Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Haul Syech Armia Cikura Tegal yang Pernah dihadiri Presiden Gus Dur

Haul Syech Armia Cikura Tegal yang Pernah dihadiri Presiden Gus Dur
Gus Dur saat menghadiri haul Kiai Armia tahun 2001 saat menjabat sebagai Presiden RI (Foto: Istimewa)
Gus Dur saat menghadiri haul Kiai Armia tahun 2001 saat menjabat sebagai Presiden RI (Foto: Istimewa)

Semasa KH Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI, pernah menyempatkan menghadiri peringatan Haul Kiai Armia di Komplek Pesantren At-Tauhidiyyah yang berada di tengah hutan, tepatnya di Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal pada tahun 2001.

 

Saat itu Gus Dur beserta rombongan menaiki kereta api turun di Stasiun Tegal dan meneruskan perjalanan darat dari Kota Tegal menuju lokasi sekitar 90 menit. Meski berada di tengah hutan, ribuan umat Islam berbondong-bondong menghadiri haul Kiai Armia yang digelar setiap tahunnya. 

 

Syekh Armia merupakan putra bungsu dari Kiai Kurdi. Kakek beliau dikenal dengan nama Mbah Suraprana, tokoh yang dikenal kewaskitaannya. Sebelum beliau lahir, kakeknya sudah pernah mengatakan kalau putra bungsu dari Kiai Kurdi ini kelak akan menjadi seorang tokoh besar dalam hal keilmuan dan kewalian.

 

Kiai Armia lahir di Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, dusun kecil yang berada di tengah hutan pegunungan lereng gunung Slamet sekitar tahun 1830-an. Tidak lama setelah kelahirannya, bapaknya, Kiai Kurdi meninggal dunia. Jadilah Kiai Armia anak bungsu yang yatim.

 

Ada cerita bahwa semasa kecil Kiai Armia tinggal bersama paman dan bibinya. Kegiatan sehari-harinya mencari rumput dan kayu bakar di hutan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu terus berlanjut sampai beliau dewasa. Suatu hari di kala sedang mencari rumput dan kayu bakar di tengah hutan, beliau mendengar suara lantunan ayat Al-Qur'an. Setelah didekati ternyata suara itu berasal dari seorang laki-laki yang sedang duduk di atas batu. Dengan tenang beliau lama terdiam menikmati keindahan lantunan ayat-ayat suci itu. Dari pengalaman itu muncullah keinginan dalam hati untuk menuntut ilmu agama. Setelah membicarakan dengan paman dan bibinya akhirnya diputuskanlah kalau beliau akan berangkat mondok dan mencari ilmu.

 

Menurut salah satu riwayat, tempat pertama yang beliau singgahi adalah Kesuben, Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Setelah itu Sumpyuh, Banyumas dan berlanjut ke Tegal Gubug, Cirebon dan Lemah Duwur, Kabupaten Tegal. Di dua tempat terakhir beliau menimba ilmu kepada sosok ulama yang keduanya bernama Kiai Anwar. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Kiai Armia menimba ilmu dari banyak guru yang tak terhitung jumlahnya, namun kebanyakan adalah wali mastur (ditutup/tidak nampak kewaliannya). Dalam belajar, setelah dirasa cukup oleh gurunya maka beliau selalu diantarkan menuju ke guru yang lain dan terus berlanjut demikian.

 

Kiai Armia kembali ke kampung halaman setelah pencarian ilmu ketika usianya mencapai 60-an tahun. Sekembalinya ke Cikura beliau menikah dengan Nyai Aliyah. Itupun menurut salah satu riwayat-beliau baru berkenan menikah apabila sudah mendapat perintah dari Rasulullah SAW dan dipilihkan pasangannya.

