Home Warta Obituari Keislaman Opini Taushiyah Fragmen Madrasah Pesantren Tokoh Sosok Mitra Kiai NU Menjawab

Apakah Kaki Kiri 'Mutanajjis' karena Terkena Air Basuhan Kaki Kanan yang Sedang Disucikan?

Apakah Kaki Kiri 'Mutanajjis'  karena Terkena Air Basuhan Kaki Kanan yang Sedang Disucikan?
Ilustrasi
Ilustrasi

Assalamu'alaikum war wab
Kepada Yth Pengasuh Kanal Kiai NU Menjawab
Mohon tanya kiai. Kalau kita mensucikan najis di salah satu anggota badan (misalkan kaki kanan) dengan cara membasuhnya, lalu air basuhannya mengenai kaki kiri, apakah kaki kiri juga termasuk najis? 
Atas jawaban kiai, kami sampaikan terima kasih.
Wassalamu'alaikum war wab
(Hamba Allah)

 

Jawaban:


Wa'alaikum salam war wab


Pertama-tama perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa najis terbagi menjadi 3 (tiga):

1.    Najis mughalladhah
2.    Najis mukhaffafah
3.    Najis mutawassithah

 

Najis mutawassithah terbagi menjadi 2 (dua):

1.    Najis ainiyyah
2.    Najis hukmiyyah

Najis ainiyyah adalah najis yang masih ada warna, bau atau rasanya. Cara mensucikannya adalah dengan menghilangkan benda najis, warna, bau dan rasanya.


Najis hukmiyyah adalah najis yang sudah tidak ada warna, bau atau rasanya. Cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada tempat/benda yang terkena najis secara merata. 


Penjelasan di atas merujuk pada keterangan Syekh Salim bin Sumair al Hadlromy sebagai berikut: 


النجاسات ثلاث :مغلظة و مخففة و متوسطة
والمتوسطة تنقسم على قسمين: عينية و حكمية ، العينية التي لها لون وريح وطعم فلا بد من إزالة لونها وريحها وطعمها والحكمية التي لا لون ولا ريح ولا طعم  يكفيك جري الماء عليها. (سفينة النجا 40)

 

Artinya: “ Najis itu ada 3 (tiga ) macam  1. Najis mughalladhah 2. Najis Mutawassithah 3. Najis mukhaffafah. Najis mutawassithah terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu : 1. Najis ‘Ainiyyah 2, Najis hukmiyyah. Najis ainiyyah adalah najis yang masih ada warna, bau atau rasanya. Cara mensucikannya adalah harus dengan menghilangkan warna, bau atau rasanya. Najis hukmiyyah adalah najis yang sudah tidak ada warna, bau atau rasanya. Cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada tempat/benda yang terkena najis secara merata. ” (lihat Syekh Salim bin Sumair al Hadlromy, Safinatun Naja, hal. 40.) 

 

Dalam kajian ilmu Fiqh bab “Najasah” ada pembahasan husus tentang ghusalatul mutanajjis (air bekas basuhan yang telah digunakan untuk mensucikan tempat/benda yang terkena najis). Hukum ghusalatul mutanajjis diperinci sebagai berikut: 


Jika air bekas basuhan itu sedikit (qalil), maka hukumnya suci namun tidak mensucikan dengan tiga syarat sebagai berikut:


1.    Tempat/benda yang dibasuh telah suci dengan hilangnya najis dan sifat-sifatnya.
2.    Air bekas basuhan tidak berubah.
3.    Air bekas basuhan tidak bertambah, setelah memperkirakan air yang diserap oleh tempat/benda yang dibasuh dan setelah memperkirakan kotoran (reget) suci yang terbawa air basuhan.

 

Apabila salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka air bekas basuhan hukumnya mutanajjis.


Jika air bekas basuhan itu banyak (katsir), maka air bekas basuhan hukumnya suci mensucikan dengan satu syarat saja, yakni air bekas basuhan tidak berubah.


Penjelasan di atas merujuk pada keterangan Syekh Zainuddin al-Malibary sebagai berikut:


غسالة المتنجس - ولو معفوا عنه كدم قليل - إن انفصلت وقد زالت العين وصفاتها، ولم تتغير ولم يزد وزنها - بعد اعتبار ما يأخذه الثوب من الماء والماء من الوسخ - وقد طهر المحل طاهرة .قال شيخنا ويظهر الاكتفاء فيهما بالظن. (فتح المعين : 22(

 

Artinya: “Air bekas basuhan untuk mensucikan tempat/benda yang terkena najis walaupun najisnya di-ma’fu seperti darah yang sedikit, apabila airnya telah terpisah sedangkan najis dan sifat-sifat najis telah hilang, airnya tidak berubah dan tidak bertambah setelah memperkirakan air yang diserap oleh pakaian yang disucikan serta kotoran yang terbawa oleh air dan tempat yang dibasuh suci, maka hukum air bekas tersebut adalah suci. Syaikhina Ibnu Hajar berkata: ’Memperkirakan air yang diserap oleh pakaian yang disucikan serta kotoran yang terbawa air cukup dengan dugaan (dhan)." (lihat, Syekh Zainuddin al Malibary, Fathul Mu’in, hal. 22).  


