Wali Songo kala itu.

 

"Dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan umatnya. Artinya ada fleksibilitas dakwah. Nah, buku Potret Moderasi Pesantren ini menyentuh minat pembaca yang lebih gemar dengan bahasa yang renyah dan lugas (mudah dipahami)," terangnya kepada NU Online Jateng, Senin (13/9).

 

Gelaran Parowulan diwarnai dengan dialog yang cukup panjang antara penulis buku dengan undangan yang hadir. Beberapa undangan dalam gelaran Parowulan berasal dari komunitas seni dan budaya Tegal. 

 

Di antaranya Presiden Penyair Tegal Dwi Eri Santoso, TBM Dongeng Suket yang dibentuk oleh dalang Ki Slamet Gundono (alm), Komunitas Lukis Kembang Trasa Tegal, UKM KSB Universitas Pancasakti Tegal, Studi Teater Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tegal,  PMII Cabang Tegal, dan masyarakat sekitar Desa Kebasen, Talang, Kabupaten Tegal.

 

Gelaran Parowulan dibuka dengan pembacaan tahlil dan doa dikhususkan untuk para seniman Tegal yang telah berpulang ke pangkuan Allah. Dilanjutkan dengan tiga pembacaan puisi dari undangan, yaitu Titis Hening (Seniman dan Komunitas Kejawen Maneges), Mi'raj Andhika (Lesbumi NU Kabupaten Tegal, dan Pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Tegal), serta Wahyu Ranggati (Dalang Wayang Kertas, Tegal).

 

Editor: M Ngisom Al-Barony