Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Kiai Hasan Anwar Grobogan Santri Mbah Hasyim Gugur Saat Pertahankan Kemerdekaan RI

Kiai Hasan Anwar Grobogan Santri Mbah Hasyim Gugur Saat Pertahankan Kemerdekaan RI
Makam KH Hasan Anwar di kompek Pesantren Hasan Anwar, Gubug, Kabupaten Grobogan (Foto: Laduni.id)
Makam KH Hasan Anwar di kompek Pesantren Hasan Anwar, Gubug, Kabupaten Grobogan (Foto: Laduni.id)

Namanya mungkin tidak seterkenal KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy'ari, dan KH Wahab Hasbullah. Namun, kiprahnya sangat dekat dengan ketiga tokoh tersebut. Ia adalah teman sekaligus santri dari ketiga ulama besar tersebut.

 

Ia mempunyai andil sangat besar dalam membantu mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng, Jombang. Namanya hingga kini sangat harum di Kabupaten Grobogan, Jateng.

 

KH Hasan Anwar nama kecilnya adalah Sarman. Beliau dilahirkan pada 1878 M dari pasangan Syarif dan Salimah, petani kecil di Desa Ngluwuk, Dempet, Kabupaten Demak. Sarman memiliki empat orang saudara, yakni Sukir, Mataham, Sagirah, dan Sijah.

 

Sarman merupakan nama pemberian kedua orang tuanya. Namun, saat mondok di Pesantren Tebuireng, namanya berubah menjadi Hasan Anwar. Nama itu diberikan langsung oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari atas bantuannya dalam menghadapi para perusuh di sekitar Pesantren Tebu Ireng.

 

Awalnya, ia merasa prihatin yang mendalam atas banyaknya hinaan dan ejekan yang diterima oleh KH Hasyim Asy'ari. Sebab, hampir setiap saat ulama pendiri NU itu dilempari dengan kotoran manusia.

 

Jalan-jalan di sekitar Pesantren Tebuireng selalu dipenuhi dengan duri. Atas hal itu, Sarman memberanikan diri memohon izin kepada KH Hasyim Asy'ari untuk menghadapi para perusuh itu. Namun, Mbah Hasyim Asy'ari tidak mengizinkannya. Ia pun bersabar dan menunggu perintah atau izin dari KH Hasyim. Apa hendak dikata, saat izin belum juga diberikan, dan kondisi terus genting, terjadilah peristiwa yang membuat Sarman marah.

 

Saat malam hari, ia keluar asrama pesantren untuk ke masjid, jalan yang akan dilewati oleh KH Hasyim Asy'ari ia bersihkan, saat itulah sekelompok preman dan perusuh menantang dirinya. Maka, dengan prinsip lawan jangan dicari dan kalau bertemu musuh maka jangan lari. Ia pun melawan para perusuh itu, dalam perkelahian itu sebanyak 12 orang perusuh tewas di tangannya.

 

Kiai Hasyim yang kaget mendengar kegaduhan di luar segera menemui dan Hasyim mendapati tubuh Sarman bersimbah darah dan sebanyak 12 orang tergeletak tak bernyawa di sekelilingnya, Sarman tidak terluka. Hanya luka-luka dari perusuh itulah yang membuat tubuhnya berlumuran darah. Sarman menyampaikan bahwa ia membela diri karena sedang membersihkan kotoran manusia dan duri di sepanjang jalan dan tiba-tiba ia diajak berkelahi dengan para perusuh itu.

 

Mendengar hal itu, Kiai Hasyim Asy'ari kemudian memerintahkan para santrinya untuk segera menguburkan jenazah para perusuh itu dalam satu lubang. Sejak kejadian itu, KH Hasyim Asy'ari menjuluki dan memberinya nama Hasan Anwar yang berarti lelaki yang baik hati dan selalu bercahaya dalam kegelapan.

 

Baca juga:  Kiai Hasan Anwar Grobogan Santri Mbah Hasyim Gugur Saat Pertahankan Kemerdekaan RI
 

Murid Generasi Pertama Tebuireng

 

Hasan Anwar adalah santri generasi pertama di Tebuireng. Hasan Anwar juga berteman baik dengan Maksum (KH Maksum), pendiri Pesantren Lasem, Rembang, Jateng. Di Pesantren Tebuireng, ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama, mulai dari fiqih, tafsir, nahwu, dan kitab-kitab lainnya. Namun, saat KH Hasyim berhalangan, ia menjadi badal (pengganti) KH Hasyim Asy'ari untuk mengajar santri dan rekan-rekannya. Sebelum mondok dan membantu di Pesantren Tebuireng, Hasan Anwar mondok di berbagai pesantren di Jawa Tengah.

 

Karena itu, tak heran ia banyak dimintai bantuan oleh KH Hasyim Asy'ari, termasuk saat KH Hasyim mendirikan NU pada 31 Januari 1926. Ia tinggal di Pesantren Tebuireng itu selama beberapa tahun. Selepas dari Tebuireng, Hasan Anwar melanjutkan pendidikannya di Pesantren Jesromo Lumajang dan Cempaka di Surabaya di bawah asuhan KH Manshur.