 

Perjuangan Kiai Armia dalam penyebaran Islam tidak diragukan lagi. Selain mendirikan masjid di Desa Cikura sebagai pusat peribadatan dan pengembangan keilmuan, beliau juga mendatangi pelosok-pelosok kampung untuk mengajarkan ilmu agama. Dengan berjalan kaki beliau masuk keluar hutan demi membina umat Islam di wilayah Tegal dan Pemalang bagian selatan. Terbukti sampai saat ini di banyak desa yang terhitung tidak dekat dengan Cikura masih mengakui bahwa penghidup Islam disana adalah Kiai Armia.

 

Kiai Armia wafat pada Rabu, 1 Mei 1935 atau bertepatan dengan 27 Muharram 1354. Beliau berpulang meninggalkan putra putri yang kemudian melanjutkan perjuangan membina umat Islam. Di antara putra putri yakni Kiai Said, Kiai Abdul Khaliq, Kiai Sanadi, Nyai Aminah, dan Kiai Rois. Di samping itu Kiai Armia juga meninggalkan pondok pesantren yang beliau dirikan dengan nama Pondok Pesantren at-Tauhidiyyah yang masih terus berkembang hingga saat ini di bawah asuhan cucu beliau KH Ahmad Sa'idi dan KH Muhammad Hasani.

 

Demi memperingati hari kemangkatan Kiai Armia, setiap tanggal 27 Muharram selalu diadakan haul di Pesantren at-Tauhidiyyah Cikura. Acara dilaksanakan dengan pembacaan mudhoriyah, ratib, khatmil Qur'an, istighotsah dan rauhah di malam hari. Dilanjutkan pagi harinya acara dimulai dengan pembacaan Dalailul Khoirat dan maulid nabi hingga dilanjutkan dengan ziarah makam serta tahlil dan pengajian umum.

 

Di masa Habib Husen Bin Muhammad Bin Ali Al-Haddad masih kecil, beliau menghadiri haul di Cikura. Setiba di area kediaman KH Said, beliau mengikuti terus arah KH Said berjalan. Saat itu, sepanjang perjalanan di area pegunungan dengan berliku-liku, Cikura yang sangat indah dengan kesuburan tanahnya menghijau tanaman di sisi kiri kanan menyejukkan mata. Tanaman yang sedang berbuah adalah tanaman jeruk. Di mana-mana terhampar tanaman jeruk dengan buah yang sangat lebat. Begitu juga di pekarangan dan halaman penduduknya dipenuhi lebatnya tanaman jeruk yang ranum.

 

Habib Husen kecil pun menginginkan jeruk, ”Kiai Said saya pengen jeruk, Kiai Said,” katanya sambil menunjuk kearah tanaman jeruk. “Oh sampeyan pengen jeruk Bib? Kalau sampeyan pengen, sebentar lagi jangan yang ini, nanti di sana ya,” jawab KH Said sambil mengalihkan menuju ke tempat lain.

 

Berjalanlah keduanya agak jauh. Hingga tiba di sisi tanah dengan tanaman jeruk yang sangat lebat. “Bib, itu tanaman jeruknya. Bila Habib pengen jeruk, ambillah semau Habib,” kata KH Said.

 

“Iya kiai?,” tanya Habib Husen kecil kegirangan dan seakan tak percaya.

 

“Iya Bib,” jawab KH Said.

 

Dengan sigap gembira memetiklah beberapa buah jeruk cukup banyak dan dibawa pergi untuk menuju kediaman KH Said kembali. Setiba di sana, Habib Husen kecil menikmati buah jeruk yang baru dipetiknya. Beliau merasakan rasa yang teramat lezat nikmat yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dengan lahapnya karena nikmat tiada tara.

 

Satu demi satu akhirnya jeruk pun habis. Namun Habib Husen kecil masih ingat jalan arah dimana tanaman jeruk yang amat lezat ini berada. Beliau pun beringsut menuju ke sana. Toh sudah mengantongi izin dari KH Said untuk mengambil semaunya. Tengak tengok dicarinya tanaman yang tadi dipetiknya, ternyata tidak ada. Sambil mengingat kembali dan yakin jika tadi di situlah berada, namun pohonnya sudah tidak ada.

