Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Ngumpulkan 'Balung Pisah' Ide dan Gagasan Mbah Ahmad Abdul Hamid Kendal

Ngumpulkan 'Balung Pisah' Ide dan Gagasan Mbah Ahmad Abdul Hamid Kendal
Almaghfurlah KH Ahmad Abdul Hamid Kendal (Foto: NU Online)
Almaghfurlah KH Ahmad Abdul Hamid Kendal (Foto: NU Online)

Kiai Haji Ahmad Abdul Hamid Kendal adalah tokoh Nahdlatul Ulama yang berasal dari Kendal, Jawa Tengah adalah seorang Pengasuh Pesantren Al-Hidayah Kendal sekaligus Imam Masjid Besar Kendal. Beliau adalah pencetus dibangunnya Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta merupakan seorang sahabat dari KH Wahid Hasyim.


Tokoh yang menggagas lahirnya silaturahim 'Ngumpulke Balung Pisah' ini adalah sosok yang begitu rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen penting NU. Salah satu yang sangat rapi disimpannya adalah dokumen-dokumen Buletin LINO (Lailatul Ijtima’ Nahdatoel Oelama). Selain itu, Kiai Ahmad adalah juga seorang atlet olahraga yang baik dan pernah membawa obor api PON Mrapen. 


Gagasannya menjaga kerukunan masyarakat tampak dalam realisasi ide silaturahim Ngumpulke Balung Pisah adalah wadah agar masyarakat senantiasa rukun dan tidak kepaten obor silaturahim yang tercerai berai karena persoalan politik yang berdampak langsung kepada warga NU di struktural maupun kultural termasuk yang aktif di partai politik. Maka, agenda 'ngumpulkan balung pisah' yang dikemas dalam agenda halal bihalal hingga kini masih terus dilestarikan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng.


Kealiman dan reputasi pribadi beliau yang wara’ dan zuhud terpancar dari sikapnya yang ketika menjabat sebagai Ketua MUI Jawa Tengah enggan menggunakan mobil plat merah. Kiai Ahmad menggunakan mobil pribadi, tapi lebih sering naik bus umum. Sehingga pernah terlambat acara rapat gara-gara bus umumnya ditilang oleh polantas karena pelanggaran. 


Selain pernah menjadi Ketua MUI Jawa Tengah, Kiai Ahmad juga menjadi Rais PWNU di provinsi yang sama, setelah sebelumnya menjadi Rais PCNU Kendal. Adiknya, KH Wildan Abdul Hamid, yang wafat pada 2016, juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI Kendal, dan mustasyar PWNU Jawa Tengah. Soal reputasi keilmuan, beliau dikenal sebagai penulis dan penerjemah andal. Lainnya? sebagai arsipatoris yang tekun. Baik arsip penting Nahdlatul Ulama, maupun dokumen Buletin LINO (Lailatul Ijtima’ Nahdatoel Oelama) dan Berita NO, media yang terbit di era 1930-an. 


Ketekunan ini ditulari sahabatnya, KH Abdul Wahid Hasyim. Kebetulan keduanya berusia 'sepantaran'. Persahabatan keduanya tidak lapuk meski berpisah alam, karena Gus Dur juga beberapa kali sowan Kiai Ahmad dan menempatkan beliau dalam jajaran mustasyar di periode kepengurusannya. Kiai Ahmad Abdul Hamid sebagai Penulis Kitab. Ada banyak kitab yang telah ditulis oleh Kiai Ahmad, baik dalam bahasa Indonesia, Jawa maupun Sunda. Mayoritas beraksara arab pegon. Hal ini membuktikan penguasaan beliau yang mendalam dalam berbagai cabang keilmuan, juga pemahaman yang mendalam terhadap beberapa bahasa tersebut. 


Selain menjadi muallif, Kiai Ahmad juga menerjemahkan kitab lain. Di antara penerbit yang telah menyebarkan karyanya adalah Pustaka Alawiyah, Maktabah al-Munawwar, Karya Toha Putra, ketiganya di Semarang; Menara Kudus, dan Maktabah Miftahul Ulum Kendal. 


KH Ahmad Abdul Hamid adalah salah satu sosok kiai unik yang pernah ada. Di manakah letak keunikan beliau? Ya, di samping beliau adalah sosok Kiai yang mumpuni dan pakar dalam ilmu-ilmu agama—dan itu terbukti dari banyaknya karya-karya berupa kitab yang lahir dari buah pemikiran beliau—ternyata beliau juga adalah seorang olahragawan. Terlebih lagi adalah sepak bola yang merupakan salah satu olahraga favorit beliau semenjak kecil. 


Bahkan dalam satu kesempatan, beliau tidak segan-segan untuk menerima tawaran para pejabat di Kabupaten Kendal agar beliau mau menyambut kedatangan api PON XI, untuk lalu membawanya dengan berlari dari depan pendopo kabupaten Kendal, sampai sejauh 1 km. Oleh karenanya, tak aneh jikalau kemudian beliau juga menduduki jabatan penasehat KONI dati II Kendal. Di samping juga mendapatkan predikat sebagai bapak angkat gerak jalan.


Salah satu wakaf Mbah Yai Ahmad untuk umat ini adalah ucapan penutup pidato wabillahi taufiq wal hidayah. Konon kalimat ini diucapkan beliau pertama kali di Magelang, dan kemudian dicopy paste seluruh ulama di Nusantara hampir tanpa kecuali. Hingga kemudian, ulama di luar NU juga ikut memakai kalimat tersebut.


Akhirnya, pada saat pertemuan ulama-ulama di Kendal, beliau memperkenalkan penutup kalimat baru, yakni: wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq. Dan ternyata kalimat ini juga seperti menjadi kalimat yang diamini dan diadopsi oleh seluruh ulama NU di Nusantara hingga detik ini. Lahu Al-Faatihah


Penulis: M Ngisom Al-Barony

Editor: Samsul Huda

// centerMode:true,