 

Selepas dari kedua pesantren itu, Hasan Anwar meneruskan ke Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura yang diasuh oleh KH Kholil. Tak kurang dari delapan tahun ia menuntut ilmu dan mengabdi di Pesantren Bangkalan ini. Setelah itu, ia meneruskan pendidikannya di Tanah Suci Makkah, selama lebih kurang tiga tahun. Di Kota Suci ini, ia belajar langsung kepada para ulama terkenal dari Indonesia yang menjadi guru di Masjidil Haram, seperti Syekh Abdullah Sunkara, Syekh Ibrahim al-Huzaimi, dan Syekh Manshur.

 

Setelah dirasa cukup, ia pun kembali ke tanah air, ke kampung halamannya di Desa Ngluwak, Dempet, Demak. Ternyata ayahandanya sudah wafat, sedangkan ibunya ikut dengan saudara kandung Hasan Anwar yang menikah dengan warga Gubug, Purwodadi, Grobogan.

 

Di Gubug ini, KH Hasan Anwar membantu Kiai Jalil (Jalal) untuk mengajar mengaji warga sekitar di mushala, tepatnya di sebelah timur Pasar Gubug. Melihat ketekunan KH Hasan Anwar dalam mengajar mengaji, Kiai Jalil berkenan mengambil beliau menjadi menantunya. Iapun menikah dengan salah seorang putri Kiai Jalil.

 

Hingga akhir hayatnya, KH Hasan Anwar menikah dengan tiga orang istri, yakni Kalimah binti Kiai Marwi, Maemunah binti Kiai Samsuri, dan Muntamah binti Kiai Abdul Jalil (Jalal).

 

Perkawinannya dengan Kalimah tidak dikaruniai anak, sedangkan pernikahannya dengan Maemunah dikaruniai tujuh orang putra-putri (Mahfudhoh, Mansuron, Sarijah, Ruqoyah, Saerozi, Juned, dan Romlah). Adapun, buah perkawinannya dengan Muntamah, KH Hasan Anwar mendapat empat putra-putri, yakni Ahmad Syahid (yang kelak menjadi penerus perjuangan KH Hasan Anwar), Zaenudin, Khumaidi, dan Saidah.

 

 

Cinta Tanah Air dan Antipenindasan

 

Melihat rakyat Indonesia dihina dan dijajah, bersama santri-santri di Gubug, ia menyerang Belanda yang ingin kembali ke menjajah Indonesia, khususnya di Grobogan. Belanda yang mengetahui maksud dari KH Hasan Anwar berusaha membujuk dan bekerja sama. Ajakan itu ditolaknya dan Belanda pun marah. Mereka ingin menjebloskan KH Hasan Anwar ke penjara.

 

Karena tahu kalau ia akan ditangkap Belanda, ia pergi ke pesantren di daerah Klambu. Bersama sejumlah santrinya dan laskar fisabilillah, KH Hasan Anwar menyusun kekuatan untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi yang sudah merdeka pada 17 Agustus 1945. Ratusan pasukan Belanda terbunuh.

 

Sayang, kekuatan tidak seimbang. Pertempuran yang terjadi di dekat markas Belanda itu, beliau gugur bersama 19 orang laskar fisabilillah. Beliau wafat sebagai syuhada dengan menyungging senyum. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahinya dengan gelar Pahlawan Pejuang Kemerdekaan. (sumber: laduni.id)

 


Pejuang Kemerdekaan

Dalam laporan Lasykar Hizbullah itu disebutkan, Kiai Hasan Anwar selain memimpin pesantren dan NU di Gubug, Grobogan juga menggerakkan laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menyangga Komando Pertempuran Jawa Tengah di Salatiga berkedudukan di Markas Medan Tenggara (MMTG) di Mranggen, Demak.

 

Menjelang dan pasca-proklamasi kemerdekaan, Mbah Hasan Anwar bersama santri dan Nahdliyin terlibat aktif dalam aktivitas pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI di sela-sela mengajar santri dan masyarakat.

 

Perjalanan heroisme Mbah Hasan Anwar terhenti saat bersama laskar yang dipimpinnya melakukan aksi penyerangan ke pos pertahanan Belanda yang berada di Gedung Pegadaian Gubug pada hari Ahad Pon malam Senin Wage tanggal 14 Dzulqo'dah 1336 bertepatan tnggal 23 malam 24 September 1947.

 

Menurut penuturan Modin Desa Gubug Ghozali sebagaimana dikutip dalam laporan itu menyebutkan, di pertempuran itu jumlah korban dari pihak Belanda sangat besar sekali, jumlahnya tidak sempat dihitung.

 

"Tentara Belanda sebagian besar mati karena luka akibat sabetan senjata tajam dan tusukan bambu runcing, mayatnya diangkut lima truk penuh," jelasnya.

 

Langkah dan jejak perjuangan almarhum Kiai Hasan Anwar dilanjutkan keturunan, santri, dan jamaahnya melalui berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Di antaranya keberadaan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola Yayasan Islam Hasan Anwar (Yasiha).

 

"Mbah Hasan Anwar memang sudah kapundut 76 tahun silam, langkah dan jejak perjuangannya dilanjutkan terus oleh keturunan dan santri-santrinya," pungkasnya.

 

Penulis: Samsul Huda
Editor: M Ngisom Al-Barony

// centerMode:true,