Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Jadi Korban Covid Setelah Divaksin, Ini Penjelasan Kepala Dinkes Semarang

Jadi Korban Covid Setelah Divaksin, Ini Penjelasan Kepala Dinkes Semarang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, HM Abdul Hakam (baju putih) dalam Bahtsul Masail Pra Korfercab PCNU Kota Semarang. (Foto: NU Online Jateng/Rifqi Hidayat)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, HM Abdul Hakam (baju putih) dalam Bahtsul Masail Pra Korfercab PCNU Kota Semarang. (Foto: NU Online Jateng/Rifqi Hidayat)

Semarang, NU Online Jateng

Ramai khalayak mempertanyakan vaksinasi Covid-19. Hal ini terkait dengan kasus orang yang meninggal dunia akibat virus corona setelah mengikuti vaksinasi.

 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, HM Abdul Hakam menjelaskannya saat menjadi narasumber kegiatan Bahtsul Masail Diniyah Pra Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang di Aula Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Selasa (27/7).

 

"Yang menyebabkan meninggal itu bukan vaksinnya, tapi karena orang itu sudah terpapar Covid terlebih dahulu," ungkapnya.

 

"Orang terkena Covid itu paling cetha welo-welo adalah batuk pilek, apalagi kalau sudah tidak bisa mencium, 95 persen pasti positif (Covid)," tegasnya.

 

Hakam mengatakan, setiap orang yang akan divaksin harus dites kesehatan atau sudah melakukan isolasi terlebih dahulu. Hal itu, untuk memastikan bahwa orang tersebut aman dan siap untuk divaksin. Dia contohkan kegiatan di SMPN 1 Semarang, terdapat 12 anak yang tidak divaksin karena positif Covid-19. "Karena itu ada screening sebelum divaksin," jelasnya.

 

Dijelaskan Hakam, vaksin itu virus yang sudah dilemahkan, jadi dampak yang dirasakan orang yang divaksin itu lebih lemah dari yang dirasakan orang yang terpapar Covid. Dengan adanya vaksinasi jumlah penderita Covid dapat ditekan.

 

"Vaksin terbukti menurunkan angka kesakitan dan kematian di Kota Semarang, saya tidak ngomong di kota lain, terbukti di Kota Semarang," kata dia.

 

Dokter yang berlatar belakang santri Futuhiyyah Mranggen Demak ini melanjutkan, lansia menjadi target vaksinasi tahap awal karena berdasarkan statistik, angka kematian akibat Covid-19 tertinggi dari usia 55 tahun ke atas. "Lansia begitu terpapar Covid, banyak yang tidak tertolong," bebernya.

 

Selain vaksin, Hakam juga menyoroti masih tingginya aktivitas masyarakat sebagai penyebab persebaran virus Corona belum terputus. "Sosialisasi sudah berjalan baik, vaksinasi saat ini juga sudah berjalan, tapi mobilitas masih tinggi, PPKM Darurat efektif menurunkan angka orang terpapar Covid-19," tegasnya.

 

Ketua Panitia Konfercab Abdul Rohman mengatakan, forum bahtsul masail diniyah dalam konteks ini memiliki posisi penting. Sebab bahstul masail merupakan bentuk respons NU sebagai organisasi sosial dan keagamaan terbesar di Indonesia terhadap problematika sosial keagamaan.

 

Dia jelaskan, problematika selalu bermunculan seiring dengan kehidupan manusia. Padahal teks-teks keagamaan yang berupa Al-Qur'an dan hadits nabi sudah berhenti, sementara persoalan yang muncul tidak selalu ada dalil eksplisit. Bahkan kalaupun ada dalil keagamaan yang eksplisit, namun seringkali berbeda konteksnya dikarenakan ada perbedaan ruang dan waktu.

 

Dari itu ia menilai perlunya sebuah kaidah dalam instinbathul hukmi (menetapkan hukum) dapat menjelaskan bahwa taghayyur al-ahkaam bit taghayyuril amkaan waz zamaan wal-ahwaal (perubahan hukum/fatwa/produk suatu keputusan itu bisa berubah dikarenakan adanya perubahan tempat, waktu dan keadaan) bisa didudukkan.

 

Karena itu, lanjut dia, memerlukan diskusi intensif, dan mendalam untuk merespons kesenjangan-kesenjangan atau persoalan-persoalan tersebut. "Dalam hal ini masyarakat jadi bagaimana hukum vaksinasi, dan paham apa yang harus dilakukan oleh pengelola masjid di masa PPKM darurat ini," ringkasnya.

 

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Ahmad Hanan