Penjelasan di atas terangkum dalam keterangan Sayyid Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha sebagai berikut: 


وحاصل الكلام عليها أنها إن كانت قليلة يحكم عليها بالطهارة بقيود ثلاثة : طهر المحل، وعدم تغيرها، وعدم زيادة وزنها بعد اعتبار مقدار ما يتشربه المغسول من الماء وما يمجه من الوسخ الطاهر. فإن فقد واحد من الثلاثة بأن لم يطهر المحل أو طهر ولكن كانت متغيرة، أو لم تكن متغيرة ولكن زاد وزنها بعد ما ذكر، فهي نجسة كالمحل لان البلل الباقي في المحل بعض الغسالة المنفصلة والماء القليل لا يتبعض طهارة ونجاسة . وإن كانت كثيرة يحكم عليها بالطهارة بقيد واحد وهو عدم التغير فإن كانت متغيرة فهي نجسة. (حاشية إعانة الطالبين : 1/ 116)

 

Artinya: “Kesimpulan pembahasan air bekas basuhan yang telah digunakan untuk mensucikan tempat/benda yang terkena najis adalah sebagai berikut: jika air bekas basuhan sedikit, maka air bekas basuhan tersebut dihukumi suci namun tidak mensucikan dengan tiga ketentuan sebagai berikut:

1.     Tempat/benda yang dibasuh telah suci.
2.    Air bekas basuhan tidak berubah.
3.    Air bekas basuhan tidak bertambah setelah memperkirakan air yang diserap oleh tempat yang disiram (dibasuh) dan memperkirakan kotoran (reget) suci yang terbawa air.

Jika satu dari tiga ketentuan tersebut tidak terpenuhi, seperti tempat/benda yang disiram air belum suci, atau sudah suci tapi air bekas basuhannya berubah, atau air bekas basuhannya tidak berubah namun bertambah setelah mempertimbangkan hal tersebut di atas, maka airnya dihukumi mutanajjis sebagaimana masih najisnya tempat/benda yang terkena najis. Alasannya, basah-basah air yang masih berada di tempat tersebut adalah sebagian dari bekas air yang terpisah. Sedangkan air yang sedikit (qalil) tidak bisa dibagi-bagi dengan ketentuan sebagian suci dan sebagian lainya mutanajjis. Jika air bekas basuhan adalah air yang banyak (katsir), maka air bekas basuhan tersebut dihukumi suci dengan satu ketentuan, yakni air bekas basuhannya tidak berubah.  Jika air bekas basuhan berubah, maka dihukumi mutanajjis.” (lihat Sayyid Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin), juz 1, hal. 116). 


والأظهر طهارة غسالة قليلة تنفصل بلا تغير وقد طهر المحل " لأن البلل الباقي على المحل هو بعض المنفصل فلوكان المنفصل نجسا لكان المحل كذلك فيكون المنفصل طاهرا لا طهورا لأنه مستعمل في خبث - أما الكثيرة فطاهرة ما لم تتغير وإن لم يطهر المحل كما علم مما مر في باب الطهارة ( مغني المحتاج :1/ 85)

 

Artinya: “Qoul Al Adhhar menyatakan: ‘Sucinya air bekas basuhan yang sedikit setelah air terpisah tanpa berubah, sedangkan tempat/benda yang terkena najis telah suci, sebab basah-basah air yang berada ditempat/benda tersebut adalah sebagian dari air yang terpisah, maka apabila air yang telah terpisah itu najis, tentunya tempat/benda yang dibasuh juga masih najis. Oleh karenanya, air yang terpisah tersebut dihukumi suci namun tidak mensucikan karena air tersebut telah dipakai untuk menghilagkan najis. Adapun jika air bekas basuhan itu banyak maka hukumnya suci selama air tidak berubah walaupun tempat yang dibasuh belum suci” (lihat syekh Muhammad khathib as Syirbiny, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 85). 


Dari seluruh penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa air bekas basuhan yang mengenai kaki sebelah kiri sebagaimana pertanyaan di atas hukumnya diperinci sebagai berikut :

 

1.    Air bekas basuhan yang mengenai kaki kiri hukumnya suci namun tidak mensucikan (musta’mal) jika najisnya adalah najis hukmiyyah, sehingga kaki kiri hukumnya juga suci (tidak mutanajjis).

 

2.    Jika najisnya ainiyyah maka air bekas basuhan hukumnya suci namun tidak mensucikan (musta’mal) apabila memenuhi tiga syarat diatas, sehingga kaki kiri yang terkena air bekas basuhan hukumnya suci (tidak mutanajjis). Jika ada satu syarat dari tiga syarat diatas tidak terpenuhi, maka air basuhan yang mengenai kaki kiri hukumnya mutanajjis. Ini  berarti kaki kirinya juga mutanajjis.


Dalam permasalahan ini kita asumsikan bahwa air bekas basuhan yang mengenai kaki kiri adalah air yang sedikit (qalil). Wallahu a’lam.


Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu alaikum wr wb

 

KH Zaenal Amin, Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Tengah.