 

Berlarilah kembali menuju KH Said, ”Kai, saya tadi menuju pohon jeruk yang tadi saya petik, namun sudah tidak ada. Mengapa tidak ada kiai?,” tanya Habib Husen kecil.

 

“Bukankah tadi saya sudah pesan Bib, ambillah yang banyak. Kalau sekarang ya sudah tidak ada," jawab Kiai Said

 

“Mengapa kiai?,” tanya Habib Husen kecil penasaran.

 

“Sebab yang tadi adalah hadiah tanaman jeruk dari syurga. Kalau sekarang ya sudah tidak ada lagi, ya bagaimana lagi,” jelasnya.

 

Pondok Pesantren Syekh Armia Cikura
            

Entah mengapa sebuah pesantren yang terletak di lereng bukit di pegunungan Slamet di Desa Cikura Kecamatan Bojong kabupaten Tegal dinamakan Pondok Pesantren Syekh Armia. Pesantren ini berdiri di bawah naungan Majlis Ta’lim Aqou’idudin. Terbukti ada tulisan yang cukup besar yang terdapat di atas pintu masuk aula di sana. Memang benar dalam sejarahnya, pesantren tersebut masih terdapat hubungan erat dengan Pesantren At-Tauhidiyyah Giren yang dahulunya hanya dikenal dengan pondok Giren saja, asuhan KH Abu Ubaidah. Pesantren Syaikh Armia adalah sebuah pesantren yang dimiliki oleh ayahanda KH Sa’id, sepeninggalannya KH Armia, pesantren tersebut diteruskan oleh putra beliau yaitu Kiai Rois dan diteruskan kembali oleh KH Sanadi adik dari KH Sa’id sendiri hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1984 M. 

 

Dahulunya Pesantren Syekh Armia hanya sebuah rumah yang memang sering digunakan untuk pengajian para santri juga warga sekitar. Tapi seiring berjalannya waktu, pondok ini pun mendapatkan perubahan yang cukup segnifikan. Pada tahun 1992 KH Ahmad mulai membangun lagi pesantren yang telah fakum ini dengan mengadakan kegiatan pengajian di pesantren tersebut. Pada mulanya pengajian dilaksanakan pada setiap malam Jumat manis yang dilaksanakan di rumah lugu, sebelum diadakannya Jumat kliwonan hingga tahun 1997 M. Gerak langkah beliau di Cikura tidak sendirian, melainkan ditemani oleh sepupu beliau yaitu Gus Hasanudin, putra KH Sanadi. Saat masa-masa pembebasan tanah warga yang terdapat di sekitar pesantren. Ketika beliau ingin memperluas area pesantren, cekcok mulut, cacian dan lain sebagainya merupakan beberapa cobaan yang beliau alami ketika itu. 

 

Dengan penuh perjuangan akhirnya setelah beberapa tahun warga sekitar pun mau pindah ke tanah tersebut, ada yang tanahnya hanya dibeli saja, ada yang hanya ingin dipindahkan namun minta dibuatkan rumah yang lebih bagus dan lain sebagainya. Beliaupun mengiyakan permintaan warga-warga tersebut, karena sang kiai tidak bisa berdomisili lama di pesantren Cikura ini, maka di tahun 1993  beliau mengamanahkan keberadaan pesantren ini pada salah satu murid ayahandanya, yaitu Kiai Bisri.
            

Waktu demi waktu orang-orang lebih mengenal pesantren yang dahulunya dinamakan Pondok Syekh Armia dengan sebutan Pesantren At-Tauhidiyyah Cikura. Biarpun tulisan Majelis Ta’lim Aqo’iqudien Pondok Syaikh Armia masih terpampang di atas pintu masuk aula timur di sana. Sangatlah maklum karena pewaris juga pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Cikura dan di Giren pada masa sekarang adalah orang yang sama yaitu KH Ahmad Sa’idi serta adik beliau KH Muhammad Hasani.

