Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

KH Humaidullah Kaliwungu Kendal, Sosok Teguh dalam Mencari Ilmu

KH Humaidullah Kaliwungu Kendal, Sosok Teguh dalam Mencari Ilmu
KH Humaidullah Irfan Kaliwungu Kendal (Sumber Foto: Website Pesantren Apik)
KH Humaidullah Irfan Kaliwungu Kendal (Sumber Foto: Website Pesantren Apik)

Allah yarham KH Humaidullah Kaliwungu atau yang akrab disapa dengan Mbah Humaid adalah seorang ulama yang sangat alim khususnya dalam bidang ilmu Nahwu, Shorof dan Fiqih. Ia merupakan pengasuh ketiga Pesantren Salaf Apik Kaliwungu, meneruskan perjuangan ayahnya. Mbah Humaid menjalankan amanat untuk meneruskan mengasuh para santri dari kakak sepupunya yaitu KH Ahmad Ru’yat Kaliwungu.


Mbah Humaid merupakan putra sulung dari KH Irfan bin Kiai Musa dengan Nyai Sufirah binti Imron. Tepat 36 tahun yang lalu, di bulan Ramadhan tahun 1405 H, Mbah Humaid berpulang ke haribaan Allah swt. 


Semasa hidupnya, Mbah Humaid gemar mencari ilmu ke berbagai daerah. Bahkan ketika sudah sepuh pun ia masih sempat meninggalkan kampung halamanya untuk mengaji kepada kiai tertentu. Kisah ini disampaikan oleh salah satu putranya, yang kini menjadi Pengasuh Pesantren Salaf Apik Kaliwungu, KH Sholahuddin Humaidullah dalam acara peringatan haul ke-36 Mbah Humaid di aula Al-Muzakka Pesantren Salaf Apik Kaliwungu, Senin (10/5).


“Meski sudah sepuh, beliau masih mencari guru buat sandaran ilmu, sampai akhirnya sebelum wafat ia pernah pesan untuk didoakan sebagai santrinya Mbah Abdul Karim Lirboyo, Mbah Dimyati Tremas, Mbah Abdullah Faqih Banyuwangi, dan Mbah Irfan Kaliwungu,” kata Kiai Sholah.


Pengembaraan Ilmu Mbah Humaid

Semangat belajar Kiai Humaid sudah tumbuh sejak kecil. Sebelum ia mengaji kepada para kiai di luar Kaliwungu, ia terlebih dahulu mengaji kepada ayahnya, kemudian mengaji Al-Qur’an kepada Kiai Ahmad Badawi Kaliwungu dan mengaji kitab kuning kepada Kiai Abdul Aziz Kaliwungu.


Setelah Kiai Humaid berusia 18 tahun, ayahnya yakni KH Irfan bin Musa wafat. Pada usia yang relatif muda ini Kiai Humaid menjalani kehidupan tanpa ditemani sang ayah, namun tidak membuat Kiai Humaid putus asa. Ia semakin memiliki ghiroh untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. 


“Semasa kecil Mbah Humaid mengaji kepada kiai yang masih kerabat seperti mengaji Al-Qur'an kepada Kiai Ahmad Badawi dan kitab kuning  kepada Kiai Abdul Aziz. Pada waktu ayahnya wafat beliau masih berumur 18 tahun dan adiknya yang paling kecil (Nyai Ibadiyyah) masih berumur satu tahun,” terang pengasuh ke 5 pesantren Apik tersebut.


Menurut penjelasan Kiai Sholahuddin, dua tahun setelah kepergian sang ayah, Humaid muda pamit dari Kaliwungu untuk menimba ilmu di Pesantren Kasingan Rembang untuk mendalami ilmu Nahwu dan Shorof kepada Kiai Kholil Harun. Kiai Sholahuddin juga menjelaskan ketika Kiai Humaid belajar di Kasingan, ia bertemu dengan Kiai Mahrus Ali, Kiai Bisri Musthofa, dan kiai-kiai lainya. Artinya perjalanan keilmuan Kiai Humaid masih satu kurun dan bertemu dalam satu guru bersama Kiai Mahrus dan Kiai Bishri.


