Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Mengenang Almaghfurlah KH Zainudin Djazuli Ploso Kediri

Mengenang Almaghfurlah KH Zainudin Djazuli Ploso Kediri
Almaghfurlah KH Zainudin Djazuli (Foto: istimewa)
Almaghfurlah KH Zainudin Djazuli (Foto: istimewa)

Kediri, NU Online Jateng
Alhamdulillah. Bisa turut hormat, nderekne kirim Doa dan Tahlil untuk almaghfurlah Romo KH Zainudin Djazuli Ploso, Kediri yang diadakan secara virtual siaran langsung youtube https://m.youtube.com/watch?v=ij3D6qFSml8&feature=youtu.be oleh PP Al Falah Ploso dan didukung oleh PWNU Jawa Timur. 

 

Munajat tahlil dipimpin oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar yang juga Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang, Sementara Taushiyah disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur yang juga Pengasuh Pesantren Al-Amin Ngasinan Kediri, KH Anwar Iskandar. 

 

Dalam sambutan, Kiai Marzuqi mengenang Kiai Din sebagai sosok yang totalitas perjuangannya untuk NU sangat sangat luar biasa. Dari mulai keluarga, sampai dengan alumni diwajibkan untuk turut serta dalam ngurip-nguripi NU. Sampai-sampai Kiai Marzuqi mengenang satu dawuh dari Kiai Din: "Podo-podo ahlussunah waljamaah, tapi nek ora NU, ora. (Sama-sama ahlussunah wal jamaah, tapi kalau tidak NU, tidak)."

 

KH Anwar Iskandar mengenang Kiai Din sebagai sosok menginspirasi dirinya. Pasalnya, sejak tahun 1969, saat ketika dirinya pernah nderekne ngaji posoan di Pondok Ploso. Sejak pertemuan pertamanya dengan Kiai Din, Kiai Anwar sudah dibuat kagum. Bahkan menjadikan Kiai Din sebagai salah satu sosok yang menginspirasi beliau. 

 

Kiai Anwar menyebutkan tiga alasan yang menjadikan beliau kagum pada sosok Kiai Din. Pertama, tentu kealiman dan kedalaman ilmu Kiai Din. Kedua, Kiai Din sebagai pengusaha sukses pada saat itu. Dan ketiga, Kiai Din sebagai seorang organisatoris. Soal kealiman dan kedalaman ilmu, Kiai Anwar menyaksikan langsung di usia Kiai Din saat itu, beliau sudah menguasai kitab-kitab kuning. Bahkan kitab Alfiah selesai dibacakan oleh Kiai Din saat ngaji posonan. 

 

Selain alim, Kiai Din juga sosok pengusaha kontaktor yang sukses. Menjelang akhir tahun 60an, Kiai Din memiliki sebuah CV yang diberi nama CV Kiai Mojo. Di sekitaran Kediri pada saat itu, CV milik Kiai Din ini terbilang yang paling sukses. Dan dipercaya oleh pemerintah pada waktu itu untuk menggarap beberapa pengerjaan infrastruktur dari mulai jalan sampai bendungan. 

 

Meski alim, putra kiai besar dan sudah sukses dibidang usaha kontraktor, Kiai Din adalah seorang organisatoris yang mengabdikan waktu dan tenaganya untuk Nahdlatul Ulama. Bahkan beliau ngurip-nguripi NU dari tingkat kecamatan dengan pernah menjabat sebagai Ketua MWCNU Mojo kala itu. Kegigihan dan komitmen Kiai Din dalam hal ngurip-nguripi NU tidak hanya dicurahkan dengan tenaga dan pikiran semata, tapi juga materi. Penghasilan yang beliau dapatkan dari usahanya, dialokasikan untuk ngurip-nguripi NU di Kecamatan Mojo. 

 

Sampai akhirnya Kiai Din memilih berhenti total dari aktivitasnya sebagai pengusaha dan organisatoris NU saat ayahanda tercinta, Almukarom Almaghfurlah Simbah KH Ahmad Djazuli Utsman kapundut sowan keharibaan Allah SWT. Kiai Anwar mengenang saat itu Kiai Din sudah berniat tawakkaltu alallah untuk berhenti total dari dunia usaha. Termasuk dari aktivitasnya di NU. 

 

Kiai Din sadar, sepeninggal ayahanda tercinta, Pondok Al-Falah Ploso membutuhkan penerus. Selain itu, ibunda Kiai Din, Simbah Nyai Rodliyah Djazuli juga memprotek putra-putranya dengan sangat ketat agar apa yang sudah dirintis oleh Sang Blawong bisa terjaga dan lestari. Dan alhamdulillah, terbukti di tangan putra-putra Kiai Djazuli, sampai saat ini kehadiran Pondok Ploso masih berkibar dengan sangat pesat. 

 

Kiai Anwar melihat itu sebagai sebuah pengorbanan yang luar biasa. Meski sejatinya saat Konferwil NU Jawa Timur diselenggarakan di Pondok Ploso, Kiai Din pernah didaulat untuk menjadi Rais PWNU Jawa Timur. Namun beliau menolak dengan halus dan lebih memilih fokus di pesantren. 

 

Meski tidak lagi aktif sebagai pengurus NU, Kiai Din tetap turut serta ngurip-nguripi NU dari pesantren. Hal itu dibuktikan Ploso berhasil mencetak santri-santri yang unggul. Bahkan tak sedikit alumni-alumninya yang menjadi Kiai dan turut serta aktif di NU. 

 

Suatu ketika, Kiai Din pernah dawuh: "Tidak sulit untuk membubarkan NU. Ketika orang tua Nahdliyin tidak mau lagi mengirimkan anaknya ke pesantren, ketika alumni-alumni pesantren tidak lagi mengirimkan anaknya ke pondok, pesantren akan sepi. Dan saat pesantren sudah sepi dari santri, lambat laun NU akan bubar dengan sendirinya."

 

Ya Allah. Semoga kita semua mampu meneladani beliau. Dan satu hal yang terpenting bagi kami, semoga kami senantiasa diakui menjadi santrinya beliau. Amin. Ila hadrati KH Zainudin Djazuli, Alfatihah 

 

Kontributor: Imam Hamidi Antassalam
Editor: M Ngisom Al-Barony