 

Makam Kramat Syekh Armia bin Kiai Kurdi
            

KH Armia memang bukanlah orang biasa, bukti cukup jelas adalah ketika setelah kewafatan beliau dalam jarak beberapa waktu. Bermula pada cerita seorang habib di daerah Jawa Timur yang melihat pancaran cahaya di ufuk barat yang menjulang tinggi ke langit, sang habib pun penasaran, cahaya apakah itu? Tanya habib dalam hati. Kemudian sang habib dengan hati penasaran dan keingintahu yang tinggi, beliau memutuskan untuk mencari sumber cahaya itu, akhirnya beliau melakukan rihlah atau perjalanan dari tempat satu ke tempat lain, dari kota satu ke kota lain hingga akhirnya sampailah beliau di desa terpencil di balik bukit-bukit di antara lebatnya hutan, yaitu Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. 

 

Sesampainya beliau disana beliau kaget serta tercengang ternyata pancaran cahaya yang dilihatnya itu bukanlah pancaran cahaya sebuah lampu melainkan pancaran cahaya yang terpancar keluar dari sebuah makam kramat. Akhirnya beliaupun bertanya pada warga sekitar tentang siapakah yang terdapat dalam makam Kramat ini? Dijawab beliau adalah KH Armia, akhirnya beliaupun berziarah pada makam tersebut hingga diberi pertolongan oleh Allah SWT untuk bisa berbincang-bincang dengan sahibul maqom, terjadilah tanya jawab antara sohibul maqam dan sang habib. 

 

“Assalamu’alikum wahai sahibul maqam, siapakah anda?” Tanya habib, sang kiai menjawab “Wa’alaikum salam warahmatullah, saya Armia. Anda siapa?” “Saya Abdullah Al-Habsyi dari Pasuruan Jawa Timur, saya datang kemari karena melihat sebuah pancaran cahaya yang sangat terang di ufuk barat yang ternyata cahaya itu bermuara disini,” jawab habib. Kemudian sang habib kembali bertanya “Mengapa makam sang kiai tersebut bercahaya? Amalan apa yang anda lakukan sehingga memiliki kedudukan seperti ini,”. Setelah lama waktu berjalan akhirnya sang habib mendapatkan jawaban yang cukup puas, kendati demikian sang habib tetap penasaran akan jawaban tersebut, jawabannya adalah bahwa sang kiai mendapatkan derajat seperti ini karena kegigihannya mengajari bab Thaharah (sesuci) pada masyarakat, juga tentang ilmu-ilmu syarat/rukun shalat serta mengajarkan ilmu tauhidnya Al-Imam As-Sanusi. 

 

Setelah itu sang habib memohon kepada sang kiai agar beliau berkenan mengajari ilmu-ilmu yang dimaksud oleh kiai itu pada sang habib. Tetapi sang kiai menjawab bahwa beliau itu telah istirahat, malah beliau menyuruh habib tersebut untuk mendatangi putra beliau KH Said di Giren. Diijabahilah saran sang kiai oleh habib tersebut. Setelah beberapa waktu kemudian pergilah sang habib ke rumah KH Sa’id di Giren, sesampainya beliau disana beliau menceritakan tentang semua kejadian yang telah beliau alami hingga perjalanannya sampai ke Giren, kemudian sang habib meminta kepada Kiai Said agar supaya makam KH Armia atau ayahandanya di hauli setiap tahun karena beliau ini kekasih Allah (seorang wali).

 

Maka dari itu pada setiap tanggal 27 Muharram haul KH Armia diadakan di Desa Cikura. Kendati demikian acara haul yang sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang semakin banyak dikunjungi oleh banyak orang, baik dari dalam maupun luar kota, serta dari dalam maupun negeri, baik tamu sipil maupun sipatnya kenegaraan, pengunjung yang asalnya ratusan hingga sekarang di setiap acara khaul tersebut dihadiri lebih dari puluhan ribu pengunjung. 

 

Kontributor: Tahmid
Editor: M Ngisom Al-Barony