Setelah merasa cukup mengaji di Kasingan, Kiai Humaid pergi ke Tremas Pacitan untuk mengobati dahaga keilmuanya. Ia mengaji kepada KH Dimyathi selama kurang lebih dua tahun. Kiai Sholahudin juga menjelaskan waktu beliau mengaji di Tremas bertemu dengan Kiai Ali Maksum Krapyak, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Zarkasyi Gontor, dan kiai-kiai lainya.


Setelah ia mengaji kepada Kiai Dimyathi, kemudian pergi ke Pesantren Cemoro Banyuwangi yang pada waktu itu diasuh oleh KH Abdullah Faqih selama tiga tahun. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Lirboyo Kediri, di sana ia mendalami ilmu bersama Kiai Abdul Karim.


Menurut cerita Kiai Sholahuddin, ketika mengaji di Lirbcyo, Kiai Abdul Karim mengetahui identitas Mbah Humaid yang mana ia adalah putra dari Kiai Irfan Kaliwungu yang namanya sudah dikenal di kalangan pesantren-pesantren di Jawa, akhirnya Mbah Humaid ditunjuk untuk ikut mengajar. Pada waktu itu pula Mbah Humaid mengirimkan surat ke Kaliwungu untuk kedua adiknya Kiai Ubaidullah Irfan dan Kiai Ibadullah Irfan untuk ikut mengaji di Lirboyo.


Setelah sekitar lima tahun di Lirboyo kemudian Mbah Humaid kembali ke Kaliwungu dan tidak lama kemudian ia menikah. Setalah menikah pun Mbah Humaid masih pulang pergi dari Kaliwungu untuk mencari sanad dan guru. Sampai sudah memiliki anak pertama ia masih pergi ke Magelang untuk ikut ngaji tabarukan kepada Kiai Dalhar Watucongol. Namun setelah itu ia diminta kakak sepupunya yakni Kiai Ahmad Rukyat untuk membantu ikut mengajar para santri di Pesantren Salaf Apik.



Kegigihan Mbah Humaid dalam mencari guru sangatlah kuat, bahkan sampai usia senja ia masih ingin menyambungkan ilmunya dengan ulama-ulama yang alim. Menurut Kiai Sholahuddin upaya tersebut adalah untuk menghormati ilmu dan menyandarkan ilmu dengan para ahlinya.


“Sampai sudah punya anak masih mencari guru buat sandaran ilmu, sampai akhirnya sebelum wafat,” ungkap kiai asal Kaliwungu itu.


Ijazah KH Humaidullah Irfan

Sebagai mana para kiai pada umumnya, selalu memiliki amaliah yang selalu dijalankan secara kontinu sampai akhir hayatnya. Kiai Humaidullah Irfan dikenal sebagai kiai yang disiplin dan tegas dalam mengajar para santrinya.


Di masa hidupnya ia tidak pernah meninggalkan shalat maktubah berjamaah meskipun usia semakin menua ia tetap menjalankan rutinitasnya. Prinsipnya selama masih bisa berjalan menuju masjid ia akan terus melakukan amalan yang ditekuninya. Diceritakan bahwa dalam kondisi kurang sehat, ia tetap berjamaah dengan dibantu oleh santrinya menuju masjid.


Selain itu ketika di Lirboyo, ia diijazahi oleh gurunya untuk melanggengkan berwudhu. Istilah ini biasanya dikenal oleh para santri dengan dawamul wudhu . Ijazah ini dilakukan untuk menjaga kesucian diri dari hadas kecil maupun besar. Praktik pelaksanaanya sangat simpel yaitu dengan berwudhu terus meskipun tidak untuk shalat. Mbah Humaid menjalankan dawamul wudhu sampai akhir hayatnya.


Kontributor: Abdullah Faiz

Editor: Ajie Najmuddin

// centerMode:true,