Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Islam Wasathiyah Perlu Dikembangkan Ke Masyarakat Penjuru Dunia

Islam Wasathiyah Perlu Dikembangkan Ke Masyarakat Penjuru Dunia
KH As'ad Said Ali (Foto: Dok)
KH As'ad Said Ali (Foto: Dok)

Jakarta, NU Online Jateng
Peran sejarah NU dan Muhammadiyah dalam mengembangkan Islam Wasathiyah perlu dikembangkan dan disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat internasional.

 

Mantan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH As'ad Said Ali mengatakan, peran sejarah NU dan Muhammadiyah dalam mengembangkan Islam Wasathiyah perlu terus dilanjutkan dan diperluas.

 

"Termasuk diperluas ke Afghanistan yang saat ini warganya sedang menghadapi transisi politik. Di negeri ini pula saat ini Islam Wasathiyah sedang tumbuh di sana," kata Kiai As'ad saat menjadi pembicara dalam Ngaji Kebangsaan bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Sabtu (28/8).

 

Disampaikan, konsep Islam Wasathiyah sebagai perwujudan Islam moderat dan toleran semakin penting untuk dibumikan beriringan dengan meningkatnya gerakan dari kelompok-kelompok Islam politik di berbagai negara.

 

"Gerakan politik itu menggunakan Islam sebagai ideologi gerakan untuk membangun kepemimpinan Islam maupun memperkuat pengaruh Islam dalam pengambilan kebijakan negara. Mulai dari cara damai, penggunaan kekerasan, teror, hingga penggunaan kekuatan militer," ujarnya.

 

Dia menambahkan, kondisi itu memunculkan respons atas gerakan dengan semangat membenci Islam di sejumlah negara, atau setidaknya gerakan yang menciptakan ketakutan terhadap umat Islam atas dasar Islamophobia.

 

Duta Besar RI untuk Jerman, HE Arief Havas Oegroseno menggambarkan Islam Wasathiyah sebagai aset unik yang dimiliki oleh Indonesia.

 

Menurutnya, tengah persoalan umat Islam yang terjadi saat ini khususnya di kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan, dan persaingan antara Tiongkok - Amerika, kehadiran dan peran  konsep Islam Wasathiyah menjadi semakin relevan.

 

"Hal itu sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang mengambil garis bebas aktif. Kebebasan yang bermakna independen menjadikan Indonesia tidak terjebak dalam satu blok yang ekstrem," terangnya. 

 

Ketua PCINU Jerman Muhammad Rodlin Billah mengatakan, saat ini di kawasan Eropa Barat sedang mencari bentuk Islam yang mampu berjalan beriringan dengan budaya lokal yang  kemudian diharapkan umat Islam dapat melakukan integrasi dengan masyarakat Eropa.

 

"Di sanalah kemudian nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri dari masyarakat Muslim di Nusantara menemukan suasana kondusif untuk dikembangkan," bebernya.

 

Chairman The Lead Institute Universitas Paramadina Dr Phil Suratno memberikan penekanan pada pembumian Islam Wasathiyah. "Masyarakat muslim di Eropa khususnya diaspora NU harus bisa menjadikan Islam Wasathiyah sebagai identitas dalam pergaulan internasional. Islam Wasathiyah sebagai corporate identity, typeidentity, collective identity, dan role-identity," katanya.

 

"Sebagai role identity misalnya dengan aktivitas keagamaan, sosial-budaya, interfaith-dialogue. Sementara sebagai corporate identity perlu terus melakukan promosi Islam Wasathiyah dengan diplomasi, research, dan publikasi," ungkapnya.

 

Dalam perspektif publikasi lanjutnya, maka diseminasi gagasan Islam Wasathiyah melalui media sosial dan media online perlu untuk diperkuat. "Perkembangan media online, pandemi Covid-19, dan kemenangan Taliban telah meningkatkan potensi gerakan ekstrimisme melalui media sosial dan media online," pungkasnya.

 

Penulis: Samsul Huda
Editor: M Ngisom Al-Barony