Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

PWNU Jateng Ingatkan Pilih Pengurus Dipertanggungjawabkan di Akhirat

PWNU Jateng Ingatkan Pilih Pengurus Dipertanggungjawabkan di Akhirat
Wakil Ketua PWNU Jateng, KH Mahsun Mahfudz (Foto: NU Online Jateng/M Ichwan)
Wakil Ketua PWNU Jateng, KH Mahsun Mahfudz (Foto: NU Online Jateng/M Ichwan)

Semarang, NU Online Jateng
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) mengingatkan para peserta Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kota Semarang agar berpikir matang dengan jiwa yang bersih. 

 

Wakil Ketua PWNU Jateng KH Mahsun menyatakan, konfercab adalah forum musyawarah tertinggi PCNU, adalah hak delegasi Majelis Wakil Cabang (MWC) NU untuk menentukan.
 

Namun dia ingatkan, memilih calon ketua bukanlah perkara ringan yang selesai di acara konferensi.  Melainkan perbuatan yang akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

 

“Pikirkan dengan jeli. Pilihan kalian tidak hanya selesai hanya di sini, tapi perbuatan kalian, coretan pena kalian di kertas pemilihan, itu disaksikan oleh Allah dan Malaikat. Kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” pesan dia.

 

Hal itu disampaikan ketika memberi sambutan mewakili PWNU Jateng di acara Konfercab NU Kota Semarang di Pesantren Roudlotus Saidiyah Kalialang, Gunungpati, Semarang, Jumat (30/7). 

 

Lebih lanjut Mahsun mengatakan, siapapun yang terpilih adalah haknya MWCNU selaku pemilik suara. Ia meminta agar peserta memikirkan yang matang calon ketua yang tepat. Yaitu orang yang bisa membawa NU Kota Semarang mandiri, berwibawa, dan bermartabat. 

 

Baca juga:

 

 

Dosen UIN Walisongo Semarang ini menjelaskan, di awal berdiri dalam situasi dijajah Belanda, perekonimian carut marut, NU bisa menjaga kemandirian ekonomi, budaya, dan bahkan kemandirian politik. Hal itulah menurutnya, membuat NU berada dalam posisi sangat terhormat dalam pendirian Republik Indonesia. Yaitu duduknya KH Abdul Wahid Hasyim dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

 

“Semua itu ditunjukkan dengan jati diri dan kemandirian organisasi,” paparnya. 

 

Mahsun melanjutkan, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah mendirikan NU sebagai wadah perjuangan yang sangat mandiri. Sehingga kata dia, penjajah Belanda maupun Jepang tidak bisa mengintervensi atau melemahkan semangat organisasi. 

 

“Di hadapan siapapun NU sangat dihormati dan sangat berwibawa. Bahkan dalam negosiasi dengan siapapun, NU bisa menunjukkan kewibawaannya. Marwah organisasi NU begitu dijaga oleh para kiai,” ucap Mahsun seraya mengajak hadirin merenung kisah perjalanan NU sejak berdiri. 

 

Mahsun menekankan agar hadirin memperhatikan marwah organisasi. Dia ungkapkan, marwah hanya bisa diraih dengan jiwa kemandirian. Jika marwah ada, maka tidak mudah diintervensi oleh pihak manapun. 

 

Penulis: M Ichwan
Editor: M Ngisom Al-Barony